Legenda Pendekar Abadi

Legenda Pendekar Abadi
Keinginan Qin Qian


__ADS_3

Di Sekte Perisai Api, kondisi sebelas orang yang kini sedang disiapkan menjadi para Penatua Sekte saat ini sedang mengalami masa-masa penerobosan. Dimulai dari Xue Meilin hingga yang lainnya secara perlahan-lahan mulai menerobos secara gila-gilaan, bahkan Patriark Zu Sanfeng dan juga Mu Xianji yang ikut memiki kesempatan berkultivasi menaikkan ranah merasakan hal yang sama.


Di bawah pengaruh ramuan buatan Lei Tian, tiga belas orang tersebut kini sudah berhasil menembus kekuatan baru mereka. Bahkan bagi yang berada di tingkat Pendekar Bumi, peningkatan mereka paling ekstrim. Tidak hanya satu atau dua kali mereka mengalami penerobosan, melainkan berkali-kali hingga pribadi mereka sendiri sudah tidak percaya terhadap efek ramuan yang lebih dahsyat dari pil terbaik di Akademi Kekaisaran sekalipun.


Namun dengan mengalaminya sendiri, mau tidak mau mereka harus percaya atas peningkatan yang sangat spektakuler di dalam hidup mereka. Potensi mereka terus digali, bahkan sampai sisa-sisa energi dari sumberdaya yang menumpuk di dalam tubuh mereka ikut bangkit menyumbang energi terbarukan di dalam tubuh mereka.


Lei Tian merasakan gejolak energi yang meletup-letup dari orang-orang yang sudah ia berikan ramuan khusus tersebut, dengan jelas ia mengetahui peningkatan mereka semua termasuk calon Kakek mertuanya serta Mu Xianji yang akan ia percayakan sebagai pemimpin wilayah Provinsi Sinchuan di masa depan.


Setelah membersihkan diri, ia sudah berada di kamar Qin Qian sambil menunggu kedatangan wanita yang sangat ia cintai tersebut. Namun setelah menunggu beberapa saat dirinya masih belum muncul dari tempat dimana Li Yifei berada.


"Aneh kenapa tiba-tiba aku jadi teringat dengan makam ibuku?" batin Lei Tian secara tiba-tiba merasakan kerinduan, sebagai seorang kultivator ia sudah lama tidak mengunjungi makam ibunya yang berada di Desa Gunung Batu.


Tiba-tiba Lei Tian juga kembali dimunculkan bayangan masa lalunya ketika ia dianggap sebagai orang miskin dan lemah, perundungan terhadap dirinya serta berbagai peristiwa lainnya yang seolah masih hangat dalam ingatannya.


"Bukankah ibuku bermarga Lin?" gumam Lei Tian sambil mengingat nama ibunya, Lin Mei.


"Kenapa bodoh sekali aku, tidak sempat mengurus masalah keluarga ibuku sendiri" ucap Lei Tian pelan, karena berbagai macam alasan ia terlupakan dengan masalah yang tidak kalah pentingnya dalam hidup.

__ADS_1


Sepanjang hidupnya, Lei Tian banyak diajari oleh ibunya. Dari belajar membaca hingga menulis, bahkan bakatnya yang serba bisa mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan disebabkan pengaruh keturunan ibunya. Bahkan tanpa sepengetahuan Lei Tian ia lalai dalam memperhatikan nama Lin Bao yang merupakan murid inti dari Patriark Fang Yuan yang kini berada di Akademi Kekaisaran.


Dalam posisi tenangnya, Lei Tian pada saat ini bisa merasakan aura kehidupan Li Yifei yang semakin melemah.


"Gadis yang luar biasa" gumam Lei Tian di dalam hatinya.


Bersamaan dengan apa yang kini dirasakan oleh Lei Tian, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Terlihat Qin Qian yang berjalan sambil menangis tersedu, ia tidak bisa berbuat apa-apa saat menyaksikan tubuh Li Yifei yang sudah membujur kaku akibat aura dingin yang terus membungkus tubuhnya.


"Gege.. Tolonglah nona Li Yifei" ucap Qin Qian yang hampir menjatuhkan kedua lututnya di lantai, namun buru-buru sebuah energi kasat mata menahannya.


"Sudahlah, Gege tidak usah bersikeras. Anggap aku yang memohon untuknya, sikap kalian sama kerasnya. Tolong selamatkan nyawanya, atau aku sendiri tidak bisa memaafkan diriku" ucap Qin Qian dengan bersungguh-sungguh.


Dibawah tekanan Qin Qian, kini Lei Tian tidak berkutik. Baginya menghadapi wanita memang lebih rumit dibandingkan dengan menghadapi pendekar tingkat keabadian sekalipun, namun membiarkan wanitanya terluka perasaannya juga bukan hal yang baik bagi hubungan keduanya di masa depan.


"Baiklah kau tunggu di sini, keadaan ini sudah semakin sulit" ucap Lei Tian sambil bangkit dan berlalu menuju kamar Li Yifei.


"Terimakasih Gege" ucap Qin Qian sambil tersenyum datar.

__ADS_1


Baginya keadaan ini juga tidak mudah, namun melihat sikap kedua orang yang berada di dalam kediamannya tersebut membuatnya yakin jika Li Yifei maupun Lei Tian adalah orang-orang yang berprinsip. Bahkan Lei Tian yang merupakan seorang lelaki normal butuh usaha yang keras untuk menaklukkan pemikirannya, jika saja Qin Qian tidak memohon sudah dipastikan jika pria tersebut akan membiarkan Li Yifei tewas dalam pengaruh kekuatannya sendiri yang tidak dapat ia kuasai.


Lei Tian memandang lirih tubuh Li Yifei yang sudah terlihat kaku, aura kehidupannya pun hanya bisa bertahan beberapa saat lagi. Mustahil bagi Lei Tian untuk melakukan tindakan akupuntur pada situasi seperti ini, kemampuan bertahan wanita yang berada di depannya sudah sangat kecil. Melakukan tindakan akupuntur sekalipun hanya mempercepat jalannya menuju kematian.


"Apakah kau terlalu keras kepala hingga harus menjadi wanitaku untuk bisa kusentuh?" ucap Lei Tian sesaat dirinya duduk di samping tubuh Li Yifei.


Hawa dingin yang terus menyeruak dengan tubuh Li Yifei sebagai pusat energi dingin tersebut membuat Lei Tian menggelengkan kepalanya.


"Tubuh Phoenix Es sesuai namanya, dingin dan tak mudah menerima kehadiran seseorang" ucap Lei Tian kemudian, ia juga dapat merasakan perbedaan dengan tubuh khusus Phoenix Api yang dimiliki Qin Qian.


Lei Tian memandang wajah Li Yifei yang tampak sangat pucat, rambutnya yang sudah memutih karena pengaruh kekuatan esnya menambah pesona pucat yang terkesan dingin dan acuh.


"Di masa depan jadilah wanitaku yang bisa mengerti dengan segala keadaan ku" ucap Lei Tian sambil mengusap pelipis Li Yifei dengan lembut.


Ia juga mengalirkan energi vitalitas agar kesadaran Li Yifei tetap terjaga, dengan begitu kemampuan inderanya masih dapat ia kontrol melalui otaknya sebagai pusat keseimbangan. Berkat energi vitalitas yang baru saja ditembakkan oleh Lei Tian kesadaran Li Yifei pun bangkit, sambil menatap pria yang kini sedang menyentuh pelipisnya untuk mengalirkan energi vitalitas, mulut Li Yifei pun terangkat dan mulai berkata.


"Hentikan, jangan buang energimu hanya untuk melakukan hal yang tidak berguna" ucap Li Yifei dengan nada suara yang terdengar pelan.

__ADS_1


__ADS_2