
Patriark Zu Haikuan tidak kekurangan akal, di tengah kepanikannya ia kemudian berkata.
"Apakah kau tidak takut dengan sesepuh Sekte Perisai Api?" Zu Haikuan mengandalkan Zu Kai, kedekatannya dengan sesepuh tersebut sudah mengantarkan dirinya menjadi Ketua Sekte.
Mendengar perkataan Patriark, semua orang yang semula terdiam kini mulai merasakan ketenangan. Mereka semua jelas mengetahui sosok pelindung kekaisaran yang berada di Akademi Kekaisaran tersebut.
"Oh.. Sesepuh Zu Kai, kita lihat saja apa yang bisa ia lakukan sebentar lagi" sambil berkata demikian, Lei Tian mendongakkan kepalanya ke atas langit.
Qin Qian dan juga Xue Meilin terperangah, ia tidak menduga jika Lei Tian menyebutkan nama leluhur mereka dengan begitu santai. Siapapun pendekar di seluruh wilayah Kekaisaran tidak ada yang berani menentang keberadaan empat pelindung.
"Tuan Putri, sepertinya lelaki pilihanmu terlalu mengerikan" ucap Xue Mei yang kini mulai gemetar.
Qin Qian hanya terdiam, ia juga sangat khawatir atas keselamatan Lei Tian. Meskipun ia sangat kuat, namun berhadapan dengan sesepuh pelindung Kekaisaran adalah hal yang berbeda.
Patriark Zu Haikuan terpaku mendengar ucapan dari pemuda yang belum ia ketahui namanya tersebut. Namun tiba-tiba ia merasakan energi yang sangat kuat berada di sekitarnya, wajah tua yang familiar pun mulai dapat ia lihat di atas udara.
Pria berjubah putih dengan terpaan angin membuatnya terkesan berwibawa. Kehadiran sesepuh Zu Kai pada saat ini telah membuat Patriark dan putranya kembali bisa tersenyum, harapan terbesar mereka sudah tiba membantu mereka.
"Aku tidak menyangka jika kehadiran diriku telah menarik perhatian sesepuh" Lei Tian berkata sambil melayang ke udara, berhadapan dengan Pendekar Keabadian membuatnya tidak menahan kekuatannya.
Lagi-lagi seluruh orang tercengang melihat kemampuan Lei Tian yang dapat melayang di udara, posisinya kini sangat jelas saling berhadapan dengan sesepuh Zu Kai.
"Siapa namamu anak muda?" tanya Zu Kai dengan hati-hati.
"Nama saya Lei Tian, saya berasal dari Klan Lei Kota Chengdu" jawab Lei Tian dengan formal, seperti pada umumnya ia memperkenalkan diri.
Hanya saja, penyebutan namanya telah membuat kegaduhan, seperti bom yang baru saja diledakkan membuat keonaran di hati setiap orang dari Sekte Perisai Api. Lei Tian yang dikabarkan meninggal kini hadir di hadapan mereka semua dengan kekuatan yang benar-benar menakutkan.
__ADS_1
Patriark Zu Haikuan seperti orang bodoh, pada saat ini seluruh harapannya tiba-tiba hancur. Ia jelas menyadari jika kekuatan pemuda tersebut sudah setingkat dengan para sesepuh, meratakan Sekte Perisai Api seperti yang dikatakan oleh Tetua sebelumnya adalah bukan suatu yang mustahil.
"Oh...Menarik, sepertinya namamu tidak asing" ucap sesepuh Zu Kai sedikit penasaran.
"Lebih tepatnya aku berasal dari Sekte Belati Merah" ucap Lei Tian, bersamaan dengan itu sebuah melati melayang di dekatnya.
"Ternyata kau orang yang baru saja membuat kegaduhan kemarin" ucap Zu Kai sambil meningkatkan kewaspadaannya.
"Betul, atas bimbingan Kakek Akong aku adalah orang yang sesepuh maksud" jawab Lei Tian dengan tenang.
Menurut penglihatannya kekuatan sesepuh Zu Kai tidak lebih kuat dari Akong, sehingga ia memiliki keyakinan tinggi bisa mengalahkan sesepuh Zu Kai apabila terjadi pertarungan.
Mendengar nama sahabatnya disebutkan, seketika membuat Zu Kai sedikit khawatir. Berhadapan dengan pemuda di depannya saja ia tidak memiliki kepercayaan, apalagi jika berhadapan dengan Akong yang selama ini sudah mengasingkan diri.
Namun melihat Belati Merah kesayangan Akong ada di tangan pemuda tersebut sudah membuktikan jika identitas pemuda ini sangat luar biasa, Akong tidak akan sembarangan memilih penerusnya. Apalagi penerus yang ia pilih masih sangat muda, bibit yang sangat menakutkan dan tidak bisa dibayangkan perkembangannya di masa depan.
"Baiklah" jawab Lei Tian singkat.
Lei Tian tidak mungkin memulai, pertarungan dirinya dengan sesepuh Zu Kai bukanlah hal yang bisa ditanggung dampaknya, selain menimbulkan dampak kerusakan yang parah juga dapat menarik perhatian pendekar Keabadian lainnya.
Keduanya lalu turun ke permukaan tanah, seperti dewa yang turun ke bumi keduanya tampak berkarisma dengan aura yang sangat tenang, namun pada saat ini tidak ada satupun suara yang keluar dari mulut orang-orang yang menyaksikan.
Para murid Sekte Perisai Api jelas sangat ketakutan, keterkejutan mereka atas kehadiran Lei Tian tidak bisa mereka sembunyikan. Cerita tentang gunungan mayat di Provinsi Liang sangat membekas di hati semua orang, bahkan kejadian tersebut hampir mengubur nama besar Jenderal Shio Mei.
"Apa yang kau inginkan?" tanya sesepuh Zu Kai kepada Lei Tian.
"Sederhana, dua orang itu saja" jawab Lei Tian singkat, jarinya menunjuk ke arah Zu Haikuan dan juga Zu Feng.
__ADS_1
Ayah dan anak itu sudah ditargetkan oleh Lei Tian, maka tidak ada yang bisa menyelamatkan keduanya.
"Baik, itu saja?" tanya sesepuh Zu Kai lagi.
Sesepuh Zu Kai tidak punya nilai tawar pada saat ini, membiarkan pemuda di depannya mengacau hanya membuat ia kehilangan lebih banyak.
Namun berbeda halnya dengan Zu Haikuan dan juga putranya, hanya ketakutan tak berujung yang kini mereka rasakan. Bahkan sesepuh yang ia andalkan pun tidak dapat melawan sosok pemuda yang tidak diduga kedatangannya.
"Jangan biarkan peristiwa hari ini tersiar" jawab Lei Tian dengan santai.
Masih banyak hal yang ia harus lakukan, menyembunyikan kehadirannya dan memberikan kejutan kepada musuh adalah tindakan penekanan kepada lawan yang tidak pernah terduga.
"Boooommm"
"Boooommm"
Hanya sesaat bagi sesepuh Zu Kai untuk menghabisi dua orang keturunannya, sebagai orang yang mengenal Zu Haikuan ia tidak segan-segan menghabisinya demi Lei Tian.
Ia bisa merasakan kewarasan pemuda tersebut saat menunggu dirinya datang, sebagai tokoh senior Zu Kai tentu memahami penghormatan yang diberikan oleh Lei Tian. Jika tidak, maka sudah dari awal pemuda tersebut menghabisi dua orang yang sudah ditargetkannya tersebut.
Selanjutnya Zu Kai memandang ke arah dua orang Tetua yang tersisa, seolah memberikan kode agar menuruti perkataan Lei Tian.
"Sampaikan salam ku buat Akong, aku juga menunggu kedatangan dirimu di Kota Miayang" ucap sesepuh Zu Kai kepada Lei Tian.
"Terimakasih sesepuh, hal ini tentu akan aku sampaikan kepada kakek Akong" jawab Lei Tian dengan hormat.
Setelah mengatakan hal itu, tubuh tua Zu Kai sudah menghilang diantara tatapan semua orang. Hanya Lei Tian yang bisa melihat pergerakan tubuh sesepuh pelindung kekaisaran tersebut.
__ADS_1