
Sebulan Berlalu ...
Kebetulan hari ini Lita sedang di apartemen Eza bersama dengan beberapa orang tim kerja mereka, ada juga 2 model wanita yang berada di manajemen sama.
"Kak, aku ingin bicara denganmu berdua saja!" Eza berkata pelan di dekat telinganya manajernya.
"Kita bicara di sana saja!" Lita menunjuk ke arah balkon
Eza dan Lita berjalan beriringan ke tempat tujuan.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Aku ingin melamar Raisa, Kak."
"Wah, bagus. Kapan itu?" Lita begitu semangat.
"Rencana besok aku akan mengajaknya makan malam di restoran dekat Mall Cahaya," jawab Eza.
"Semoga saja berhasil!" harap Lita.
"Terima kasih, Kak." Eza pun tersenyum, ia lalu mengirimkan pesan kepada Raisa.
...----------------...
Esok harinya...
Eza dengan perasaan tak menentu menunggu kehadiran calon istrinya di restoran yang dijanjikannya. Malam ini ia akan melamar Raisa, wanita yang begitu mencintainya.
Dan akhirnya wanita yang ditunggunya pun datang dengan wajah sumringah.
__ADS_1
Raisa melihat sekelilingnya yang tampak cantik, penuh bunga dan lilin. Kekasihnya itu menarik kursi khusus untuknya. "Terima kasih!"
Eza tersenyum.
"Kenapa kau tidak bilang bahwa malam ini akan ada makan malam romantis?"
"Aku ingin memberikan kamu kejutan" jawab Eza.
"Huh, kau bisa saja menarik hatiku." Raisa tersipu malu.
"Raisa, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu!"
"Ya, katakanlah!"
"Aku ingin...." ucapan Eza terputus saat mendengar ponselnya berbunyi.
"Jawab saja dulu!" perintah Raisa.
"Kamu mau ke mana, Za?"
"Seseorang butuh bantuan aku!" Eza pun berdiri kemudian melangkah cepat.
"Seseorang?" Raisa mengernyitkan keningnya. Ia pun juga berdiri mengikuti kekasihnya dari belakang.
Lita yang berada di restoran menatap heran dengan pasangan kekasih yang keluar tidak beriringan. Karena penasaran, ia pun akhirnya mengikuti keduanya.
Eza tak menyadari Raisa mengikutinya dari belakangnya. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang ke arah kafe tak jauh dari Mall Cahaya.
Begitu sampai, Eza menghampiri wanita yang sedang menyeka air matanya.
__ADS_1
Begitu melihat Eza, ia berdiri dan memeluknya.
"Apa yang terjadi?" Eza begitu khawatir.
"Dia datang dan mengancamku. Aku tidak mau kembali padanya, Za. Ku takut," jawabnya terisak.
"Tenanglah, ada aku di sini."
"Tolong aku, Za." Wanita itu mendekap erat tubuh Eza.
Raisa yang melihat kekasihnya berpelukan dengan wanita lain, mengepalkan tangannya. "Seseorang itu dia!" batinnya geram.
Raisa membalikkan badannya dan meninggalkan kafe dengan mata berkaca-kaca.
"Mau ke mana lagi Nona Raisa?" gumam Lita. Ia pun penasaran dan masuk ke dalam kafe untuk melihat apa yang terjadi. "Dasar wanita tak tahu malu!" geramnya.
Lita pun akhirnya menyusul Raisa, entah mengapa perasaannya begitu khawatir melihat putri Devan Artama itu menangis.
Ia bergegas memasuki mobil dan menyuruh sopirnya untuk mengikuti mobil Raisa.
Sementara itu, Eza masih menenangkan wanita itu. "Jangan menangis lagi, jika dia berani melakukan pengancaman. Ku siap membantumu!"
Seorang wanita ditaksir usia 35-an, menghampiri meja Eza dan teman wanitanya itu. "Akhirnya kita berjumpa lagi wanita murahan!"
Eza menatap bingung keduanya, "Ada apa ini?"
"Apa kau tidak bisa membahagiakan kekasihmu ini hingga dia berani merebut suamiku?"
"Kami tidak memiliki hubungan kekasih, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Eza.
__ADS_1
"Setahun yang lalu dia hampir saja menikah dengan suamiku. Beruntung aku dan keluarga besar ku mengetahuinya," Ibu muda itu menatap sinis wanita yang ada dihadapan Eza.