
"Jaga pandanganmu, wanita itu bukanlah wanita biasa. Ia adalah Penatua Akademi Kekaisaran sekaligus panglima perang yang memimpin peperangan kali ini" ucap Mu Jiao memperingatkan Lei Tian.
"Pantas saja ia terlihat dingin, hanya saja aku tampak tidak asing dengan orang tersebut, sekilas ia mirip seseorang" ujar Lei Tian berterus terang.
"Sudahlah, buang saja jauh-jauh pemikiran mu. Ia adalah wanita yang kejam, oleh karena itu pula Kaisar Qin Lau begitu mempercayainya" ucap Mu Jiao kemudian.
"Kau benar, mungkin aku hanya salah kira saja" ujar Lei Tian menyudahi rasa penasarannya.
Beberapa saat kemudian semuanya sudah hadir lengkap, namun perhatian Shio Mei masih tertuju pada Lei Tian yang sangat luar biasa. Entah mengapa ada kekhawatiran tertentu di dalam dirinya.
"Karena semuanya sudah lengkap, silahkan kalian memisahkan diri menjadi enam kelompok"
Pada saat ini terdengar suara Jenderal Shio Mei yang mulai mengatur sebelum keberangkatan, tanpa menunggu lama setiap orang langsung berhamburan dan bersatu ke dalam kelompok Meraka yang terbentuk secara naluriah.
"Baiklah, sekarang sudah saatnya kita berangkat" ujar Shio Mei sambil melompat ke atas kuda.
Detik berikutnya semua anggota pasukan elit mengikuti hal yang dilakukan oleh Jenderal wanita tersebut, cahaya matahari pagi menebarkan semangat berperang mereka semua menuju wilayah musuh.
Setelah Gerbang Timur dibuka, ekspresi pasukan elit menjadi rumit. Di bawah pimpinan Jenderal Shio Mei, mereka mulai bergerak dengan pedang terhunus. Tiga puluh enam orang terbagi menjadi enam kelompok kecil, setiap kelompok terdiri atas susunan pendekar secara acak. Semuanya diatur berdasarkan kedekatan, jadi diharapkan bisa lebih mudah untuk berkoordinasi. Lei Tian sendiri berada satu kelompok dengan Mu Jiao, mereka semua adalah orang-orang yang berasal dari latar belakang yang sama, yakni Sekte Belati Merah.
Pasukan elit menggunakan kuda terbaik untuk mendukung aksi mereka, selain untuk menghemat tenaga menggunakan kuda saat berperang sangat berguna untuk menghemat waktu. Jenderal Shio Mei sebagai panglima perang memimpin dengan menggunakan kuda hitamnya, hal ini menghilangkan kesan feminimnya dan menjelma menjadi satria berpedang yang gagah perkasa.
"Maju...!!"
__ADS_1
Suara Jenderal Shio Mei memekik keras, dalam sekejap aba-aba darinya memecut semangat orang-orang yang berada di belakangnya.
Suara derap langkah kuda terdengar bersahutan, antara satu dengan yang lainnya bergerak maju menuju wilayah musuh. Meskipun kini mereka sudah memasuki wilayah Kekaisaran Wei, tidak ada niat untuk mundur kembali pulang.
Pasukan Kekaisaran Wei yang sudah siap menyambut kehadiran pasukan elit Kekaisaran Qin segera bergerak mengerahkan ratusan ribu personil. Mereka menerapkan strategi dasar untuk menguras energi para petarung pasukan elit lalu melumpuhkan mereka semua dengan mudah.
Di bawah langit biru, pemandangan Lei Tian dengan hasrat bertarungnya tiba-tiba muncul dan bertambah kuat, cahaya pedang spiritual yang dipegangnya seolah menyingkap keberadaan seorang pendekar yang menentang langit.
Untuk menghadapi para prajurit yang berjumlah ribuan tersebut Lei Tian segera mengangkat pedang spiritualnya. Bersama-sama dengan yang lainnya tubuh Lei Tian mendahului mereka semua dan bergerak seperti hantu menerjang ke arah musuh.
"Hah?"
Mu Jiao dan kelompoknya terbelalak, adik juniornya melesat begitu cepat. Dalam pandangannya tubuh Lei Tian hanya meninggalkan bayangan semu di atas kuda, sementara tubuh lainnya sudah berada di depan musuh.
"Teknik tubuh ilusi"
Jenderal Shio Mei yang memperhatikan gerakan Lei Tian segera mendekatkan dirinya pada jarak pandang yang akurat. Ia terkejut jika seorang pemuda begitu terampil dalam seni kecepatan tubuh, bahkan gerakannya melampaui para senior Akademi Kekaisaran. Secara pribadi ia ingin mengetahui kekuatan pemuda yang telah menarik perhatiannya sejak awal tersebut.
Lei Tian tidak memiliki banyak teknik berpedang, selain teknik tebasan kematian warisan Klan Lei sisanya adalah teknik belati dengan serangan cepat. Namun pada situasi seperti ini, hanya dengan pedang ia bisa membantai musuh-musuhnya dengan cepat dan efektif.
"Zlash"
"Zlash"
__ADS_1
"Zlash"
Lei Tian bergerak dengan sangat cepat, setiap ia bergerak maka akan ada tubuh prajurit yang terbelah menjadi dua. Tanpa henti ia bergerak kesana kemari menyabetkan pedangnya, bahkan setiap saat gerakannya semakin bertambah cepat membuat ratusan prajurit di pihak musuh tumbang seperti kapas yang berhamburan.
"Bukankah itu pemuda yang baru datang beberapa waktu yang lalu?" ucap salah seorang pasukan inti.
Ia adalah orang yang pertama kali menyapa Lei Tian ketika tiba di kemah. Melihat aksi pemuda yang ia remehkan, tiba-tiba seluruh tubuhnya merinding tidak karuan.
"Hati-hati, sebelumnya kau pernah menyinggungnya" ucap temannya setengah berbisik.
Sebagai seorang kultivator yang baru saja masuk ke ranah Pendekar Dewa, ia tentu bisa merasakan adanya perbedaan diantara mereka. Seulas senyum kecut terlukis di wajah masamnya, ia tidak menduga jika orang yang sudah ia remehkan ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa.
Dari jarak dua kilometer, pasukan pemukul yang berjumlah delapan ratus ribu orang mulai bergerak dari gerbang timur. Mereka menyusul pasukan elit yang sudah bergerak duluan pada gelombang pertama, dengan kekuatan rata-rata di pendekar tingkat praja mereka bertugas menghancurkan kelompok prajurit dari tingkat musuh.
Di bawah komando Jenderal Zhengzhou, mereka berangkat meninggalkan Gerbang Timur dengan penuh semangat membara. Sedangkan Gerbang Timur menyisakan dua ratus ribu orang pasukan pertahanan terakhir, mereka adalah pasukan pemanah yang sudah disiapkan di titik strategis.
Sementara itu Jenderal Shen Hua masih bertahan, sesuai perintah Jenderal Shio Mei ia menunggu kedatangan lima belas orang yang merupakan anggota baru Akademi Kekaisaran. Rencananya ia akan menyusul pasukan inti lainnya sambil memberi bimbingan kepada orang-orang yang baru bergabung tersebut.
Ada perasaan kesal di dalam hatinya, ia merasa sedikit bodoh dengan menunggu orang-orang yang baru saja bergabung di Akademi Kekaisaran. Memikirkan Lei Tian ia beranggapan seharusnya mereka semua bergerak cepat seperti pemuda yang beberapa saat lalu ia perhatikan.
Hampir tiga jam menunggu, akhirnya kereta kuda yang membawa lima belas orang murid Akademi Kekaisaran tiba di Gerbang Timur. Tanpa membuang waktu, lima orang prajurit segera menjemput mereka dan mengarahkannya kepada Jenderal Shen Hua yang sudah sedari tadi menunggu.
"Kalian terlambat sekali tiba di sini, apakah kalian pikir ini hanya permainan"
__ADS_1
Bukannya kata sambutan yang mereka terima melainkan makian dari seorang pria paruh baya, Lin Bao dan yang lainnya tertegun sejenak sebelum akhirnya mereka sadar apa yang terjadi.
"Belajarlah seperti teman kalian yang bernama Lei Tian, sebelum kami berangkat ke medan pertempuran ia sudah bergabung dengan para senior yang sudah berada di sini" ucap Jenderal Shen Hua yang tengah emosi tersebut.