
"Tuan muda, kenapa kita membiarkan orang tersebut?" tanya Gong Dun ketika mereka berada di dalam kemah pribadinya.
"Aku hanya tidak perlu berurusan dengan hal yang sepele, namun jika peringatan dariku tidak diindahkan maka nyawanya yang akan membersihkan ucapannya di lain waktu" jawab Lei Tian dengan tegas.
"Selain itu aku juga tidak mau menjadi pusat perhatian, seseorang yang sedang menilai kita tentu tidak akan tinggal diam jika kita membuat keributan begitu saja" ucap Lei Tian menambahkan.
Orang yang dimaksud Lei Tian adalah Jenderal Shen Hua yang sedari awal sudah memperhatikan kedatangan dirinya. Lei Tian tidak takut bersinggungan dengan siapapun, apalagi Lei Tian dapat menebak kekuatan Jenderal yang berada pada ranah Dewa Abadi tersebut, tingkat yang sama dengan dirinya.
"Sebaiknya kita beristirahat satu atau dua jam sebelum beraksi" ujar Lei Tian dengan nada yang tenang.
"Baiklah Tuan muda" jawab Gong Dun.
__ADS_1
Lei Tian yang kini sudah berada di ranah Pendekar Dewa Abadi tahap awal, sebenarnya hanya selangkah lagi ia menerobos. Setelah beberapa kali menekannya, sepertinya saat ini ia harus melepasnya dan melakukan terobosan ke tingkat selanjutnya untuk menghadapi para musuh di medan pertempuran.
Tanpa membuang waktu lagi, Lei Tian segera berkultivasi dengan teknik rahasianya. Tanpa sungkan ia mengeluarkan ratusan batu roh untuk ia serap secara sekaligus, meskipun keberadaan batu roh sendiri tidak terlalu berpengaruh kepada tingkat kekuatan pendekar dewa, namun dengan berbekal sisa-sisa energi dari liontin air abadi membuatnya mudah melakukan terobosan hanya dalam beberapa tarikan napas.
Gong Dun yang semula ingin berkultivasi hanya tercengang melihat kemampuan Tuan mudanya tersebut, baru kali ini ia melihat keganasan energi yang menerpa tubuh Lei Tian diserap begitu saja dengan mudah. Bahkan udara di sekitar perkemahan menjadi tipis akibat diserap oleh teknik Naga Petir yang digunakan oleh Lei Tian.
"Siapa yang sedang menerobos?" gumam Jenderal Shen Hua sambil mengerutkan dahinya dalam-dalam.
Hal yang serupa juga dirasakan oleh para senior Akademi Kekaisaran, menipisnya esensi Qi di sekitarnya dapat mereka rasakan dengan jelas. Namun baik Jenderal Shen Hua maupun para senior Akademi Kekaisaran menduga jika kekuatan seperti ini kemungkinan milik Jenderal Shio Mei yang terkenal luar biasa.
Terdengar suara hembusan napas Lei Tian sambil membuka kedua matanya secara perlahan, hanya sekitar satu jam berlalu dirinya berhasil naik satu tingkat menjadi Tahap Dewa Abadi tingkat menengah.
__ADS_1
"Paman, kenapa tidak beristirahat" tanya Lei Tian yang sedikit heran.
"Bagaimana saya bisa beristirahat jika kekuatan Tuan muda sudah mendistorsi udara" ucap Gong Dun masih dengan tatapan terkejut.
"Oh ya.. Maaf jika begitu, aku terlalu larut dalam meningkatkan kekuatan" jawab Lei Tian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dengan sikap salah tingkah tersebut tampak kepolosan di wajah Lei Tian, sebagai orang yang masih muda jelas ia merasa tidak enak dengan Gong Dun.
"Paman, beristirahatlah sejenak. Aku akan menjaga paman, kebetulan aku juga sedikit merasa lapar" ucap Lei Tian sambil mengeluarkan sekantong Batu Roh.
"Terimakasih Tuan muda" ucap Gong Dun tanpa sungkan.
__ADS_1
Setelah menerima Batu Roh tersebut Gong Dun langsung duduk sila untuk melakukan kultivasi sekaligus menyerap Batu Roh. Dalam kurun waktu yang tersisa, ia harus bisa menstabilkan kekuatannya.
Sementara Lei Tian dengan tenang segera mengeluarkan buah apel hitam yang biasa ia konsumsi ketika di Sekte Belati Merah. Buah pemberian gurunya tersebut memang sangat efektif dikonsumsi pada saat seperti ini, meskipun di dalam kemah yang ia tempati tidak kekurangan makanan, namun tidak akan sama kualitas nutrisinya dengan kandungan buah apel hitam.