Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Kembali Ke Kantor


__ADS_3

Rey sudah mengabari mertuanya dan Devan. Mereka telah datang berkunjung tepat pukul 10 pagi tadi. Di tengah kunjungan mereka, Siska dan suaminya muncul.


Siska menatap tatapan sinis pada Clarissa dan Claudia. "Mana cucuku?" tanyanya pada Raya.


"Dia bersamaku!" Claudia menjawabnya.


"Sini! Aku mau menggendongnya," Siska mengulurkan kedua tangannya.


Claudia menyerahkan bayi yang digendongnya.


"Raya, kami pamit pulang 'ya!" Izin Clarissa.


"Kenapa cepat sekali?" Raya menatap saudara tirinya.


"Raisa sudah bangun," Clarissa memberikan alasan.


"Titip salam buat keponakan yang cantik dan imut, ya!" ucap Raya.


"Pastinya," Clarissa tersenyum. "Paman, Tante, kami pamit pulang," Ia mengarahkan pandangannya kepada mertua Raya.


"Terima kasih, Devan, Rissa," Papa Rey tersenyum ramah namun Siska tetap cuek dan fokus dengan cucunya.


Tak lama Clarissa dan suaminya pulang, mertua Rey juga berpamitan pulang. Claudia sengaja mempercepat kunjungannya karena ia tahan dengan sindiran yang diucapkan mama menantunya itu.


Setelah dari rumah sakit, ia mengunjungi putri Clarissa. Ini kali kedua ia bertemu dengan cucunya. Sesampainya di kediaman Artama ia menggendong dan menciumnya berulang kali.


"Cucu Oma sudah besar dan cantik," pujinya kepada Raisa yang kini berusia 5 bulan.


...****************...

__ADS_1


Sebulan kemudian....


Clarissa kini telah kembali ke Arta Fashion. Dengan bergandengan tangan ia memasuki gedung yang membuat suaminya jatuh hati.


Seluruh karyawan menundukkan kepalanya menghormati istri petinggi Arta Fashion tersebut.


"Sekarang sudah banyak berubah setelah hampir setahun aku tidak berkunjung," Clarissa berbicara pada suaminya.


"Aku sengaja merenovasi ruangan ini, agar kau betah di sini bersamaku," ujar Devan.


"Kalau aku di sini bersamamu lalu Raisa dengan siapa?"


"Aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian berdua," Devan menarik tangan istrinya menunjukkan ruangan kecil yang ada ranjangnya.


"Apa kau tidak terganggu dengan keributan yang aku dan Raisa lakukan?"


"Tidak, aku malah senang kalian dekat denganku!" jawabnya mengecup kening istrinya.


"Belum, bagaimana kalau saja yang menjadi modelnya?" tawar Devan.


Clarissa tertawa kecil, "Aku sudah tua, masyarakat akan bosan jika diriku saja yang menjadi modelnya."


"Aku sangat kesulitan mencari pengganti dirimu di Arta Fashion," ujar Devan.


"Kau bukan kesulitan, tapi memang tidak ada yang sesuai dirimu. Hanya aku yang cocok denganmu!" Clarissa tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher suaminya.


"Ya, entah kenapa denganmu aku begitu menerimamu padahal kita bertemu tak ada manisnya," ungkap Devan.


"Itu karena kau sudah jatuh cinta padaku," ujar Clarissa.

__ADS_1


"Sepertinya kau yang lebih dahulu jatuh cinta padaku," sindirnya.


"Tapi, sekarang kau lebih tergila-gila padaku!" Clarissa tak mau kalah.


"Kau benar!" Devan mengecup bibir istrinya.


"Ini kantor, nanti saja di rumah!" Clarissa mendorong pelan tubuh suaminya.


"Di rumah tidak bebas, Raisa akan datang mengganggumu," ujar Devan.


"Dia tahu kalau cinta pertamanya telah direbut mamanya," ungkap Clarissa.


-


-


Hilman memberikan nama-nama calon model yang akan menjadi brand ambassador di Arta Fashion.


Devan dan istrinya menyeleksi nama-nama tersebut satu persatu. Beberapa diantaranya pernah menjadi rekan kerja Clarissa di sebuah mini drama dan iklan.


"Kau saja yang memilihnya!" Ia menyerahkan tanggung jawab pencarian model kepada istrinya.


"Aku bingung, Van."


"Kau saja bingung apalagi aku!"


"Bagaimana kalau aku tanya saja pada Yuna dan Tina? Mereka lebih tahu, artis-artis yang banyak penggemarnya dan disukai masyarakat saat ini," saran Clarissa.


"Terserah kau saja," ujar Devan. "Tapi kita ikutkan jajaran direksi yang lainnya, mana tahu mereka ada calon yang cocok," lanjutnya.

__ADS_1


"Ya, aku akan segera memimpin rapat," ujar Clarissa.


__ADS_2