Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Cerita di Danau Pelangi


__ADS_3

"Aku akan menggantinya," ucap Clarissa.


"Aku tidak mau lagi, kau harus menggantinya dengan pemotongan honor," jelas Devan.


"Aku tidak mau, jika kau memotong dari honorku jelas akan merugikan ku," ungkap Clarissa.


"Di sini aku yang dirugikan!" Devan tetap bersikeras.


"Bagaimana kalau aku menggantinya dengan tubuhku?" Clarissa tersenyum nakal, ia melepaskan ikatan rambutnya dan berjalan pelan mendekati Devan yang memundurkan langkahnya.


"Tetap di situ!" hardik Devan namun tak dihiraukannya.


"Kau tega sekali, aku ini kekasihmu!" Clarissa membuka satu kancing bajunya.


"Hei, kau mau apa!" bentak Devan seketika tubuhnya menegang.


"Aku ingin melunasi utang kepadamu!" Clarissa semakin mendekati Devan sambil menggigit bibir bawahnya.


"Stop!" sentak Devan. "Pergilah, aku tidak akan memotongnya," ucapnya dengan wajah memerah.


Clarissa berhenti lalu tersenyum. "Begitu dong, aku jadi senang mendengarnya!"


"Ya, cepat pergi dari sini!" usir Devan mengepalkan tangannya menahan kesal.


"Aku akan pergi!" Clarissa membalikkan tubuhnya mengancingkan bajunya lalu berjalan keluar.


Saat Clarissa membuka pintu, berpapasan dengan Hilman ingin mengetuk pintu. Pria itu terkejut melihat Clarissa keluar dengan rambut terurai dan mengalihkan pandangannya ke arah Presdir sedang mengelap keringat dengan menghadap ke arah meja kerja.


"Permisi, Tuan!" sapa Hilman membuat Devan mendelikkan matanya.


"Kenapa kau datang tidak mengetuk pintu?" tanyanya kesal.


"Tadi saya mau mengetuk, tapi Nona Clarissa sudah membukakannya," jawab Hilman.


"Cepat katakan ada apa?" Devan bertanya tanpa menoleh ke belakang.


"Saya cuma mau kasih laporan yang anda minta!" jawab Hilman.


"Letakkan di meja itu!" perintahnya.


Hilman meletakkan di meja tamu, "Kalau begitu saya permisi!" ia pamit keluar.


Devan meremas tangannya, menahan kesal dan marah. "Harusnya kau yang kalah, kenapa jadinya aku?" geramnya.


-


Di mobil Clarissa tergelak, membuat kedua temannya heran. "Kau kenapa?" tanya Yuna.


"Aku hanya sedikit menggodanya tapi dia sudah berkeringat," jawab Clarissa.


"Kalau Presdir pingsan karena ulah yang kau buat bagaimana?" tanya Yuna.


"Siapa suruh dia mau memotong honorku," ujar Clarissa.


"Memangnya kau buat ulah apa lagi?" tanya Tina.


"Aku sengaja menempelkan bibirku di jas Presdir karena saat itu Nona Clara menemuinya," jawab Clarissa.


"Astaga, Rissa. Sebegitu cemburunya dirimu pada Presdir," Tina tak habis pikir dengan jalan pikiran temannya.

__ADS_1


"Entah, kenapa jika dengan dia ku merasa nyaman saja. Presdir mirip dengan anak laki-laki yang sering ku ceritakan pada kalian," ucap Clarissa.


-


Enam belas tahun yang lalu...


Siang itu seorang anak kecil berlari dengan tergopoh-gopoh menghampirinya. Clarissa yang saat itu sedang menunggu ibunya di pinggir jalan.


"Tolong aku!" ucapnya dengan wajah kelelahan.


Clarissa yang saat itu masih berusia 7 tahun merasa bingung, ia tak bisa melakukan apapun. "Duduklah di sini, Ibuku sedang menuju kemari!" tunjuknya pada seorang wanita muda yang berjalan ke arah mereka.


Anak laki-laki itu sedikit tenang dan duduk di sebelah Clarissa.


"Dia siapa, Nak?" tanya Claudia.


"Aku tidak tahu, Bu!" jawabnya.


Claudia mendekati anak tersebut. "Kamu kenapa?"


"Tolong aku Bibi, ada pria dewasa menculik ku!" jawabnya gemetaran dan ketakutan.


"Ayo, ikut kami!" Claudia mengajak anak laki-laki itu. Ia membawanya ke sebuah kamar tempatnya dirinya dan Clarissa menginap. "Mari masuk!" ucapnya.


Clarissa menarik tangan anak laki-laki itu ke dalam kamar. "Ibu ku bukan orang jahat!"


Anak laki-laki itu masuk dan melihat sekeliling ruangan kamar.


"Rissa, beri dia minum dan roti!" perintah Claudia. "Ibu akan pergi sebentar membeli nasi!" lanjutnya.


"Baik, Bu!"


"Aku tidak mau, itu sudah kotor!" tolaknya.


"Hei, ini masih bagus. Lagian juga pakai plastik, mau makan atau tidak!" ucap Clarissa.


Anal laki-laki itu mengambilnya dan memakannya.


"Kau tinggal di mana?"


"Komplek Anggrek!" jawabnya.


"Di sana banyak rumah besar dan mewah. Apa kau anak orang kaya?" tanya Clarissa.


"Papa punya kantor dan Mama ku yang suka gambar pakaian di buku," jawabnya.


"Oh, begitu. Kau tidurlah!" Clarissa menyodorkan bantal dan selimut.


Claudia datang membawa makanan dan pakaian anak laki-laki. "Di mana dia?" tanya Claudia saat bertemu dengan Clarissa di luar kamar.


"Dia lagi tidur, Bu!"


"Kalau dia bangun, suruh mandi dan ganti pakaiannya," titah Claudia.


"Iya, Bu!"


Menjelang sore hari, anak laki-laki itu terbangun dan melihat Clarissa sedang menulis. "Kau sudah bangun?" tanyanya. "Kata Ibu kau di suruh mandi setelah itu makanlah!" lanjutnya lagi.


Anak laki-laki itu pun ke kamar mandi dan membersihkan diri kemudian ia makan.

__ADS_1


"Ibu ingin berbicara padamu, mungkin dia akan memulangkan dirimu," ucap Clarissa.


"Kau sedang apa?" tanya anak tersebut.


"Aku sedang mengerjakan tugas dari sekolah," jawab Clarissa. "Kenapa kau diculik?" tanyanya.


"Aku tidak tahu!"


Claudia membuka pintu kamar dan tersenyum. "Kau sudah mandi?"


"Sudah Bibi," jawabnya.


"Bibi mau tanya di mana rumahmu?" tanya Claudia.


"Komplek Anggrek, Bibi!"


Claudia seperti pernah mendengar nama itu. Lalu ia kembali bertanya, "Siapa nama orang tuamu?"


"Papa Vandi dan Mama Marissa," jawabnya.


Mendengar kedua nama, Claudia terkejut. "Jadi kamu anaknya?"


"Kenapa? Apa Ibu mengenalnya?" tanya Clarissa dengan cepat Claudia menggelengkan kepalanya.


"Bibi akan mencari kedua orang tuamu, tetaplah di sini bersama kami!" ucap Claudia.


Selama tinggal bersama Clarissa dan anak itu sering bermain dan makan bersama.


Hingga saat terakhir bertemu, anak laki-laki itu dalam posisi hampir tenggelam di Danau Pelangi. Clarissa mencoba masuk dan menyelamatkan namun ia kembali ke daratan. "Ibu tolong Evan!" teriaknya.


Claudia berlari mendekati putrinya yang menangis dan berteriak. Ia segera menolong anak laki-laki itu dan menariknya ke atas, Clarissa menekan perutnya dan memanggil nama anak laki-laki itu.


"Ayo, Nak. Kita pergi dari sini!" Claudia menarik tangan Clarissa.


"Dia bagaimana, Bu?" tanya Clarissa, tanpa ia sadari kalungnya terjatuh.


"Dia akan baik-baik saja!" jawab Claudia. Ia membawa putrinya menjauh dari tubuh anak itu.


Anak laki-laki masih bisa bergerak, ia mencoba bangkit namun ia merasa lemah. Ia melihat kalung Clarissa terjatuh di dekatnya lalu ia mengambilnya dan menggenggamnya dan akhirnya pingsan.


"Bu, kasihan Evan!" ucap Clarissa sambil sesekali melihat ke arah belakang.


"Orang tuanya akan menjemputnya," ujar Claudia yang terus berjalan memegang erat tangan putrinya.


"Bagaimana jika orang tuanya tidak menjemputnya?"


"Ibu yakin orang tuanya telah menjemputnya," jawabnya. "Tadi Ibu sudah ke rumahnya," lanjutnya lagi.


"Pantas saja Ibu lama sekali," ucapnya.


"Kenapa dia bisa tenggelam?" tanya Claudia saat sudah merasa aman dan jauh dari Danau Pelangi.


"Seseorang mendorong tubuh Evan saat kami bermain di pinggir danau," jawab Clarissa.


"Anak itu dalam bahaya!" ucap Claudia dalam hati.


"Bu!" panggil Clarissa.


"Clarissa tunggu di sini sebentar, jangan ke mana-mana!" pinta Claudia.

__ADS_1


__ADS_2