
"Kak, apakah kau sudah mendengar jika anak baru itu sudah kembali?" tanya Shui Qing kepada kakaknya.
"Sepertinya kau tertarik dengannya?" ucap Shui Niao kepada adiknya.
"Bukan itu maksudku, bukankah ucapannya saat di Aula bela diri sungguh menyebalkan" ujar Shui Qing.
"Apakah anak itu layak mendapatkan perhatianku?" ucap Shui Niao sambil mengangkat kedua alis matanya.
"Lalu apakah kita akan membiarkan begitu saja mulut tajamnya? Setidaknya sebelum kita beralih menjadi murid dalam kita harus meninggalkan jejak di antara murid luar agar tidak ada yang menganggap remeh kita di masa depan" ucap Shui Qing dengan nada memprovokasi.
"Sebaiknya kita bertanya terlebih dahulu kepada Penatua Fan agar tidak dibilang sebagai penindas murid yang lemah" ujar Shui Niao.
"Baik kalo begitu aku akan menghubungi Penatua Fan Gui, jika memungkinkan maka aku akan langsung mendaftarkan nama kita berdua ke Aula Misi" ujar Shui Qing sambil berlalu meninggalkan kakaknya.
Sebagai dua orang wanita kakak beradik, Shui Qing dan Shui Niao merupakan dua orang murid yang mendapatkan perhatian khusus. Berbeda dengan beberapa murid wanita biasa yang tidak memiliki latar belakang seperti Shui Qing.
Hari ini para murid luar merasa beruntung dengan kedatangan Lei Tian, tindakan Tao Ming dan pengikutnya mengurungkan niat untuk merampas Batu Roh yang menjadi sumber daya mereka dalam meningkatkan kekuatan.
Di dekat Aula Perbendaharaan, wajah Tao Ming masih berekspresi sangat jelek. Setelah kedatangan Lei Tian ia tidak memiliki keberanian untuk menghadapinya, entah mengapa timbul rasa trauma di dalam dirinya saat melihat Lei Tian.
"Katakan kepada kelompok kalian, aku akan menghabisi daftar sepuluh murid pemeras sumberdaya di pertandingan antar murid luar" ucap Lei Tian kepada Tao Ming yang gemetar menahan takut.
"Apakah aku boleh meminta sumberdaya kalian?" tanya Lei Tian kepada kelompok Tao Ming.
Seorang Diaken yang sebelumnya hendak memisahkan pertikaian menjadi tercengang. Ia tidak mengira jika seorang murid baru akan memeras di depan matanya secara terang-terangan.
"Apa yang kau lakukan?" sergah Diaken tersebut.
__ADS_1
"Aku hanya meminta sumberdaya mereka dengan baik-baik, apakah aku terlihat sedang menindas?" ucap Lei Tian dengan santai.
Diaken tersebut terdiam lalu memandang ke arah Tao Ming dan beberapa orang pengikutnya.
"I.. Ini ambillah" ucap Tao Ming kepada Lei Tian sambil menyerahkan sebungkus kecil Batu Roh.
Beberapa pengikutnya juga memberikan batu tersebut dengan patuh mengikuti Lei Tian.
"Apakah kalian merasa terpaksa?" tanya Lei Tian dengan santai.
"Tidak.. Anggap ini sebagai ucapan perkenalan dari kami" ucap Tao Ming berusaha untuk bersikap tenang.
"Bagaimana apakah aku boleh menerima pemberian seseorang yang secara sukarela?" tanya Lei Tian kepada Diaken yang berada di dekatnya tersebut.
Diaken tersebut tidak dapat berkata apapun, mulutnya terasa kelu untuk berucap.
"Terimakasih, aku tidak akan melupakan kebaikan kalian" ucap Lei Tian yang tanpa sungkan menerima beberapa bungkus Batu Roh.
"Sepertinya setelah menjalani hukuman disiplin berat ia malah semakin berani" ucap seorang murid kepada murid lainnya.
"Padahal sepertinya ia hanya berada di ranah Pendekar Praja kenapa Tao Ming sangat ketakutan sekali?" ujar yang lainnya saat menyaksikan fenomena yang sama.
Lei Tian sengaja melakukan hal tersebut karena pada saat di Aula utama murid luar, petugas dari Aula Kedisiplinan dengan enteng mengatakan bahwa tidak ada murid yang melapor tentang perbuatan Tao Ming dan kelompoknya yang dikenal sebagai murid berperingkat. Oleh karena itu Lei Tian ingin menunjukkan hal yang sama dengan apa yang dikatakan oleh petugas dari Aula Kedisiplinan.
Dari kejauhan Shui Qing memperhatikan kejadian yang sama seperti para murid lainnya, tindakan Lei Tian yang begitu berani di depan seorang Diaken mulai menarik perhatiannya.
“Hahaha.. Pemuda itu benar-benar menarik” gumam Shui Qing yang tampak seumuran dengan Lei Tian.
__ADS_1
Setelah memperhatikan sebentar, Shui Qing segera menuju Aula Misi untuk mendaftarkan namanya dan juga kakaknya sebagai peserta pertandingan murid luar. Meskipun kekuatannya berada di atas rata-rata tetapi berkat arahan dari Penatua Fan Guo sebelumnya ia dan kakaknya diperbolehkan untuk ikut serta.
Bak gayung bersambut, hal ini juga memang yang diinginkan oleh Penatua Fan Guo yang sudah sepakat untuk taruhan bersama Penatua Song Gui.
Tidak lama waktu berselang Lei Tian segera menghampiri Yun Zixin dan Shan Yuze lalu berkata.
“Ayo kita pergi ke Aula Misi, aku ingin memastikan namaku yang sudah terdaftar pada pertandingan antar murid luar” ucap Lei Tian membuyarkan perhatian kedua sahabatnya.
“Iya, biar aku yang memimpin” ucap Yun Zixin yang sudah kembali dari keterkejutannya.
Tao Ming dan pengikutnya hanya memandang dengan menahan rasa malu dan kekecewaan, sementara Diaken yang berasal dari Aula perbendaharaan hanya menggeleng ringan atas ulah yang ditunjukkan oleh Lei Tian tadi.
“Tao Ming, kenapa kamu tidak melawannya?” ucap salah seorang pengikutnya.
“Apa yang terjadi hari ini benar-benar membuatku malu” ujar yang lainnya dengan kecewa.
“Kalian tenanglah, apakah kalian tidak bisa merasakan aura yang dikeluarkan oleh Lei Tian barusan?” tanya Tao Ming sambil menggertakkan gigi.
“Tidak, mungkin hawa tersebut hanya ditujukan kepadamu” jawab pengikutnya.
“Asal kalian tahu, satu bulan yang lalu aku berhadapan dengannya dan dibuat tidak berdaya. Tetapi hari ini, aku bisa merasakan aura menindas yang sangat kuat. Bahkan Wu Ching saja masih sangat jauh jika dibandingkan dirinya pada saat ini. Aku rasa kekuatannya sudah setara dengan para Diaken” ungkap Tao Ming dengan pandangan nanar.
Para pengikutnya merasa serba salah, mereka sudah mengikuti Tao Ming dalam jangka waktu yang lama. Tidak mungkin Tao Ming membohongi mereka dalam hal harga diri, apalagi di depan mata mereka Tao Ming sangat tulus memberikan sumber dayanya kepada Lei Tian.
Sementara itu Yun Zixin yang sedang mengarah ke Aula Misi berjalan dengan gagahnya, seolah membusungkan dada ia berada paling depan memunggungi Lei Tian. Melihat perilaku sahabatnya tersebut Lei Tian dan Shan Yuze hanya tersenyum ringan, baru kali ini mereka berdua melihat Yun Zixin berjalan dengan penuh percaya diri seolah sedang mengawal pangeran kerajaan.
Tidak lama kemudian mereka bertiga di ruang Aula Misi, seorang Diaken yang sedang sibuk karena kedatangan Shui Qing tidak memperhatikan kedatangan Lei Tian dan teman-temannya.
__ADS_1
“Lihat, namamu memang sudah terdaftar” ujar Yun Zixin kepada Lei Tian dengan penuh semangat.
Yun Zixin menunjuk ke arah papan misi yang bertuliskan daftar peserta pertandingan antar murid luar, nama Lei Tian memang benar berada pada urutan pertama sebagai peserta yang akan mengikuti pertandingan tersebut.