Legenda Pendekar Abadi

Legenda Pendekar Abadi
Panglima Perang Wanita Yang Kejam


__ADS_3

Sementara itu Lei Tian dan Gong Dun terus memacu kudanya tanpa henti, selama seharian mereka berpacu di jalan yang mengarah ke perbatasan. Saat malam hampir tiba, mereka tetap melanjutkan perjalanan tanpa mengurangi kecepatan. Jarak pandang yang diterangi oleh cahaya bulan membuat perjalanan mereka semakin bersemangat.


Entah sudah berapa kota yang sudah mereka lalui, namun tidak membuat Lei Tian tertarik untuk mampir. Hanya di tempat tertentu ia beristirahat untuk memberi makan kudanya agar tetap terjaga staminanya. Sesuai rencananya mereka akan tiba di perbatasan saat pagi menjelang, jadi Lei Tian tidak ingin membuang kesempatan dengan sia-sia.


Ketika tiba di Provinsi Jianxu, mulai melihat pergerakan masyarakat yang sudah membawa barang pribadi mereka. Sepertinya mereka sudah mulai diungsikan dan meninggalkan wilayah yang bersinggungan dengan perbatasan. Pemerintahan Kekaisaran Qin bersikap antisipatif untuk meminimalisir korban jiwa sejak dini.


"Tuan muda, apakah kita akan tetap melanjutkan perjalanan atau beristirahat di Desa terakhir" ucap Gong Dun menawarkan pilihan.


"Kita lanjut saja, apakah kau sudah lelah?" tanya Lei Tian.


"Tentu saja tidak Tuan muda, di depan kita adalah desa terakhir. Setelah enam jam ke depan kita baru akan tiba di Gerbang Timur, selama waktu itu juga kita hanya melintasi wilayah perbukitan" ungkap Gong Dun.


"Kita tetap lanjutkan saja, sesaat sebelum tiba di Gerbang Timur barulah kita akan beristirahat sejenak" ucap Lei Tian.


"Baik Tuan muda" jawab Gong Dun sambil memacu kudanya.


Tanpa ada yang tahu tentang identitasnya, dua orang tersebut membelah kegelapan malam dengan tekad membara. Di dalam hati Lei Tian sudah tertanam semangat berperang, sudah tak terhitung pemandangan orang-orang yang kesusahan akibat peperangan yang terjadi di perbatasan.


Jarak antara Lei Tian dengan rombongan Akademi Kekaisaran berkisar setengah perjalanan, hal ini dikarenakan kuda yang digunakan oleh Lei Tian secara perorangan. Meskipun Lei Tian tidak mengetahui tentang keberadaan rekan-rekannya yang berada di belakangnya, ia hanya berharap dapat melewati pertempuran dengan lancar tanpa banyak korban jiwa.

__ADS_1


Jika berbicara tentang peperangan, maka korban jiwa memang tidak dapat dihindari. Hanya saja dengan kemampuan yang dimiliki Lei Tian, ia merasa jika berperang adalah panggilan jiwa yang harus ia penuhi. Dari awal ia ingin menjadi kuat adalah untuk melindungi orang-orang terdekatnya, meski awal mulanya ia berpikir hanya tentang ibunya. Namun perjalanan waktu telah membuatnya berpikir dewasa, jika hidup bukanlah mengenai seberapa banyak ia mengenal orang, melainkan seberapa besar ia bermanfaat bagi orang banyak.


Pada waktu yang bersamaan, di Gerbang Timur atau wilayah perbatasan dengan Kekaisaran Wei sedang berlangsung rapat penting. Jenderal Shio Mei sekaligus panglima perang wanita, memimpin jalannya pertemuan tersebut dengan penuh ketegasan dan ambisi untuk memenangkan pertempuran.


"Besok kita akan melakukan penyerbuan ke wilayah musuh, kita harus mempersempit jarak dengan mereka dan tidak hanya diam saja menunggu musuh datang"


Tiga puluh lima orang anggota pasukan elit serta dua orang Jenderal lainnya yang hadir mendengarkan dengan serius, mereka tidak melewatkan sepatah katapun ucapan yang keluar dari mulut Shio Mei.


"Sambil menunggu kehadiran peserta ujian yang baru, maka Jenderal Shen Hua akan mendampingi mereka untuk selanjutnya bergabung dengan pasukan elit lainnya yang sudah berjalan terlebih dahulu" ucap Shio Mei dengan tegas.


Jenderal Shen Hua hanya mengangguk pelan tanda setuju, dalam hal ini ia akan bertanggungjawab atas utusan yang baru saja datang nantinya.


Sementara tiga puluh lima orang pasukan elit hanya bisa menelan ludahnya, keringat dingin di punggung mereka perlahan mengalir. Apa yang direncanakan oleh Jenderal Shio Mei terlalu mengerikan, hal ini tentu saja seperti mengadu nyawa dengan ribuan jumlah pasukan Kekaisaran Wei.


Jenderal Shio Mei membagi perintah, setelah mendengar laporan dari mata-mata yang ia kirimkan maka pertempuran besar sudah tidak bisa ia hindari lagi. Apalagi selama satu bulan terakhir, ia sudah berada di tempat ini dengan konsentrasi tenaga dan pikiran yang membuatnya lelah.


"Baik Panglima" ucap Jenderal Zhengzhou.


"Sekarang kalian bersiaplah karena besok pagi kita akan mulai bergerak" ucap Shio Mei dengan tegas.

__ADS_1


Setelah Shio Mei meninggalkan tempat pertemuan, pasukan elit yang ada tidak langsung pergi. Mereka tampak saling pandang dengan wajah menahan kengerian, mereka memikirkan tentang apa yang baru saja direncanakan oleh Shio Mei dengan menjadikan pasukan elit sebagai tameng hidup. Melakukan serangan terbuka sambil membuka jalan ke jantung pertahanan musuh adalah tindakan yang sangat nekat.


Meskipun pasukan elit mayoritas berada di ranah dewa, namun pihak musuh juga tidak kalah lebih kuat. Mereka juga memiliki sederet pendekar tingkat dewa yang bahkan lebih banyak dari jumlah yang dimiliki oleh pasukan Kekaisaran Qin. Alasan itu pula yang membuat mereka percaya diri untuk menaklukkan kekaisaran Qin, mereka bertujuan merebut Provinsi Jianxu yang terkenal dengan sumberdaya alamnya yang melimpah.


Provinsi Jiangxu sendiri berada di bawah perlindungan Sekte Teratai Ungu, di Kota Hefei keberadaan Sekte Teratai Ungu sangat disegani, olah karena itu wajar saja muridnya yang bernama Li Yifei yang merupakan jenius muda merasa tinggi hati.


"Menurutku Shio Mei adalah Panglima perang wanita yang kejam" ujar seorang anggota pasukan elit yang sudah tidak bisa menahan diri.


"Hati-hati jaga bicaramu" balas yang lainnya memperingatkan.


"Apa yang dikatakan oleh teman kita tidak salah, kupikir memang Jenderal Shio Mei hanya akan memanfaatkan nyawa kita sebagai tumbal" timpal yang lainnya.


"Benar itu.."


"Ya.. Memang demikian menurut pendapatku juga"


Satu persatu mereka mulai menyuarakan isi hatinya, mereka kebanyakan tentu tidak setuju dengan ide dari Shio Mei tersebut.


Kendati demikian, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menjalaninya. Walau bagaimanapun juga secara personal mereka bertanggungjawab atas tiga puluh ribu orang pasukan biasa, mereka memiliki wibawa yang tinggi serta ditempatkan secara khusus sebagai pasukan elit Kekaisaran Qin.

__ADS_1


"Sudahlah mari kita bersiap saja, pertempuran besok pagi akan segera terjadi. Setidaknya kita adalah pahlawan bagi rakyat kita" ucap salah satu dari mereka menenangkan situasi.


Apa yang dikatakan oleh orang tersebut cukup mempengaruhi pikiran rekan-rekannya, meski mereka adalah refresentasi dari Sekte masing-masing namun jika dikaitkan dengan rakyat maka hati nurani mereka masih bisa berpikir logis.


__ADS_2