
Ardian menghampiri istrinya di kamar yang kelihatan cemas dan panik. "Apa yang ingin Mama bicarakan?"
"Devan, anak yang selama ini ku ceritakan. Aku takut, Pa!" jawab Claudia gemetaran.
Ardian menghela nafasnya. "Mama, tenanglah!"
"Aku takut kalau Devan tahu sebenarnya, dia pasti akan meninggalkan Clarissa," ucap Claudia terbata sambil meremas kedua tangannya.
"Mama tenanglah, Devan tidak mungkin seperti itu. Papa yakin dia tulus mencintai Clarissa," ujar Ardian menyakinkan.
"Tapi, jika itu terjadi bagaimana?"
"Kita cukup diam saja, jika memang hal itu terjadi. Kamu harus menjelaskannya," jawab Ardian.
Claudia mengangguk pelan menyetujui saran suaminya.
"Ayo, kita keluar. Anak-anak sebentar lagi pulang," Ardian membantu istrinya berdiri berjalan keluar kamar.
Raya yang baru pulang bersama kedua adiknya melihat ada dua kotak kue di meja tamu. "Sepertinya kita kedatangan seseorang?"
"Clarissa dan calon suaminya baru saja ke sini," jawab Ardian.
"Clarissa akan menikah dengan pria pembersih itu?" Raya tak percaya.
"Iya," jawab Claudia pelan.
"Kapan mereka akan menikah?" tanya Raya.
"Tiga bulan lagi," jawab Ardian. Karena obrolan di meja makan tadi, kedua calon pengantin itu mengatakan akan mempercepat pernikahannya dan Ardian beserta istrinya setuju saja.
"Wah, baguslah kalau begitu," ucap Raya.
__ADS_1
-
Kediaman Artama
"Jadi Tante menyetujui jika Devan menikah dengan anak dari wanita itu?" tanya Siska pada Fera.
"Ya, karena Clarissa dan ibunya yang menolong Devan kala itu. Jadi ku tak bisa menolak keinginannya menikahi model itu," jawab Fera.
"Tante yakin jika mereka menolongnya?"
"Aku percaya pada cucuku dan kalung itu sama dengan yang di pakai Clarissa waktu kecil."
"Aku tidak yakin, Tante. Apa lagi wanita licik itu pasti ikut campur hubungan mereka. Devan pria tampan dan kaya, ibu mana yang tidak bahagia jika putrinya berhasil memikatnya."
"Siska, cukup!" ucap Fera. "Jika cucuku bahagia, aku tidak keberatan," lanjutnya lagi.
"Tapi, Tante. Bagaimana jika wanita itu sama dengan ibunya?"
"Baik, Tante!" ucap Siska sedikit kecewa.
-
-
Malam ini, Devan sengaja meminta Rey dan Hilman bertemu di sebuah kafe terdekat dari kediaman Artama.
"Ada apa kau memanggilku kemari?" tanya Rey yang duduk di depan sepupunya dan Hilman di sisi kanannya.
"Aku meminta saran dari kalian berdua," ucap Devan.
"Saran apa?" tanya Rey.
__ADS_1
"Aku ingin membuat acara lamaran yang berbeda dari yang lain," jawabnya.
"Kau ingin menikah?" Rey tak menyangka jika sepupunya yang dingin dan pembersih akan segera menikah. "Dengan siapa?" Ia mendekatkan wajahnya di hadapan Devan.
"Dengan Nona Clarissa, Tuan Rey!" sahut Hilman.
"Oh, aku kira dengan wanita lain," ujar Rey santai.
"Bisakah kalian berikan aku masukan?" tanya Devan.
"Bagaimana jika Tuan datang ke restoran bersama Nona, lalu di makanan itu letakkan sebuah cincin," usul Hilman.
Devan membayangkan lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau, sangat menjijikkan dan berbahaya. Bagaimana jika cincin itu termakan Clarissa?" Ia tak bisa membayangkan calon istrinya itu memegang lehernya terus menangis menahan sakit.
"Bagaimana jika bawa dia ke tengah laut, kalian sewa kapal pesiar lalu kau melamarnya?" usul Rey.
"Aku tidak mau," tolak Devan. "Aku takut tenggelam!" ucapnya lagi.
"Jadi, kau mau yang seperti apa?" tanya Rey.
"Aku mau lain dari yang lain, orang lain belum pernah melakukannya," jawab Devan.
Rey dan Hilman, menggerakkan kepalanya dan matanya dan terus berpikir.
"Bagaimana?" tanya Devan.
Rey menaikkan kedua bahunya, "Aku tidak punya ide lagi!"
"Kau?" tatapan Devan menuju sekretarisnya.
Hilman menghela nafasnya, "Saya juga tidak ada ide, Tuan!"
__ADS_1
"Kalian payah!" Devan mendengus kesal.