Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Keributan Raya dan Intan


__ADS_3

Raya mendatangi Arta Fashion ingin bertemu dengan Clarissa sekaligus kekasihnya. Ia ingin berpamitan kembali ke Kota B.


Namun, saat ia sampai di parkiran gedung. Intan menghampiri kekasihnya yang berjalan ke dalam gedung Arta Fashion.


Dengan tersenyum manja Intan menyapa Rey yang tidak tahu jika kekasihnya datang. Intan meraih lengan tangan Rey dan bergelayut manja. Pria itu berusaha untuk melepas pegangan Intan.


Raya yang posisinya berada di belakang, mengepalkan tangannya menatap geram. Ia pun berjalan cepat mendekati model Arta Fashion. "Dasar wanita tak tahu diri!" Ia menjambak rambut Intan membuat wanita itu kesakitan dan memegang kepalanya.


"Raya, hentikan!" Rey berusaha melepaskan genggaman kekasihnya dari rambut Intan.


"Aduh, sakit!" teriak Intan.


-


"Sayang, kenapa ramai sekali?" Clarissa dan suaminya yang baru saja datang, melihat beberapa karyawan sedang berkumpul.


"Apa yang terjadi?" tanya Devan pada salah satu karyawannya yang kebetulan sedang berlari dan hendak mendekati tempat kejadian.


"Nona Intan bertengkar dengan kekasih Tuan Rey," jawabnya.


"Oh," Devan bersikap santai. "Suruh karyawan yang lainnya untuk bubar!" perintahnya pada karyawan pria tersebut.


"Baik, Tuan!" Ia menundukkan kepalanya lalu pergi menghampiri rekannya untuk membubarkan diri.


"Sayang, aku lihat ke sana 'ya?" izin Clarissa.


"Ya, tapi ingat kau jangan ikutan berkelahi," Devan mengingatkan istrinya.


"Iya, sayang!" Clarissa tersenyum.

__ADS_1


"Aku pergi ke ruangan dulu, kau atasi saja mereka. Jika dirimu terluka, aku tidak akan memaafkanmu!" ancam Devan.


"Aku yang terluka, kenapa kau tidak memaafkan ku?"


"Karena aku menyayangimu!"


"Tenang saja, sayang!" Clarissa pun pergi menghampiri Raya sementara Devan pergi ke ruang kerjanya.


Raya dan Intan masih beradu mulut, manajer sang artis dan Rey sulit untuk memisahkan keduanya.


"Ada apa ini?" Clarissa bersuara lantang membuat keempatnya menoleh ke arahnya.


"Wanita ini lebih baik dikeluarkan saja!" Raya menunjuk wajah Intan.


"Hei, memang kau siapa?" Intan tak mau kalah menatap galak Raya.


"Sudah cukup!" teriak Clarissa. "Apa kalian tahu ini kantor?" Clarissa berbicara tegas.


"Hei, kau yang menggoda kekasihku. Murahan!" teriak Raya.


"Raya, aku kita pulang!" Rey berusaha menarik tubuh kekasihnya agar menjauh dari Intan.


"Apa kau bilang, aku murahan?" Intan menjambak rambut Raya.


Manajer Intan berusaha mencegah tangan sang model agar melepaskan tarikannya.


Raya membalas dengan menjambak rambut Intan.


"Raya, cukup!" Clarissa memegang tangan saudara tirinya.

__ADS_1


"Wanita ini harus diberi pelajaran, Rissa!" Raya terus mengomel.


Akibat tarik menarik membuat Clarissa terdorong dan jatuh. "Auww!" meringis kesakitan.


Rey, Raya, Intan dan manajernya melihat ke arah Clarissa.


"Nona, anda tidak apa?" Hilman mendekatinya.


Clarissa berdiri dengan memegang bokongnya.


"Apa yang kalian lakukan pada istriku?"


Suara bariton itu membuat keenamnya mendelikkan matanya dan menelan saliva.


"Hem, sayang. Mereka tidak sengaja!" Clarissa mendekati suaminya.


"Gajimu aku potong!" Tatapan mata Devan ke arah sekretarisnya yang kepalanya tertunduk lalu menatap Rey dan Intan, "Dan kalian berdua juga!"


"Tapi, Tuan..." Intan berusaha memohon.


"Kami siap menerima konsekuensinya, Tuan!" sambung manajer Intan, membuat sang model mendengus kesal.


Devan menarik tangan istrinya dan membawanya ke ruangan mereka, lalu ia mendudukkannya di sofa. "Kalau aku tidak ke sana mungkin keributan tadi takkan berhenti!"


Clarissa masih tertunduk bersalah, ia tak berani menatap suaminya.


"Aku sudah bilang padamu..."


"Tapi aku tidak terluka," potong Clarissa.

__ADS_1


"Jika sampai kau terluka, aku akan memecat mereka!" ancam Devan.


__ADS_2