
"Lalu?" tanya Clarissa.
"Aku bertemu dengan seorang gadis kecil sekitar usia 7 tahun," jawab Devan.
"Kenapa cerita Presdir hampir sama dengan kisah aku?" tanya Clarissa dalam hati.
"Dia membantu aku menjauhi penculik itu," lanjut Devan.
"Terus?" Clarissa juga semakin penasaran.
Ponsel Devan berdering, tertera nama Yuki. Ia pun menjawab panggilan itu. Lalu menutup teleponnya. "Lain waktu saja kita bicara, Oma di larikan ke rumah sakit!" Devan berdiri dan berjalan cepat ke arah parkiran.
Clarissa menyusul dirinya dari belakang. "Tuan, aku akan menelepon sopir!"
Devan menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. "Kau ikut aku ke rumah sakit!" ia menarik tangan Clarissa dan membukakan pintu untuk wanita itu.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Clarissa melihat raut wajah Devan tampak panik dan khawatir.
Sesampainya di rumah sakit, Devan mengenggam tangan Clarissa menyusuri lorong mencari kamar inap Oma Fera.
Clarissa terus memandangi tangan Devan yang menggenggam tangannya, ia menarik sudut bibirnya.
Clarissa menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar inap Oma Fera.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa masuk!" jawab Clarissa.
Devan menarik tangan Clarissa tanpa bertanya lagi, wanita itu terlihat gugup saat berhadapan dengan Oma Fera. Sesekali ia menunduk dan berusaha tersenyum walau kaku.
"Kenapa kau membawa dia ke sini?" tatapan mata Fera tertuju pada wanita yang ada di belakang cucunya. Devan segera melepaskan genggaman tangannya.
"Tadi aku dan dia lagi makan siang, Yuki memberi tahu kalau Oma masuk rumah sakit. Jadi, ku bawa saja dia ke sini sebelum mengantarnya pulang," jelas Devan. "Lalu, kenapa Oma bisa pingsan?" tanyanya pada wanita yang telah menjaga dan melindunginya.
"Oma tadi sedikit pusing lalu jatuh dan pingsan," tutur Fera.
Devan mendekati ranjang Fera. "Aku sudah melarang Oma untuk tidak boleh terlalu lelah," ujarnya.
"Oma tadi hanya berkebun saja, tidak melakukan pekerjaan yang berat," jelas Fera.
"Oma pasti lupa minum vitamin?" tanya Devan membuat Fera diam.
"Iya, Tuan. Nyonya tadi menolak minum vitamin," sahut Yuki.
"Keluarga Devan itu cuma Oma saja, jangan berpikir untuk meninggalkan ku seorang diri," ucap Devan duduk di kursi samping ranjang lalu mengenggam tangan Fera.
Clarissa hanya berdiri mendengar dan melihat percakapan antara cucu dan nenek.
"Makanya, kau menikah biar ada yang menemanimu!" ucap Fera.
"Aku pasti akan menikah Oma tapi ku berharap dengan gadis itu," ujar Devan.
__ADS_1
Clarissa mendengar kata gadis itu, membuat hatinya sakit. Ia harus menerima kenyataan kalau Devan mencintai wanita lain.
"Kau saja belum menemukannya," celetuk Fera.
"Suatu saat aku akan menemuinya," ucap Devan berharap.
-
Devan dan Clarissa keluar secara bersama dari ruangan rawat inap Oma Fera.
"Tuan, saya pulang naik taksi saja!"
"Aku yang akan mengantarmu pulang," ucap Devan.
Clarissa tersenyum simpul, mendengar ajakan Devan untuk mengantarkannya pulang. Selama perjalanan Clarissa memilih diam, ia memandangi jalanan dari kaca jendela mobil.
Devan heran melihat perubahan wanita yang ada disampingnya itu, biasanya Clarissa akan terus mengoceh membuat Devan ingin mengunci mulutnya.
"Kau kenapa?" tanya Devan.
"Hah, aku hanya lelah saja," jawab Clarissa asal.
"Tidurlah!"
"Aku beristirahat di apartemen saja," ucap Clarissa singkat.
Sesampainya di apartemen, Clarissa membuka seat belt lalu mengucapkan terima kasih kepada Devan. Ia lalu bergegas turun dan mempercepat langkahnya.
-
-
Clarissa membuka pintu apartemen miliknya beruntung kedua temannya tidak berada di dalam, ia menjatuhkan tubuhnya di sofa tamu. Ia merutuki dirinya yang telah jatuh hati pada pria yang mencintai wanita lain.
Ia pun memilih ke kamarnya dan memejamkan matanya agar pikirannya sedikit tenang.
"Tolong!" teriak seorang anak laki-laki.
Clarissa berlari ke sana kemari bingung, ia tidak mahir berenang. "Ibu tolong Evan!"
Clarissa terbangun dengan nafas terengah-engah. "Mimpi itu lagi!" batinnya.
Ia berjalan ke dapur mengambil air putih lalu meminumnya, ia duduk di meja makan lalu kembali mengingat perkataan Devan tentang penculikan di kota kelahirannya.
"Apa mungkin anak laki-laki itu adalah Devan?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Jika benar, itu artinya kalungku ada bersama dirinya," ucapnya lirih. "Lalu gadis yang dimaksud Devan dan Nyonya Fera, siapa?" tanyanya dalam hati.
......................
Hari ini adalah hari terakhir kerja sama Clarissa dengan Arta Fashion. Ia akan melakukan syuting kembali dengan model pria pendatang baru.
Arta Fashion kembali meluncurkan produk terbarunya. Raka tidak lagi di pasangkan karena produknya tak sesuai dengan diri model itu. Devan juga tak ingin Clarissa terlalu dekat dengannya.
__ADS_1
Devan juga meminta sutradara agar tidak ada adegan berpelukan atau bergandengan tangan.
Empat jam kemudian, syuting berakhir. Selama proses Devan hanya melihatnya sejam saja. Setelah semua bersiap akan pulang, Hilman menghampiri Clarissa dan mengatakan kalau Presdir ingin bertemu dengannya.
Clarissa dengan langkah malas, ia memasuki ruangan Presdir untuk terakhir kalinya karena kontrak kerja sama mereka telah berakhir.
"Selamat sore, Tuan!" sapanya.
"Tumben!"
"Ada keperluan apa anda memanggil saya?" Clarissa bersikap tenang dan sopan. Ia masih dengan posisi berdiri, biasanya ia tanpa di suruh sudah duduk saja di sofa atau kursi.
Devan menyunggingkan senyumnya. "Kau seperti bukan Clarissa yang ku kenal!"
"Saya tidak memiliki banyak waktu, ada apa Tuan memanggil?" tanya Clarissa ketus.
"Aku ingin menawarkan kembali kontrak kerja sama kita," jawab Devan.
"Saya tidak bisa, Tuan!" tolak Clarissa.
"Aku akan memberikan lima kali lipat bonus untukmu," ujar Devan.
"Maaf saya tidak bisa, Tuan!" ucapnya tegas.
Devan mendekati Clarissa dan meraih tangannya namun dihempaskan oleh wanita itu. "Hei, kau kenapa?"
"Saya tidak bisa melanjutkan kontrak dengan Arta Fashion lagi," jawab Clarissa tanpa menatap Devan.
"Kenapa?"
"Saya sudah memiliki pekerjaan yang lain," jawab Clarissa bohong.
"Ada apa sebenarnya denganmu?" Devan semakin mendekati Clarissa hingga jarak keduanya hanya lima centimeter.
Clarissa segera membuang wajahnya. "Saya tidak apa-apa!"
"Lalu, kenapa kau begitu dingin padaku?"
Clarissa tersenyum tipis, "Bukankah anda tidak menyukai saya yang terlalu genit dan menggoda?"
Devan semakin bingung dengan perubahan Clarissa sejak dari rumah sakit, wanita itu semakin dingin dan menjauhinya.
"Saya harus pergi, terima kasih sudah mempercayai saya setahun ini sebagai model di perusahaan anda!" Clarissa bersiap pergi namun lengan tangannya di tarik.
"Jangan pergi dari Arta Fashion!" pinta Devan menatap wajah Clarissa.
"Tapi saya harus pergi, Tuan!" ucapnya lirih.
Tangan kanan Devan menarik pinggang Clarissa dengan cepat ia mencium lembut bibir wanita yang ada didepannya. Bukannya menolak, Clarissa malah menikmatinya.
Suara ketukan pintu membuat mereka melepaskan tautan bibirnya. Dengan nafas memburu keduanya sejenak saling menatap.
__ADS_1
Dengan cepat, Clarissa bergegas keluar meninggalkan ruangan Presdir.