
Aroma masakan menyeruak dari arah dapur. Jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi. Yuna dan Tina yang mencium wangi masakan bergegas ke dapur. Kedua teman Clarissa merasa heran dengan keberadaan sang artis di area dapur.
"Kau sedang apa?" tanya Yuna mendekati Clarissa.
"Kau lihat 'kan, aku sedang memasak," jawab Clarissa sedang mengaduk sayur dengan beraneka warna.
"Kau memasak untuk siapa?" tanya Tina.
"Devan," jawab Clarissa.
"Kau yakin dia akan memakannya secara Presdir seorang pemilih?" tanya Tina lagi.
"Yakin, aku sudah bertanya pada Hilman tentang makanan kesukaannya," jawab Clarissa penuh semangat.
"Coba ku cicipi enak atau tidak," tangan Yuna ingin mencomot masakan yang ada di wajan namun tangannya mendapat tepukan dari Clarissa.
"Jangan sentuh!" ucapnya.
"Masa kau tidak mengizinkan kami mencicipinya," ujar Yuna.
"Ini spesial untuk kekasih ku tercinta," ucap Clarissa percaya diri.
"Biarkan kami mencicipinya, kalau Presdir muntah dan sakit perut setelah makan ini. Kau mau tanggung jawab," tuduh Tina.
Clarissa sejenak terdiam, lalu ia mengambil piring kecil di isi dengan sayuran yang ia masak. Kemudian ia hidangkan pada temannya. "Tidak bisa banyak, coba cicip!"
Yuna dan Tina mencicipi masakan Clarissa lalu mereka mengacungkan dua jempol tangan.
"Aku sudah yakin, kalau masakan ku enak!" ucapnya percaya diri.
"Ya, ini enak. Semoga Presdir suka!" ujar Tina.
Clarissa mengisi dua kotak wadah makanan. Satu berisi dengan omelette dan satunya lagi capcay. Ia pun membersihkan diri setelah itu ia berangkat ke Arta Fashion seorang diri.
-
Gedung Arta Fashion
Sesampainya di sana, ia harus menunggu Devan yang sedang mengadakan rapat. Clarissa menunggu di ruang khusus tamu Presdir.
Hilman berjalan mendekati Devan yang telah selesai rapat. "Nona Clarissa sudah menunggu, Tuan!"
"Suruh dia ke ruangan ku sekarang!" perintah Devan.
"Baik, Tuan!" ucap Hilman. Ia menemui Clarissa dan menyampaikan pesan Presdir.
Clarissa memasuki ruangan Devan dengan tersenyum ia menenteng tas karton berwarna cokelat. "Aku membawakan makanan untukmu!"
Devan tersenyum tipis.
"Kau tidak suka?" tanya Clarissa.
"Suka, letakkan saja di situ!" tunjuk Devan ke arah meja.
__ADS_1
Clarissa mengikuti perintah Devan meletakkannya di atas meja. Ia masih berdiri dan memandangi pria yang selalu membuang wajahnya.
"Kenapa masih berdiri? Silahkan keluar!" Devan mendongakkan wajahnya.
"Kau tidak ingin mengucapkan terima kasih padaku?" harap Clarissa.
"Oh, ya. Terima kasih!" ucap Devan kembali membuang wajahnya.
"Jangan lupa dimakan, ya!" ucap Clarissa tersenyum genit.
"Ya!" Devan masih ketus.
Setelah Clarissa pergi, Devan membuka isi kantong tas. Ia tersenyum melihat isinya. "Kau tidak pernah menyerah mengejarku!" ucapnya lirih. Ia mencicipi sayur dengan sendok. "Cukup enak, pintar juga dia memasak. Aku pikir dia cuma bisa bergaya dan berdandan!" pujinya.
-
Rey yang melihat Clarissa keluar dari ruangan Devan, berjalan dengan cepat menghampirinya. "Rissa!" panggilnya.
Wanita itu membalikkan badannya dan tersenyum tipis.
"Aku senang kau telah kembali di sini!" ucap Rey.
"Kau cuma ingin mengatakan itu saja," ujarnya.
"Ya." Rey terlihat gugup.
"Kalau begitu, aku duluan!" pamit Clarissa tersenyum.
"Ya, hati-hati!"
Clarissa menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya melihat ke arah Clara berjalan. "Mau ke mana dia?" batinnya bertanya. Ia pun mengikuti langkah wanita itu, "Pasti dia ingin bertemu dengan Devan!" tebaknya dalam hati.
Benar saja, Clara berhenti tepat di ruangan Presdir dan berbicara dengan Hilman. Wanita itu diarahkan menunggu di ruang khusus tamu.
Clarissa berjalan mendekati Hilman yang akan menemui Devan. "Aku ingin bertemu dengan Presdir!" ucapnya.
"Bukankah Nona tadi sudah bertemu dengan Presdir?" tanya Hilman.
"Ada yang ketinggalan," jawab Clarissa. Hilman pun mempersilakannya masuk.
-
Clarissa membuka pintu tanpa permisi, ia melihat Devan sedang menikmati makanan buatannya. "Aku jadi senang, kau menyukai masakan ku!" ucapnya tersenyum.
Mendengar suara Clarissa membuat Devan tersedak. Ia mengambil air putih yang berada didepannya dan meminumnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Clarissa khawatir.
Ia menatap ke arah wanita itu. Kenapa kau kemari lagi?" tanyanya.
"Maaf, mengganggu waktu makanmu!" ucap Clarissa bersalah karena dirinya membuat Devan tersedak. "Aku ke sini cuma mau katakan Nona Clara menunggumu!" ucapnya berbohong.
"Kenapa bukan Hilman yang mengatakannya?"
__ADS_1
"Tadi aku berpapasan dengan mereka, ya sudah sekalian saja aku sampaikan padamu!" lagi-lagi Clarissa berbohong.
Devan lantas berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia berjalan ke arah pintu namun dihalangi Clarissa. "Kenapa masih di sini? Pergilah!" ucapnya.
Clarissa memeluk tubuh Devan dengan sengaja ia menempelkan bibirnya di jas milik pria itu.
Mendapatkan pelukan secara tiba-tiba Devan mendorong tubuh Clarissa. "Apa yang kau lakukan?" hardiknya.
"Maaf!" ucap Clarissa tanpa bersalah. Ia berjalan ke arah meja dan mengambil wadah kotor bekas makan Devan. "Aku cuma mau ambil ini saja!" tunjuknya.
Devan berdecak kesal dan memilih meninggalkan Clarissa di ruangannya.
Melihat Devan telah keluar, ia terkekeh geli melihat wajah kesal pria itu.
-
-
"Nona Clara sudah menunggu anda!" ucap Hilman.
Devan menemui Clara di ruangan khusus Presdir di dampingi Hilman. Entah kenapa hanya dengan bertemu Clarissa, Presdir tidak ingin ditemani.
Clara berdiri dari duduknya dan tersenyum pada Devan, ia mengulurkan tangannya namun diabaikan.
"Silahkan duduk!" ucap Devan, ia pun juga duduk. "Aku dengar anda ingin bekerja sama dengan kami?" tanya Devan.
"Benar sekali, Tuan Devan. Saya ingin berkolaborasi dalam pembuatan iklan," jawabnya.
"Kolaborasi?"
"Perusahaan anda menyediakan pakaian dan kami untuk kosmetiknya," jawabnya. "Artis anda hanya akan memakai produk kosmetik dari perusahaan kami," lanjutnya menjelaskan.
"Saya setuju," ucap Devan.
"Tapi saya tidak ingin Clarissa yang menjadi modelnya," ujar Clara.
"Kenapa?" tanya Devan.
"Karakter wajah Clarissa tidak cocok untuk kosmetik kami. Model yang pantas untuk produk kami yaitu Nikita," jawab Clara.
"Saya tidak ingin menggantinya," tolak Devan.
"Kenapa Tuan? Apa anda memiliki hubungan dengan dia?" tuding Clara. Ia melihat bercak merah berbentuk bibir di jas Devan.
Devan terlihat tenang ia tidak ingin terpancing emosi. "Ini tidak ada hubungannya dengan dia. Kami hanya rekan bisnis saja," tuturnya.
"Sebaiknya anda menggantikan sementara posisi dia," ucap Clara.
"Saya tidak bisa, Nona Clara!" Devan tetap pada pendiriannya.
"Anda begitu bersikeras mempertahankannya," ucap Clara.
"Ya, karena dia sudah terikat kontrak dengan Arta Fashion," jelas Devan.
__ADS_1
"Oh, begitu bukan karena dia spesial sampai bibirnya menempel di jas anda!" ucap Clara mengulum senyumnya. Hilman mengikuti arah pandangan wanita itu lalu ia juga tersenyum.
Dengan cepat, Devan melihat jasnya yang ada noda merah. Ia mengingat kejadian di ruangan kerjanya. Devan mengeraskan rahangnya. "Awas kau Clarissa!" batinnya. Ia mengambil tisu dan membersihkannya.