
Devan memeluk perut istrinya, ia menjatuhkan dagunya di bahu wanita yang ia nikahi 5 bulan yang lalu.
"Aku sudah terlambat, Van!" Rissa membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.
"Ingat, jangan berdebat dengan Nikita!"
"Ya, aku tidak akan menggubris ocehannya."
"Setelah dari stasiun televisi, kau akan ke mana?" tanya Devan.
"Aku mau mengobrol dengan Tina dan Yuna di kafe. Apa kau mengizinkan?" Clarissa mengalungkan tangannya di leher suaminya.
"Tentunya, tapi sebelum jam enam sore kau harus sudah sampai di rumah."
"Siap, suamiku!" Clarissa mengecup bibir suaminya. Lalu ia menurunkan tangannya dari leher Devan kemudian keluar bersama dari kamar dan menikmati sarapan dengan Oma.
-
Pagi ini Clarissa menjadi bintang tamu di salah satu talk show, kebetulan Nikita juga hadir. Ia harus bersikap profesional ketika berhadapan dengan wanita yang selalu membuat onar.
Selain itu, ada model lain yang menjadi bintang tamu. Clarissa berusaha tetap tersenyum, ketika pembawa acara menanyakan hubungan dirinya dengan Nikita.
"Kami baik-baik saja, tidak ada masalah. Bukan begitu, Nikita?" Tatapan Clarissa menghadap wanita yang pernah membuatnya di rawat di rumah sakit.
"Ya, kami baik-baik saja. Tidak ada masalah, hanya para penggemar saja yang terlalu fanatik," Nikita memaksakan tersenyum.
"Apa sudah tidak ada lagi dendam diantara kalian?" tanya pembawa acara lagi.
__ADS_1
"Dendam? Mungkin hanya salah paham saja," jawab Clarissa.
"Kami sudah saling memaafkan," ujar Nikita tersenyum palsu.
"Ya, benar!" sahut Clarissa.
-
Selesai acara Clarissa dan kedua temannya mengobrol di kafe.
"Harusnya kau tidak menerima tawaran satu panggung dengan Nikita," ujar Tina.
"Ini salah satu caraku agar dianggap artis yang profesional, lagian kami bekerja di dunia hiburan yang sama. Tentunya, pasti bertemu juga," jelas Clarissa.
"Tapi dia sudah banyak melakukan kesalahan padamu," ujar Yuna.
"Wah, akhirnya kalian berkumpul bersama," Nikita membuat ketiga wanita yang didekatnya itu menoleh. "Apa suamimu yang kaya raya sudah tidak sanggup membiayai hidupmu yang glamor?" menatap Clarissa.
Tina berdiri dari tempat duduknya, namun tangannya ditarik Yuna untuk duduk kembali.
"Nona Nikita ingin bergabung dengan kami?" tawar Yuna dengan ramah.
"Cih, aku malas duduk bareng dengan orang-orang aneh seperti kalian!" Nikita tersenyum sinis.
"Kalau begitu, pergilah!" usir Tina. "Jangan mengganggu kami!" lanjutnya.
"Aku juga mau pergi," Nikita meninggalkan ketiga wanita itu dengan berjalan angkuh.
__ADS_1
"Mengganggu saja!" keluh Tina.
-
Jam di ponsel Clarissa menunjukkan pukul 5 sore. "Aku duluan, ya!" pamitnya pada kedua temannya. Ia beranjak berdiri.
"Ya, Rissa!" jawab kedua wanita itu.
"Hai, Nyonya Devan!" Intan menghampiri Clarissa yang hendak pergi.
"Kau lagi?" Clarissa menatap malas.
"Mau ke mana? Kenapa terburu-buru?" Intan tersenyum lalu melirik kedua teman Clarissa.
"Apa kau lupa, kalau aku sudah menikah. Suamiku yang tak berhasil dirimu rayu dan goda menungguku di rumah," jawab Clarissa tersenyum mengejek.
"Nona Intan, apa kau tidak memiliki pekerjaan sehingga menghampiri kami di sini?" sindir Yuna.
"Ya ampun, kalian ini. Selalu saja berpikiran buruk tentangku," Intan tertawa kecil.
"Takut saja, kau menggoda para pria kami," sahut Tina.
"Aku mengaku salah karena pernah menggoda Tuan Devan dan Tuan Rey," ungkap Intan.
"Katakan apa mau dirimu?" tanya Clarissa tanpa basa-basi.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Devan," jawab Intan.
__ADS_1
"Sepertinya kau harus ke Arta Fashion bukan di sini!" ujar Clarissa.