Legenda Pendekar Abadi

Legenda Pendekar Abadi
Perkembangan Baru


__ADS_3

Selama enam bulan terakhir berada dalam kultivasi tertutup, Lei Tian mulai merasakan kekuatannya bertambah kuat. Energi alam yang berada didalam tubuhnya berhasil dimurnikan dengan baik. Pada saat ini ia merasakan keinginan untuk menerobos, butiran keringat dingin sudah menetes dari dahi dan punggungnya.


Melihat fenomena ini, Akong hanya tersenyum lalu berkata.


"Sebaiknya kau menahan diri, kuatkan fondasi tubuhmu agar energi tersebut dapat berguna di saat kau sedang kritis"


Lei Tian yang masih memiliki kesadaran dapat mendengar perkataan dari Akong, bimbingan dari Akong tersebut berusaha ia cermati dengan baik. Mengingat peristiwa hampir tewasnya dirinya di tangan Jenderal Shio Mei telah membuatnya berubah pikiran, tanpa menunggu lama ia segera mengubah aliran energi tenaga dalamnya.


"Atur napas mu, biarkan mengalir dengan tenang. Kendalikan kekuatan mu dan jadikan dirimu sebagai tuan rumah di dalam tubuhmu sendiri"


Akong terus memberikan pelajaran kepada Lei Tian, bimbingannya pada saat ini sangat berharga bagi Lei Tian yang sedang memusatkan tenaga dalam. Dengan segudang pengalamannya, kini Akong mengerahkan perhatiannya untuk Lei Tian.


Dengan bakat yang dimiliki oleh Lei Tian seharusnya tidak masalah jika harus menunda terobosan, dari segi apapun kekuatan Lei Tian sudah di atas kewajaran.


Energi yang besar yang berada di dalam tubuh Lei Tian, ia tekan dan padatkan menjadi butiran energi yang kemudian ia salurkan ke dalam sumsum tulang Naganya, hal ini ia lakukan sebagai antisipasi jika dirinya mengalami kelelahan. Meskipun saat ini ia merasakan Naga Petir di dalam lautan kesadarannya semakin aktif, ia tidak mau gegabah memberi penilaian terhadap tubuhnya sendiri.


"Bocah cerdas" gumam Akong memuji Lei Tian.


Lei Tian yang semula kewalahan kini mulai berangsur tenang, energi di dalam tubuhnya kian bisa ia kendalikan dengan bantuan teknik kultivasi Naga Petir. Proses yang lumayan menyita waktu tersebut akhirnya bisa ia lewati dengan lancar, tak ada keraguan lagi bagi dirinya untuk mengikuti arahan dari Kakek Akong.

__ADS_1


Setelah merasa semuanya bisa dikendalikan Lei Tian segera membuka matanya, meskipun tidak mengalami kenaikan tingkat ia merasa energi ditubuhnya sangat besar. Menghabisi pendekar Tingkat Dewa sudah tidak perlu menggunakan teknik tubuh ilusi lagi, hanya dengan satu gerakan saja ia merasa sangat mudah menghabisi pendekar Tingkat Dewa.


"Kakek, bolehkah aku beristirahat sebentar untuk membersihkan diri?" tanya Lei Tian kepada Akong.


"Ya, tentu saja. Tubuh mu sepertinya sudah banyak mengeluarkan kotoran, membersihkan diri adalah tindakan yang tepat untuk membuat pori-pori mu terbebas dari sumbatan" jawab Akong.


"Terimakasih Kakek" ucap Lei Tian sambil bangkit dan keluar.


Tanpa membuang waktu, kini Lei Tian segera menuju sungai tempat pertama kali ia mandi. Entah mengapa setiap ia melihat jernihnya air, ia selalu ingat kedamaian di Desa Gunung Batu, tempat dimana ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang dari ibunya.


"Ibu, aku sangat merindukanmu" gumam Lei Tian dengan menahan kesedihannya.


Akong tidak ingin Lei Tian menjadi pendekar keabadian seperti Yang Mi dan Qin Zang. Sebelum masuk ke ranah keabadian, mereka sudah berkonflik. Sehingga kekuatan yang mereka dapatkan berikutnya tidak lepas dari perasaan dendam dan saling memusuhi.


"Apa kabarnya para sahabatku di Sekte?" ucap Lei Tian sambil memandang ke arah langit.


"Klan Lei, kuharap kalian baik-baik saja di sana" gumam Lei Tian.


"Aaahh... Segar sekali" seru Lei Tian yang tidak dapat menahan kebahagiaannya.

__ADS_1


Selama setengah tahun Lei Tian diam tak bergerak, tidak keluar dari kultivasinya. Merasakan kesejukan hari ini, ia benar-benar seperti orang biasa. Meskipun kultivator seperti dirinya sudah tidak terlalu bergantung pada nafsu keduniawian, namun ia masih merasakan kehidupan yang nyaman.


Selama beberapa jam Lei Tian tidak menahan diri, rasa dahaganya ia tumpahkan ke dalam setiap rendaman tubuhnya di dalam sungai. Hingga matahari berada di atas kepala, ia baru selesai dan kembali menuju Gua tempat Kakek Akong berada.


"Ha ha ha... Sepertinya kau benar-benar bisa menghargai hidup" ujar Kakek Akong setelah Lei Tian tiba.


Lei Tian yang sudah terlihat rapi hanya tersenyum ringan, namun di dalam hatinya ia tidak menolak sama sekali perkataan dari kakek Akong. Apa yang dikatakannya adalah suatu kebenaran, menikmati hidup adalah salah satu bagian yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Percuma saja menjadi kuat jika tidak bisa menikmati hidup, apalagi melewatinya dengan sia-sia.


"Kakek, sepertinya kekuatan yang kumiliki terasa semakin kuat, energinya juga sangat stabil. Apakah ini berarti aku telah merasakan tingkat yang berbeda?" tanya Lei Tian mencari jawaban yang mengganjal di dalam hatinya.


"Kau benar, hanya saja kekuatan tersebut sudah terintegrasi sebagai bagian tidak terpisahkan dari dalam dirimu. Tulang Naga yang kau miliki sangat luar biasa, biasanya proses ini akan memakan waktu hingga sepuluh tahun. Tetapi hanya enam bulan saja kau sudah bisa melewatinya, prestasi ini bahkan sudah melewati apa yang aku capai di masa lalu" ungkap Akong dengan tatapan penuh kebahagiaan.


"Tapi aku belum menerobos" ucap Lei Tian.


"Tidak apa-apa, aku tahu kondisi dirimu, bahkan jika hanya sekedar menerobos kau sudah bisa melakukannya dari tadi" ujar Akong dengan santai.


"Sebaiknya setelah makan siang kau sudah bisa melanjutkan kultivasimu, tetapi jangan lupa untuk meminum larutan spiritual yang sudah aku siapkan" ucap Akong sambil menyiapkan makanan untuk mengisi nutrisi.


Salah satu kelebihan di tempat ini adalah tersedianya tumbuhan langka yang berisi ribuan tahun, bahkan tanaman herbal tersebut menjadi harta tersembunyi kakek Akong. Untuk Lei Tian meningkatkan kekuatannya di masa depan tidak lah sulit.

__ADS_1


__ADS_2