Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Membujuk Clarissa


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Yuna dan Tina, sekretaris Presdir kembali ke kantor untuk memberikan laporan kepada Devan.


"Nona Clarissa menolak untuk kembali, Tuan!" ucap Hilman sedikit ketakutan.


Braaak...


Suara gebrakan meja membuat Hilman terjengat kaget dan memundurkan tubuhnya selangkah.


"Masa hal seperti ini saja kau tidak bisa!" bentaknya.


"Maaf, Tuan. Saya sudah memohon pada manajer dan asistennya," ucap Hilman.


"Aku minta padamu untuk menemui dia bukan kedua wanita itu!" Devan bersuara lantang.


"Nona Clarissa menolak bertemu, Tuan!" ucap Hilman.


"Biar saya yang bicara dengan kedua temannya itu," ucapnya. "Hubungi mereka sekarang!" perintahnya.


"Baik, Tuan!" Hilman pun keluar dari ruangan dan menghubungi manajer Clarissa.


Sepulangnya dari kantor, Devan dan Hilman bertemu dengan Yuna dan Tina kembali di tempat yang sama saat tadi siang.


"Ada apa lagi kalian ingin bertemu dengan kami?" tanya Yuna sedikit sombong.


"Kami ingin menawarkan kembali kerja sama dengan artis anda," jawab Devan.


"Maaf, Tuan. Semua kami serahkan pada Clarissa, karena dia yang akan menjalaninya," ujar Yuna.


"Kalian bisa memaksanya atau membujuknya untuk mengambil kembali pekerjaan ini," ucap Devan tetap dengan posisi tenang dan angkuh.


"Kami tidak bisa, Tuan!" sahut Tina.


"Saya akan bayar dua kali lipat dari kontrak awal," ucap Devan lagi.


"Kami tidak bisa menerimanya tanpa persetujuan Clarissa," tutur Yuna.


"Nona, tolonglah kami!" mohon Hilman.


Devan melirik sekretarisnya yang memotong pembicaraannya.


"Maaf, Tuan!" Hilman sedikit menundukkan kepalanya.


"Kami tidak bisa menerimanya. Anda saja yang coba untuk membujuknya," ucap Yuna membuat Devan tak bisa berbicara.


"Tidak ada lagi yang mau kita bicarakan, kami mau pulang!" ucap Tina yang sudah berdiri.


"Baiklah, aku akan membujuknya," ucap Devan membuang wajahnya.


Hilman yang duduk di samping Presdir tak percaya jika atasannya itu mau mengemis pada seorang wanita untuk produknya. Termasuk Yuna dan Tina yang saling pandang.


"Clarissa berada di daerah Danau Pelangi, ia menginap di Hotel Langit," ungkap Yuna.


"Kalau begitu kami permisi, Tuan!" pamit Tina.

__ADS_1


"Kita pergi ke sana, Tuan?" tanya Hilman dengan hati-hati.


"Ya," jawab Devan.


...----------------...


Pagi harinya, Devan dan Hilman berangkat ke kota D tempat Clarissa kini menghabiskan waktu liburannya. Yuna dan Tina sengaja tidak memberi tahu temannya jika Presdir Arta Fashion akan menemuinya.


Selama perjalanan menuju kota itu, mereka menggunakan sopir. Devan duduk di kursi penumpang, ia berusaha mengingat tempat yang mereka tuju. Ia merasa seperti pernah mengunjungi Danau yang disebut Yuna.


"Tuan, jika anda lelah lebih baik beristirahatlah!" ucap Hilman dari kursi penumpang samping sopir.


"Berapa lama lagi perjalanan kita?" tanya Devan.


"Kurang lebih 1 jam lagi," jawab Hilman.


Devan melihat jam di tangannya sambil menatap jalanan.


-


Tepat pukul 12 siang, Devan dan sekretarisnya tiba di Hotel Langit. Hilman memesankan dua kamar untuk mereka inap. Sebelumnya dirinya meminta kamar khusus Presdir di bersihkan ulang pihak hotel menyetujuinya.


Kamar Devan bersebelahan dengan kamar Clarissa yang kebetulan tidak ada yang mengisinya dan tentunya Hilman yang berbicara dengan pihak manajer hotel.


"Tuan, sebaiknya kita makan siang. Kamar anda sedang dibersihkan ulang dan bersebelahan dengan kamar Nona Clarissa," ucap Hilman.


"Kerja yang bagus!" Devan berjalan ke restoran hotel.


Suara ketukan pintu terdengar, Devan membuka pintu dan sekretarisnya itu memberikan laporan kepadanya.


"Apa Tuan ingin berbicara dengan Nona Clarissa sekarang?" tanya Hilman.


"Nanti saja!"


"Menurut pegawai di sini, Nona Clarissa akan keluar pada sore hari. Ia akan dikawal dua orang pengawal," jelas Hilman. "Biasanya dua orang itu akan berada di depan kamar jika Nona Clarissa berencana akan keluar," lanjutnya menjelaskan lagi.


"Apa di depan kamarnya sekarang ada pengawalnya?" tanya Devan.


"Belum ada, Tuan. Sebaiknya sekarang saja anda menemuinya," usul Hilman.


Devan berjalan ke arah pintu dan memegang knop pintu namun ia urungkan dan kembali lagi.


"Kenapa Tuan? Apa perlu saya temani?" tanya Hilman.


"Tidak, kembalilah ke kamarmu!" ucapnya.


"Baik, Tuan!" Hilman meninggalkan kamar atasannya itu.


Devan menarik nafas dalam-dalam lalu ia buang, ia berusaha tetap tenang lalu ia memberanikan diri menemui Clarissa.


Kini ia sudah berada di depan kamar Clarissa, ia berdiri di sana lebih kurang lima menit dan akhirnya ia mengetuk pintu dengan keras.


Clarissa yang baru saja selesai mandi, terburu-buru membuka pintu kamarnya. Tubuhnya sejenak terdiam melihat seseorang yang ada didepannya. "Presdir!" ucapnya tak percaya.

__ADS_1


"Boleh aku masuk!" ucap Devan.


"Silahkan!" Clarissa mempersilakan tamunya masuk.


Devan masuk ke dalam kamar Clarissa dan duduk di sofa tamu tak lupa ia menyemprotkan cairan anti kuman.


"Ada apa anda ke sini?" tanya Clarissa ketus.


Devan melihat tubuh Clarissa dari atas kepala hingga kebawah.


Clarissa melihat arah pandangan Devan ke arah tubuhnya. Tanpa ia sadari dirinya masih menggunakan handuk kimono dengan rambut basah. Dengan cepat ia mengambil selimut menutupi tubuh bagian dada yang sedikit terbuka. "Cepat katakan ada apa anda menemuiku?" tanyanya sekali lagi.


"Aku ingin kau kembali lagi ke Arta Fashion," jawab Devan tanpa menatap wanita yang ada di depannya.


Clarissa tersenyum sinis. "Tidak salah dengar, bukankah anda yang telah mengusirku?"


"Aku juga terpaksa memintamu kembali," jawab Devan yang telah kalah malu.


"Aku tidak ingin kembali," ucap Clarissa membuat Devan mendongakkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Karena aku sudah tidak ingin bekerja sama denganmu," jawabnya.


"Kau tidak bisa begitu, aku jauh-jauh ke sini untuk menemuimu," ucap Devan mulai kesal.


"Aku tidak memintamu ke sini," ujar Clarissa sombong.


"Kau, ya. Benar-benar kelewatan, aku juga kalau tidak demi perusahaan takkan mau bertemu denganmu," Devan mendengus kesal.


"Oh, ya. Silahkan cari model pengganti!" ucap Clarissa.


Devan berdiri dari duduknya, ia menghela nafasnya dan sejenak berpikir untuk mencari cara agar Clarissa menerima tawarannya kembali. "Aku akan membayar honormu dua kali lipat," ucapnya.


"Tidak mau!" tolak Clarissa.


"Tiga kali lipat!" ucap Devan lagi.


"Tidak!"


"Hei, honor segitu cukup besar. Itu sama dengan honor bintang dunia," ucap Devan.


"Aku tetap tidak mau," tolak Clarissa.


Devan memijit keningnya dan kembali terduduk. Melihat hal itu Clarissa memilih memakai pakaiannya di kamar mandi. Tak sampai 15 menit, Clarissa telah rapi tak lupa ia berias. Ia tidak terlalu mempedulikan pria yang ada di kamarnya itu.


"Kau mau ke mana?" tanya Devan.


"Bukan urusan anda!" jawabnya. Clarissa memperhatikan penampilannya di cermin lalu ia mengambil tas dan ponselnya. "Aku mau keluar, anda mau di sini saja?" tanyanya.


Devan segera berdiri dan meninggalkan kamar Clarissa hal itu mendapat tatapan dari kedua pengawal sang artis yang telah menunggu di depan kamar.


Devan kembali ke kamarnya, ia melayangkan pukulan ke udara karena kesal dengan sikap Clarissa yang jual mahal. "Aku akan buat perhitungan denganmu jika kau sudah kembali lagi!" gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2