Legenda Pendekar Abadi

Legenda Pendekar Abadi
Anggota Sekte Serigala Hitam


__ADS_3

Mendengar ucapan adiknya, Shui Niao sedikit menyesali kesempatan yang pernah terlewatkan. Ia tidak mengira jika waktu berlalu dengan begitu cepat, hari dimana ia ditolong oleh Lei Tian adalah saat terakhir ia melihatnya.


"Mengapa begitu sulit ku lupakan, terkadang hati ini begitu sakit saat membayangkan kata terakhir yang terucap saat kau pergi tinggalkan ku sendiri" gumam Shui Niao di dalam hatinya.


Sementara itu Lei Tian yang kini sudah mendapatkan pedang yang ia cari, segera mengajak Liu Shuwan untuk kembali pulang ke kediaman Patriark Liu. Selain untuk mengantar Liu Shuwan, ia juga ingin berbicara empat mata dengan Patriark Liu terkait pembatalan ikatan pertunangan dengan Liu Shuai.


"Tuan Mu, terimakasih atas dukungannya. Terkait kerjasama kuharap ada orangmu yang menemui paman Lei Jun atau paman Gong Dun dalam waktu dekat ini" ucap Lei Tian sesaat sebelum meninggalkan Paviliun Ungu.


"Saya akan segera mengurus hal ini, Tuan muda tidak usah khawatir" jawab Mu Xianji dengan wajah gembira.


Setelah urusan di Paviliun Ungu selesai, Lei Tian menggantungkan pedangnya di punggung. Dengan senjata barunya ia berharap bisa diandalkan saat berhadapan dengan musuh yang berskala besar. Sedangkan belati akan ia gunakan untuk pertarungan perorangan dan memiliki skala jangkauan lebih pendek.


Lei Tian kembali menyembunyikan aura kekuatannya, ia berjalan dengan diikuti oleh Liu Shuwan yang tampak seperti orang linglung. Kejutan demi kejutan yang disuguhkan oleh Lei Tian terlalu luar biasa, semuanya terlalu sukar dicerna dengan akal sehat.


"Shuwan, kamu adalah temanku. Aku merasa nyaman berjalan bersama dirimu, namun apa yang kau lihat tadi tolong kamu sembunyikan dengan rapat. Banyak hal di dunia ini yang terkadang sulit diterima oleh akal sehat, namun percayalah seorang sahabat akan selalu ada buat pribadi yang memegang prinsip kejujuran" ucap Lei Tian sambil menatap ke arah Liu Shuwan.


"Tentu saja, kau bisa mempercayai diriku" balas Liu Shuwan dengan senang.


Sudah dianggap sebagai seorang teman di mata pria yang sangat luar biasa adalah suatu anugerah, oleh karena itu Liu Shuwan akan menjaga kepercayaan Lei Tian dengan sepenuh jiwa dan raganya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan seperti yang sudah dilakukan oleh sepupunya.


"Terimakasih" ucap Lei Tian dengan hangat.


Aura ketenangannya kembali terpancar dengan penuh kharisma, membuat perasaan Liu Shuwan menjadi tidak menentu. Sebagai seorang wanita, bohong jika ia tidak tertarik dengan pesona ketampanan serta kekuatan yang dimiliki oleh Lei Tian.

__ADS_1


"Shuwan, tolong kau jalan terlebih dahulu dan arahkan ke jalan yang lebih sepi. Sepertinya kita akan kedatangan beberapa tamu yang ingin mencoba tajamnya pedang ini" ucap Lei Tian setengah berbisik.


Liu Shuwan tidak bertanya, ia langsung melangkah maju mendahului Lei Tian. Meskipun didalam hatinya penuh kekhawatiran, namun sebagai seorang sahabat ia harus mempercayai Lei Tian yang sudah menganggap dirinya sebagai teman.


Suasana Kota Chengdu di saat hari menjelang sore masih terlihat ramai, beberapa aktivitas kelompok masyarakat berjalan seperti rutinitas yang tidak pernah berhenti. Mereka menjalankan kegiatan mengikuti pola yang sepertinya sudah terbentuk, Lei Tian yang memperhatikan hal tersebut hanya tersenyum ringan sambil mengikuti langkah Liu Shuwan.


Liu Shuwan berjalan dengan memendam rasa khawatir, dengan perasaan penuh kewaspadaan ia berbelok ke arah yang lumayan sepi mengikuti arahan Lei Tian sebelumnya. Beberapa meter ia berjalan, tiba-tiba beberapa orang muncul dengan aura membunuh yang kental.


"Ha ha ha.. Ternyata cuma dua orang pemuda lemah dari Klan Liu" ucap seorang lelaki tua dengan nada merendahkan.


"Cepat rebut pedang yang berada di tangan pemuda itu, jika perlu bunuh saja tanpa mempedulikan konsekuensinya" lanjutnya sambil menunjuk ke arah Lei Tian.


"Baik Tetua" jawab lima orang lainnya dengan patuh.


Berbarengan dengan hal itu aura kelima orang yang berada pada ranah Pendekar Bumi tersebut seketika meledak dan langsung mengepung ke arah Lei Tian dan juga Liu Shuwan. Mereka dengan ganas memandang Lei Tian sebagai sasaran utama, mereka juga tidak menghiraukan pandangan beberapa orang yang melintas di tempat tersebut.


"Shuwan, berdiri lah dibelakang ku. Berikutnya aku akan mengantarkan mereka kepada dewa kematian" ucap Lei Tian dengan tenang.


Liu Shuwan mengangguk, lalu berkata.


"Kamu berhati-hatilah, mereka adalah kelompok yang berbahaya"


Pada saat ini Liu Shuwan sangat panik, ketika dikepung oleh lima orang Pendekar Bumi dan seorang Pendekar Langit ia hanya bisa memasrahkan keadaan dan berharap nyawanya akan selamat.

__ADS_1


"Cepat serahkan pedang yang berada di tanganmu secara baik-baik, serta berikan wanita yang berada di belakangmu. Jika tidak maka kami dari Sekte Serigala Hitam tidak akan segan-segan menghabisi nyawamu" ujar salah seorang dari mereka dengan nada penuh ancaman.


Mendengar nama Sekte Serigala Hitam membuat Lei Tian ingin segera membunuh orang tersebut. Salah satu hal yang ingin dibereskan oleh Lei Tian adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan Sekte tersebut.


"Baguslah, kalian datang menjemput kematian jadi aku tidak perlu repot-repot mencari kalian" ujar Lei Tian sambil menarik pedangnya.


"Sialan, kamu yang mencari kematian" seru seseorang dari kelompok tersebut.


"Zrink"


Pedang spiritual yang keluar dari sarungnya terlihat sangat tajam dan terasa menakutkan, dengan pedang di tangannya Lei Tian terlihat sangat gagah.


Setelah memastikan Liu Shuwan berada dalam posisi yang aman, Lei Tian menarik napas dalam-dalam. Energi Qi di dalam tubuhnya terlepas dengan sempurna, aura penindasan pendekar tingkat dewa mengintimidasi orang-orang dari Sekte Serigala Hitam, baju yang dipakai Lei Tian tampak berkibar tanpa adanya hembusan angin bertiup.


"Apa? Pendekar dewa" ucap seorang dari mereka dengan wajah pias.


"Bagaimana mungkin usia semuda itu sudah berada di ranah Pendekar Dewa" ucap yang satunya dengan kepayahan.


Satu orang yang berada di ranah Pendekar Langit masih bisa bertahan, namun lima orang yang berada di ranah Pendekar Bumi tampak terengah-engah dalam posisi setengah berlutut.


"Jurus Tebasan Kematian"


Lei Tian berseru sambil mengangkat pedang spiritualnya ke udara, energi Qi yang besar dimasukkan ke dalam pedang spiritual. Saat ia mengayunkan pedangnya terlihat jelas bentuk kilatan cahaya di udara.

__ADS_1


Ini adalah pertama kalinya ia menggunakan pedang dan juga menggunakan jurus warisan Klan Lei yang ditinggalkan oleh ayahnya. Dengan dukungan senjata kelas atas serta tenaga dalam yang luar biasa, membuat Lei Tian bergerak seperti Dewa Kematian yang sangat menakutkan.


Detik berikutnya Lei Tian bergerak dengan kilatan pedang yang menyala-nyala membuat dunia seolah berhenti, yang terlihat hanyalah kilauan energi pedang yang berasal dari Lei Tian.


__ADS_2