
"Salam ayah" ucap Liu Shuai dengan hormat.
"Perkenalkan ini adalah Lei Tian, tunanganmu yang sudah sering kau pertanyakan" ucap Patriark Liu kepada putrinya.
"Salam Nona" ucap Lei Tian dengan ramah.
Liu Shuai tidak langsung menjawab, ia memperhatikan sosok Lei Tian dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pada saat ini ada tatapan penuh kehinaan di dalam dirinya, meskipun Lei Tian cukup tampan namun Liu Shuai tidak dapat merasakan tingkat kultivasinya.
"Shuai'er mengapa kau hanya diam saja?" tegur Patriark Liu kepada putrinya.
"Maafkan Shuai'er ayah" sahut Liu Shuai yang masih mengacuhkan Lei Tian.
"Sebaiknya kau temani Lei Tian berkeliling Kota, ia baru saja tiba dan banyak tempat menarik di Kota Chengdu yang perlu ia ketahui" ujar Patriark Liu kepada putrinya.
Liu Shuai yang mendengar hal tersebut menjadi tidak nyaman, ia merasa jika kedatangan Lei Tian hanyalah beban baginya. Apalagi jika menemaninya berkeliling bukankah itu berarti dirinya harus mengasuh orang tersebut?
"Aku sedang tidak enak badan ayah, sebaiknya sepupu Shuwan saja yang menemani" ucap Liu Shuai dengan nada menolak yang halus.
"Sebaiknya kau temani saja dulu, jika kau memang ingin mengajak sepupu mu maka ajaklah" ucap Patriark Liu dengan bijak.
"Baiklah ayah" jawab Liu Shuai dengan nada terpaksa.
Setelah mengatakan hal tersebut ia meminta kepada pelayan rumahnya untuk menyampaikan pesan Liu Shuai agar bisa menemaninya ke pusat Kota.
"Jika begitu kalian berangkatlah, semoga kalian bisa lebih saling mengenal" ujar Patriark Liu sambil tersenyum.
Lei Tian yang menyaksikan keengganan dari Liu Shuai hanya bisa menahan senyum dalam hatinya, meskipun Liu Shuai terlihat cantik ia memiliki karakter yang berbeda dengan ayahnya.
"Ayo ikuti aku" ucap Liu Shuai mengajak Lei Tian.
"Patriark, saya mohon pamit untuk berjalan-jalan ke pusat Kota" ucap Lei Tian dengan sopan.
"Silahkan dan semoga dirimu nyaman berada di lingkungan yang baru" ucap Patriark Liu.
__ADS_1
"Paman, nanti aku akan kembali sendiri. Jadi paman tidak perlu mengkhawatirkan diriku" ucap Lei Tian kepada Lei Jun.
"Tapi Tuan muda..." ucap Lei Jun ragu-ragu.
Lei Tian segera mengangkat telapak tangan kanannya sebagai isyarat, lalu berkata.
"Paman tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja" ucap Lei Tian dengan santai.
Liu Shuai yang menunggu jadi sedikit kesal lalu berkata.
"Cepatlah, mumpung hari masih siang jadi aku tidak perlu membuang waktu lebih lama untuk menemani mu"
Patriark Liu yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa menggelengkan kepala, jika sebelumnya Liu Shuai hanya menolak pertunangan secara verbal namun kini secara terang-terangan.
Patriark Liu sengaja menyuruh putrinya untuk menemani Lei Tian agar lebih akrab dan saling mengenal, mungkin dari hal sederhana tersebut akan timbul benih rasa saling suka.
"Cepatlah, apa kau masih lelaki" ucap Liu Shuai ketika tiba di depan halaman kediamannya.
"Maaf, aku hanya mengikuti mu" ucap Lei Tian.
"Jadi lelaki harus berprinsip, jangan lemah dan hanya bisa mengikuti wanita" ujar Liu Shuai yang memiliki ranah Pendekar Raja.
"Maaf ini bukan soal prinsip, ini masalah etika dimana seorang tamu harus menghormati tuan rumahnya" balas Lei Tian dengan santai.
"Banyak omong" ucap Liu Shuai dengan nada kesal.
Lei Tian tidak membalasnya, ia sedang mencerna watak dari tunangannya tersebut. Sejenak dalam hatinya ia teringat perangai Shui Niao dan juga adiknya yang terlihat angkuh. Sehingga dalam hal ini Lei Tian berpikir jika sikap wanita yang dibesarkan di lingkungan yang berada cenderung bersikap demikian.
Lei Tian mengikuti tunangannya tersebut menaiki sebuah kereta kuda, di dalamnya sudah terdapat seorang wanita lain yang tidak kalah cantiknya dengan Liu Shuai.
"Shuwan, kau duduklah disebelahnya" ucap Liu Shuai kepada wanita yang ternyata adalah sepupunya.
Tanpa menjawab, Liu Shuwan segera bergeser ke samping Lei Tian. Kereta kuda yang akan membawa mereka mulai bergerak meninggalkan kediaman keluarga Liu.
__ADS_1
"Salam kenal tuan, saya Liu Shuwan" sapanya kepada Lei Tian.
"Salam kenal juga nona, saya adalah Lei Tian" balas Lei Tian dengan ramah.
"Panggil saya Shuwan saja, sepertinya usia kita juga hampir sama" ucap Liu Shuwan sambil tersenyum.
"Baiklah" jawab Lei Tian singkat.
"Shuai, kita mau kemana?" tanya Liu Shuwan kepada sepupunya tersebut.
"Kita ke rumah makan Chaomian saja, aku khawatir tamu ayahku belum makan dan nanti akan membuatnya semakin lemah" ucap Liu Shuai sambil menatap ke arah Lei Tian.
"Shuai, jaga cara bicaramu" tegur Liu Shuwan.
"Memang kenyataannya seperti itu, aku hanya bingung kenapa ayah bersikeras melanjutkan pertunangan ini. Padahal ayah tahu sebagai murid Sekte Pedang Emas aku memiliki masa depan yang luas" gerutu Shuai.
Di dalam hatinya ia sangat tidak menyukai orang-orang dari Klan Lei, apalagi dengan kedekatan mereka terhadap Sekte Serigala Hitam yang menjadi musuh dari Sekte Pedang Emas.
"Nona, maafkan saya apabila telah membuat anda tidak nyaman. Terkait masalah pertunangan saya juga tidak mengharapkan hal demikian jika diantara kita tidak ada kecocokan. Saya cukup senang dan berterimakasih atas bantuan keluarga Liu kepada saudara-saudara saya yang sudah memisahkan diri. Di masa depan, saya Lei Tian tidak akan melupakan segala baik keluarga Liu" ucap Lei Tian dengan serius.
Kedua tangan Lei Tian membentuk sikap salam khas ahli beladiri yang berbudi, dengan empat jari tangan kanan yg mengepal ditutup dengan empat jari tangan kiri diatasnya, dengan jempol tangan kiri ditutup dengan jempol tangan kanan.
Liu Shuwan yang berada disebelah Lei Tian merinding dengan keseriusan sikap tunangan dari sepupunya tersebut. Shuwan merasakan aura pendekar tingkat tinggi yang tidak dapat ia gapai.
"Apakah benar ia pria lemah?" gumam Liu Shuwan yang memiliki ranah kultivasi Pendekar Raja.
"Baguslah jika kau tahu diri" ucap Liu Shuai dengan tatapan merendahkan.
Tidak lama kemudian kereta kuda yang mereka naiki tiba di sebuah rumah makan mewah, di Kota Chengdu rumah makan Chaomian adalah salah satu yang paling terkenal. Rumah makan tersebut hanya dikunjungi oleh orang-orang kelas menengah ke atas, terutama para keluarga besar yang ingin membicarakan masalah bisnis.
Di dalam rumah makan tersebut, Liu Shuai dan juga Liu Shuwan duduk bersebelahan. Sementara Lei Tian duduk tepat di hadapan mereka berdua, ia memilih beberapa menu sekaligus yang menurutnya unik karena baru pertama kali mendengarnya.
"Kamu makanlah yang banyak, tidak sering kamu bisa berada di tempat seperti ini" ucap Liu Shuai meremehkan.
__ADS_1