Legenda Pendekar Abadi

Legenda Pendekar Abadi
Berakhirnya Daftar Murid Teratas


__ADS_3

Lei Tian melangkah demi selangkah menuju ke arah tubuh para lawannya yang kini sudah tidak berdaya, setiap kedatanganya akan membawa perasaan yang mencekam di hati tujuh orang Pendekar Raja tersebut.


'Bugh"


"Aarrgghh"


"Bugh"


"Aarrgghh"


"Bugh"


"Aarrgghh"


Satu persatu tubuh mereka ditendang dengan keras oleh Lei Tian. Dalam waktu yang tidak jauh berbeda, tubuh enam orang murid berperingkat itu terhempas ke luar panggung pertandingan.


"Brak"


"Brak"


"Brak"


Tubuh mereka terhempas dengan keras, beberapa tulang mereka patah akibat hantaman dari Lei Tian yang begitu keras.


Di atas panggung menyisakan Wu Ching yang menatap Lei Tian penuh keputusasaan.


"Bukankah kamu yang selama ini berada di balik pemerasan terhadap para murid?" ucap Lei Tian begitu dingin.


"Aku menyerah ..." Wu Ching ingin mengatakan hal itu agar pertandingan bisa dihentikan. Namun sial, gerakan kaki Lei Tian lebih cepat dari bibir Wu Ching yang belum sempat terangkat.


"Bugh"


"Jangan kau pikir akan mudah kabur dari sini, tidak ada hal baik seperti itu di dunia ini" ucap Lei Tian yang sudah mengetahui akan tindakan Wu Ching.


Wu Ching kini terluka cukup parah, kekuatan dan gerakannya menjadi semakin melemah. Memanfaatkan keadaan ini, Lei Tian kembali melakukan serangan.


Sebuah pukulan yang kuat dan dialiri Qi yang besar bersarang di dada Wu Ching.


"Aarrgghh" teriak Wu Ching dengan mata melotot menahan kesakitan.


"Di masa depan, jika aku masih melihatmu bertindak demikian maka aku tidak akan segan-segan untuk melepaskan nyawamu" ucap Lei Tian diikuti dengan sebuah tendangan keras.

__ADS_1


Tubuh Wu Ching seketika meluncur dengan deras ke salah satu sudut bawah panggung, beberapa murid yang sedang menyaksikan segera bergeser untuk membiarkan tubuh Wu Ching terluka dan menyemburkan darah segar.


Tidak ada yang bersimpati pada Wu Ching, apalagi dia dan kelompoknya sudah menderita dengan habis-habisan terkena serangan dari Lei Tian.


Segera suara riuh memenuhi ruangan pertandingan, penonton yang semula terdiam kini tampak tahu siapa yang memberi komando mereka berteriak dengan antusias seolah merayakan kebebasan.


Para penonton berteriak penuh semangat, apalagi mereka yang selama ini telah dirugikan oleh kelompok Wu Ching, mereka benar-benar larut dalam euforia kegembiraan atas kekalahan kelompok Wu Ching.


"Anak itu adalah berkah langit yang dikirim oleh dewa untuk menyelamatkan kita" ujar salah seorang murid menatap haru ke arah Lei Tian.


Sementara Yun Zixin dan Shan Yuze saling tatap penuh tidak kepercayaan.


"Melawan tujuh orang murid berperingkat sekaligus dalam waktu singkat apakah ia masih layak dikatakan murid luar?" pikir kedua sahabatnya dengan tatapan tidak percaya.


Penatua Fan Guo dan Diaken yang memimpin jalannya pertandingan juga saling tatap, mereka tidak mengira jika pertandingan ini akan berakhir dengan penuh kejutan.


"Pemenangnya adalah Lei Tian" ucap Diaken tersebut dengan senyum terpaksa.


Walau bagaimanapun ia adalah orang yang mengharapkan jika Lei Tian kalah dengan telak pada pertandingan kali ini.


Baru saja pengumuman itu disampaikan, sosok tubuh ramping segera melesat ke tengah pertandingan. Shui Qing dengan tatapan tajam kini berada di depan Lei Tian.


"Aku yang akan menjadi lawanmu sekarang" ucap Shui Qing memecah hiruk-pikuk arena pertandingan.


"Lei Tian akan celaka kali ini" gumam Yun Zixin dengan cemas.


Sebelumnya ia masih diliputi rasa kebanggaan, namun saat Shui Qing maju ke arena pertandingan maka dengan cepat ekspresi wajahnya berubah.


Di Paviliun murid luar kekuatan tingkat Pendekar Kaisar bukanlah lawan yang bisa dihadapi begitu saja, jarak kekuatan antara Pendekar Raja saja untuk memasuki ranah Pendekar Kaisar setidaknya membutuhkan waktu sekitar tiga sampai lima tahun dengan sumberdaya yang cukup.


Shui Qing dan kakaknya bisa dikatakan sebagai murid jenius pada saat ini. Dengan usianya yang masih di bawah dua puluh tahun mereka sudah bisa menyentuh level murid dalam. Umumnya mereka yang bisa memasuki Paviliun murid dalam adalah mereka yang berusia sudah di atas dua puluh tahun atau biasa disebut dengan murid senior.


Seolah membiarkan Lei Tian kelelahan, Diaken yang memimpin jalannya pertandingan segera bersuara kembali.


"Kalian sudah bisa memulai pertandingan"


Shui Qing langsung mengeluarkan belatinya dari balik pinggangnya, pada waktu sebelumnya ia sudah berencana ingin menghabisi Lei Tian dalam sekali serangan.


Di sudut yang berbeda, Lei Tian mengernyitkan matanya menatap Shui Qing yang tampak ganas.


"Apakah kau yakin ingin menggunakan senjata untuk bertarung melawanku?" ucap Lei Tian.

__ADS_1


"Kenapa? Apakah kau takut? Jika kau takut, masih ada waktu untuk berlutut dan menyerah" ucap Shui Qing dengan angkuh.


"Pada saat pertama kita bertemu di tempat ini, ada yang ingin aku sampaikan atas penilaian ku terhadapmu" ujar Lei Tian dengan santai.


"Kau yang tidak berani menunjukkan keahlian berani menilai ku? Konyol" ujar Shui Qing dengan senyum mencibir.


Shui Qing tentu teringat akan kesan pertama saat bertemu Lei Tian di Aula utama saat pengajaran Penatua Fan Guo, atas hal itu juga Lei Tian dihukum oleh Aula Kedisiplinan.


"Salahku saat itu membiarkanmu terlalu jumawa dengan keterampilan buruk mu dan kau terlalu bodoh atas pujian dari seorang lelaki tua" ucap Lei Tian tanpa menahan diri.


"Apa?"


Ketika Lei Tian berkata seperti itu, Shui Qing dan yang lainnya tercengang. Terutama Penatua Fan Guo yang dibilang sebagai lelaki tua.


Di bawah panggung pertandingan, semua penonton menjadi hening, sebagian mulutnya ternganga dan kaget. Mereka tidak mengira jika Lei Tian akan seberani itu menilai keterampilan Shui Qing, orang yang sudah dikenal luas sebagai salah satu sosok murid jenius bersama kakaknya.


"Kurang ajar! Apa yang kau bilang tadi?" tanya Shui Qing dengan nada penuh kemarahan.


"Keterampilan dalam menggunakan belati sangat payah" Lei Tian mengulangi perkataannya dengan santai.


"Booomm"


Shui Qing sudah tidak bisa menahan amarahnya, sehingga aura Pendekar Kaisar meledak dari dalam tubuhnya.


Pakaian yang dikenakan Shui Qing tampak berkibar diterpa oleh kekuatan tak kasat mata yang berhembus di sekitar tubuhnya.


"Luar biasa"


"Sangat Keren"


Seru beberapa orang penonton saat melihat tubuh cantik Shui Qing yang berada di atas panggung.


Wajah Shui Niao terlihat serius, baru kali ini ia melihat adiknya marah seperti itu.


Di sisi lainnya ekspresi Lei Tian tetap tenang namun tangan kanannya sudah menggenggam belati yang akan dia gunakan untuk menyerang Shui Qing.


Saat berikutnya seperti terdengar desingan udara, tubuh Lei Tian sudah bergerak menuju Shui Qing.


"Woosh"


Gerakannya sangat cepat hingga aura dari dalam tubuh Lei Tian tidak terasa.

__ADS_1


Dari kejauhan, Penatua Fan Guo menggeleng tidak percaya. Ia jelas mengetahui jurus yang kini digunakan oleh Lei Tian adalah teknik yang ia ajarkan sendiri di tempat ini.


"Tahap sempurna" gumam Penatua Fan Guo di dalam hatinya.


__ADS_2