
Sementara itu di Istana Kekaisaran, Zhao Yusi masih terlihat jengkel atas peristiwa yang terjadi saat dirinya sedang latihan. Dua nama yang sangat sensitif baginya sudah dipermainkan begitu saja oleh Li Yifei, hal ini jelas sudah menggugah kekesalan di dalam dirinya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.
Perasaannya kepada Lei Tian sudah berusaha ia kubur dalam-dalam, bahkan demi melupakan pria tersebut Zhao Yusi harus membuka hati untuk lelaki lain. Walaupun berat dan terpaksa, akhirnya ia berhasil menjalani proses yang memilukan hati tersebut.
Pada saat yang bersamaan, Ratu Shio Mei yang mengetahui kondisi putrinya hanya bersikap cuek. Dengan taktiknya, ia hanya bisa mengaburkan pemikiran putrinya tersebut. Namun di dalam hatinya, Shio Mei sedang menyusun rencana untuk mempercepat pernikahan Zhao Yusi dengan Jenderal Yang Sheng.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Shio Mei kepada putrinya.
"Tidak ada, aku hanya sedang malas berlatih saja" jawab Zhao Yusi menyembunyikan kekesalannya.
"Ada saatnya tubuh juga perlu beristirahat, sebaiknya siang ini kau jalan-jalan saja keliling Kota. Sepertinya kau juga terlalu menyibukkan diri dalam berlatih, biarkan ibu yang meminta Yang Sheng untuk menemanimu" Shio Mei mulai menjalankan rencananya, mendekatkan putrinya dengan lelaki berbakat seperti Yang Sheng adalah harapannya.
"Baiklah Bu" jawab Zhao Yusi singkat, perasaannya yang sedang tidak baik-baik saja membuatnya membutuhkan suasana yang menyenangkan.
Tidak lama berselang, Zhao Yusi dan Yang Sheng akhirnya menjalani hari dengan berjalan keliling Kota Miayang. Meskipun usia mereka terpaut cukup jauh, namun masih terlihat pasangan yang serasi, apalagi keduanya merupakan pasangan terbaik yang ada di seluruh Kekaisaran pada saat ini.
Di tempat yang berbeda, Li Yifei yang masih terluka berusaha menyelamatkan Khu Ching. Menyadari jika sahabatnya terkena senjata rahasia dari Sektenya, membuat Li Yifei sangat khawatir sekaligus merasa bersalah. Jarum perak beracun adalah senjata terlarang, selain penawarnya yang sulit, racun tersebut juga dikenal sebagai senjata pembunuh yang menakutkan.
"Kau jangan bergerak dulu" ucap Li Yifei sambil melakukan tindakan penyelamatan.
Sebagai jenius Sekte Teratai Ungu, Li Yifei tentu tidak asing dengan racun mematikan yang baru saja diterima oleh Khu Ching. Li Yifei segera mencabut jarum perak tersebut, kemudian ia membuat sayatan dari titik dimana jarum itu menancap.
Dari dalam cincin penyimpanannya, Li Yifei kemudian mengeluarkan obat berbentuk serbuk lalu menaburkan di atas sayatan yang baru saja dibuatnya. Hanya murid sepertinya yang mengetahui metode penyembuhan dari racun mematikan yang terdapat pada jarum perak tersebut, jika terlambat sedikit saja maka nyawa Khu Ching bisa terancam.
"Aarrgghh"
__ADS_1
Teriak kucing menahan kesakitan, sensasi perih dan terbakar seketika membuat jantungnya seperti akan tertarik keluar.
"Bertahan lah, rasa sakitnya tidak akan lama" Li Yifei tahu jika kondisi Khu Ching tidak sedang baik-baik saja.
Khu Ching menggigit bibirnya, salah satu tangannya mencengkram pakaiannya karena saking sakitnya ia merasakan pengobatan yang baru saja dilakukan oleh Li Yifei.
Setelah beberapa saat tubuh Khu Ching mulai stabil, ia merasakan jika kondisi tubuhnya mulai membaik. Hanya luka-luka dari sisa hasil pertarungan saja yang masih tersisa, sambil istirahat ia juga meminum pil penyembuhan untuk menyembuhkan serta memberikan energi pengganti di dalam tubuhnya.
"Terimakasih" ucap Khu Ching dengan tulus.
"Kau seperti ini karena menyelamatkan diriku, kelak di masa depan aku tidak akan melupakan budi baikmu" ucap Li Yifei dengan sungguh-sungguh.
"Jika saja Ketua masih ada, tentu ia akan sangat cocok dengan dirimu?" ucap Khu Ching yang kelepasan bicara.
"Sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini, jangan sampai kelompok mereka yang lainnya menyusul" ucap Khu Ching sambil memperhatikan sekeliling, namun ia juga mengalihkan topik pembicaraan.
Sambil menahan rasa sakit yang mulai mengendor, Li Yifei mengangguk setuju. Benar apa yang dikatakan oleh Khu Ching, situasi saat ini masih belum stabil. Serangan musuh bisa kapan saja terjadi, apalagi dengan kondisi mereka yang sama-sama terluka membuat pihak musuh dengan mudah bisa menghabisi mereka.
"Paman, mari kita lanjutkan perjalanan" ucap Khu Ching kepada lelaki yang bertugas menjalankan kereta kuda.
"Baik Tuan pendekar" jawab orang tersebut yang dari tadi menahan ketakutan.
Tanpa membuang waktu mereka kemudian melanjutkan perjalanan memasuki perbatasan Kota Chengdu, kereta kuda yang mereka naiki bergerak dengan lebih cepat dari sebelumnya. Kondisi Khu Ching dan juga Li Yifei yang masih terluka sangat rawan jika harus menghadapi penyergapan lagi, hal itu hanya membuat mereka menyerahkan nyawa dengan sia-sia.
Selama dalam perjalanan mereka hanya terdiam, Khu Ching pun tidak banyak bicara meskipun ia ingin menanyakan identitas kelompok bertopeng yang menyerangnya. Saat ini ia hanya mengatur pernapasannya agar energinya cepat pulih, setelah meminum pil penyembuhan ia juga meminum ramuan yang tersedia di dalam botol penyimpanan.
__ADS_1
Setelah satu jam melanjutkan perjalanan akhirnya mereka tiba juga di Paviliun Ungu, tempat sekaligus Asosiasi yang menjadi rumah bagi orang-orang Sekte Belati Merah yang ada di perantauan.
Khu Ching dan juga Li Yifei langsung menuju pintu masuk, setelah turun dari kereta kuda mereka sudah tidak tahan untuk mendapatkan perawatan. Melihat tubuh Khu Ching yang berlumuran darah membuat penjaga Paviliun meningkatkan kewaspadaannya, apalagi pada saat bersamaan sedang banyak pengunjung yang sedang melakukan transaksi di dalam Paviliun.
"Tuan dan Nona, mohon maaf anda mau kemana?" tanya seorang penjaga dengan hati-hati.
Tanpa banyak membuang waktu, Li Yifei segera mengeluarkan token yang sebelumnya diberikan oleh Mu Jiao ketika di Akademi Kekaisaran.
Melihat token yang sama dengan pemilik Paviliun Ungu, membuat penjaga saling tatap dan pada akhirnya segera membawa masuk Li Yifei dan juga Khu Ching. Mereka segera diantar ke lantai tiga, tempat dimana tuan Mu Xianji berada.
"Tuan, mohon maaf kami membawa dua orang pemuda yang terluka. Jika dilihat dari pakaian yang mereka kenakan seharusnya mereka berasal dari Akademi Kekaisaran" ucap seorang penjaga kepada Mu Xianji sambil menunjukkan token dari Li Yifei.
"Apa yang terjadi?" ucap Mu Xianji dengan gusar, di Akademi Kekaisaran hanya keponakannya yang bernama Mu Jiao yang memegang token yang baru saja diberikan oleh penjaga.
"Mereka sepertinya habis bertarung, salah satu pria terluka parah, sementara seorang wanita tampaknya mengalami luka dalam" penjaga tersebut melaporkan dengan rinci berdasarkan penglihatannya.
"Bawa aku kepada mereka" ucap Mu Xianji dengan khawatir.
Segera setelah itu, Mu Xianji tiba di sebuah kamar yang terdapat Khu Ching yang sedang terbaring lemah. Sementara di salah satu sudut tampak Li Yifei yang sedang duduk.
"Bukankah kamu adalah utusan dari Sekte Belati Merah yang kini berada di Akademi? tanya Mu Xianji kepada Khu Ching, sebelumnya mereka pernah bertemu pada saat masa duka kematian Lei Tian.
"Benar Tuan" jawab Khu Ching singkat.
Perasaan Khu Ching menjadi lega, setelah bertemu dengan Tuan Mu Xianji ia merasa tugasnya sudah selesai. Sebagai murid yang berintegritas, Khu Ching tidak mau mengecewakan orang-orang yang masih berhubungan dengan Tetua Mu Chen di Sekte Belati Merah.
__ADS_1