
"Apakah itu berarti kamu masih tidak berkeberatan dengan kontrak pernikahan yang sebelumnya?" tanya Patriark Liu tanpa basa-basi.
"Masalah itu sudah berlalu, masa depan yang akan kita jelang jauh lebih penting dari sekedar membicarakan hal yang sudah tidak dapat diteruskan kembali" jawab Lei Tian dengan tegas.
Mendengar ucapan dari Lei Tian wajah Liu Shuai tampak terlihat pucat, penolakan yang dilakukan oleh Lei Tian sudah sesuai dengan persepsinya.
"Baiklah jika begitu, aku tidak akan membahasnya. Lalu bagaimana dengan Shuwan? Apakah ia tidak cukup menarik hatimu?" ucap Patriark Liu yang sepertinya tidak mau melewatkan kesempatan.
"Shuwan sangat baik, kami juga berteman hingga sejauh ini. Siapapun yang mengenal dirinya pasti akan merasakan hal yang nyaman, namun untuk hubungan yang lebih jauh aku belum memikirkannya karena masa depan yang akan kujelang masih penuh ketidakpastian" ujar Lei Tian dengan sopan.
Pada saat yang bersamaan tatapannya jatuh pada Liu Shuwan yang sedari tadi terlihat gelisah. Ia juga sudah menduga jika Patriark Liu yang sekaligus pamannya tersebut akan menjodohkan dirinya dengan Lei Tian.
"Shuwan, sepulang dari Gerbang Timur tolong temani aku berkeliling seperti kemarin" ucap Lei Tian kepada Liu Shuwan.
Baginya Liu Shuwan sudah ia anggap sahabat, jadi ia takkan sungkan berbicara seperti itu.
"Tentu.. Tentu saja aku akan menemanimu berkeliling" jawab Shuwan dengan gugup.
Setelah mendengar tentang keberhasilan Lei Tian dalam membasmi Sekte Serigala Hitam, Liu Shuwan benar-benar merasa takut salah kata jika berteman dengan Lei Tian. Apalagi nama Lei Tian di Kota Chengdu seperti air bah yang memborbardir keheningan sebelum badai. Orang-orang berlomba-lomba untuk mendekati Klan Lei dan melakukan hubungan kerjasama.
"Apakah kau akan ikut bertempur di sana?" tanya Patriark Liu dengan sedikit heran.
__ADS_1
"Ya, paman.. Aku harus menjalankan rangkaian pertempuran tersebut sesuai syarat ujian Akademi Kekaisaran" jawab Lei Tian sambil menunjukkan Token Akademi Kekaisaran.
"Luar biasa, ternyata kau benar-benar sangat luar biasa. Ternyata putriku benar-benar terlalu bodoh melepaskan calon suami seperti dirimu" ucap Patriark Liu yang tidak bisa menahan kekesalannya lagi kepada Liu Shuai.
"Sudahlah paman, kita tetap bersaudara. Meskipun tidak melalui ikatan pernikahan setidaknya demi ayahku maka aku juga akan menghormati paman seperti yang sudah seharusnya" ucap Lei Tian kembali menekankan hubungannya dengan Liu Shuai.
Apapun yang terjadi, Lei Tian tidak akan pernah mengambil Liu Shuai sebagai istri. Adapun terhadap Patriark Liu, Lei Tian akan bersikap bijak demi masa lalu hubungan ayahnya. Serta berkat liontin air abadi juga Lei Tian berhasil mengalahkan Patriark Sekte Serigala Hitam. Hal itu juga berhubungan dengan kepercayaan Patriark Liu yang sudah percaya memberikan barang pusakanya kepada Lei Tian begitu saja.
Jika suatu saat Liu Shuwan harus menjadi tawaran untuk menjadi istrinya mungkin Lei Tian tidak akan menolak dengan mudah. Sejak awal ia sudah memiliki kesan yang baik terhadap sepupu Liu Shuai tersebut.
Sementara itu Liu Shuwan yang terkejut mendengar kenyataan jika Lei Tian adalah seorang utusan yang kini bergabung dengan Akademi Kekaisaran, pandangannya menatap lurus ke arah pria yang fenomenal tersebut.
"Kamu berhati-hatilah, aku janji jika kau kembali dengan selamat maka aku akan menemanimu berkeliling Kota Chengdu sekaligus gantian mentraktir mu makan sepuasnya" ucap Liu Shuwan yang mulai menemukan ketenangannya.
Percakapan keduanya tampak akrab, hanya Liu Shuai saja yang terlihat seperti orang bodoh. Bahkan pada kesempatan ini tidak satu katapun keluar dari mulut Lei Tian untuk sekedar menyapa Liu Shuai.
Sementara Patriark Liu tampak senang melihat keakraban keduanya, ia juga tidak memikirkan perasaan putrinya yang sudah terbukti menyia-nyiakan kesempatan emas. Bagi Patriark Liu, siapapun dari Klan Liu yang bisa berjodoh dengan Lei Tian adalah suatu anugerah, apalagi Liu Shuwan yang merupakan anak yatim piatu. Jadi sudah selayaknya ia mendapatkan kebahagiaan untuk masa depannya.
Tidak lama kemudian Gong Dun muncul setelah melakukan beberapa persiapan untuk perjalanan menuju Gerbang Timur, meski tidak sejauh ke Provinsi Jiangxi tempat Lei Tian tinggal sebelumnya, namun perjalanannya kini juga tidak akan sederhana karena akan menghadapi musuh yang nyata di Medan pertempuran.
"Tuan muda, semuanya sudah siap" ucap Gong Dun dengan sopan.
__ADS_1
"Baiklah paman, kita bisa berangkat sekarang" ucap Lei Tian.
"Paman, Shuwan dan Shuai aku mohon pamit karena harus berangkat sekarang juga" ucap Lei Tian dengan sopan kepada Patriark Liu.
Lei Tian juga menyebut nama dua wanita yang ikut bertandang ke kediamannya bersama Patriark Liu.
"Kamu berhati-hatilah, cepat kembali" ucap Patriark Liu penuh dengan tatapan kekaguman.
Sementara Liu Shuwan dan juga Liu Shuai hanya terdiam, mereka tidak mengatakan apa-apa. Perkenalan mereka dengan sosok Lei Tian terlalu singkat, bahkan di awal perjumpaan Lei Tian begitu rapat menyembunyikan identitasnya.
"Terimakasih paman, aku usahakan akan kembali secepatnya setelah urusan di sana selesai" ucap Lei Tian dengan sopan.
Selanjutnya Patriark Liu ikut mengantar Lei Tian hingga ke tempat pemberangkatan di halaman utama Klan Lei. Dua ekor kuda yang tampak kuat dan sehat kini sudah siap menemani perjalanan Lei Tian dan juga Gong Dun.
Di halaman Klan Lei, tampak orang-orang Klan Lei sudah bersiap melepas kepergian Lei Tian menuju Gerbang Timur. Kabar mendadak tersebut tersiar begitu saja dengan cepat, terpancar aura kebanggaan di wajah orang-orang Klan Lei. Pencapaian seperti ini benar-benar sangat luar biasa, dengan kekuatan yang dimiliki oleh Lei Tian kini membuat orang-orang yakin jika dirinya tidak akan mendapatkan kesulitan.
Setelah berpamitan kepada semua orang, Lei Tian dan juga Gong Dun segera menaiki kuda masing-masing. Lei Tian dengan pedang di punggungnya tampak gagah seperti ksatria muda, ia tidak menggunakan belatinya meski ia berasal dari Sekte Belati Merah. Belati yang berada padanya terlalu sakral, ia tidak berani sembarangan menggunakannya begitu saja.
"Hati-hati" ucap Liu Shuwan sebelum Lei Tian pergi.
"Ya, terimakasih" ucap Lei Tian sambil tersenyum.
__ADS_1
Liu Shuai yang melihat keakraban keduanya hanya bisa mengelus dada, dari tadi ia hanya bisa menahan diri sambil menahan gejolak pikiran yang berkecamuk di dalam benaknya. Ada rasa keirian terhadap sepupunya tersebut tetapi tidak berani ia ungkapkan secara terbuka.
Setelah meninggalkan Klan Lei, kuda yang dinaiki oleh Lei Tian segera melaju dengan cepat mengikuti Gong Dun yang sudah terlebih dahulu memimpin jalan. Sebagai orang yang sudah berpengalaman, keberadaan Gong Dun sangat dibutuhkan oleh Lei Tian dalam memperlancar perjalanan menuju perbatasan.