
"Apa ada pemotretan hari ini?" tanya Devan pada sekretarisnya sebelum ia masuk ke ruangannya.
"Tidak ada, Tuan!"
"Tanyakan pada manajernya, adakah jadwal syuting dia hari ini selain dengan Arta Fashion," titah Devan.
"Hah!"
"Kenapa diam? Cepat laksanakan!"
"Baik, Tuan!" Hilman menelepon Yuna, sedangkan Devan ke ruangannya.
Lima menit kemudian, Hilman menemui Presdir dan menyampaikan hasil pembicaraannya dengan manajer Clarissa.
"Bagaimana?" Devan begitu tak sabar.
"Nona Clarissa pagi ini tampil di stasiun televisi sebagai bintang tamu talk show, lalu pukul dua belas ia makan siang bersama Tuan Hiko Andreas," jawab Hilman.
"Siapa pria itu?"
"Kata Yuna, dia investor di perusahaan milik ayah tirinya Nona Clarissa," Hilman menjawab lagi.
"Kenapa makan siang bareng Clarissa? Kenapa tidak dengan saudara tirinya? Apa Clarissa ikutan memegang perusahaan ayah sambungnya?" deretan pertanyaan ia berikan kepada Hilman.
"Saya tidak tahu, Tuan!"
"Kenapa kau tidak bisa tahu?" bentak Devan.
"Saya bukan manajernya atau kekasihnya, Tuan!"
"Jadi kau ingin menjadi kekasih Clarissa, hah?" tanya Devan dengan nada tinggi.
"Bukan begitu, Tuan!" Hilman tampak ketakutan dan gugup.
"Jadi pertanyanmu tadi?"
"Maafkan saya, Tuan!" Hilman tak berani menatap Devan.
"Tanyakan kenapa Clarissa menerima ajakan pria itu?"
"Kenapa tidak Tuan saja yang menanyakannya?" ceplos Hilman.
"Kenapa kau malah menyuruhku?" sentak Devan.
"Bukankah anda kekasihnya?"
"Aku tidak punya nomor ponselnya!"
"Hah!"
"Kenapa terkejut? Biasanya aku tinggal menyuruhmu untuk menghubungi dia!" ujar Devan memberi alasan.
"Saya akan meminta Yuna mengirimkan nomor ponsel Nona Clarissa," ucap Hilman.
"Sudah sana, minta sekarang juga!"
"Baik, Tuan!" Hilman pun keluar ruangan.
Tak sampai menunggu lama, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik Devan. Entah kenapa dia tak suka kalau Clarissa dekat dengan pria lain. Padahal ia tak berhak mengatur wanita itu.
Devan menekan nomor yang dikirim sekretarisnya itu, tak lama nomor itu tersambung.
"Halo, ini siapa?" sapa wanita dari ujung teleponnya.
Devan masih diam dan mendengar suara Clarissa.
"Halo!" Clarissa sedikit berteriak.
"Apa kau tidak bisa berbicara dengan lembut?"
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku bisa bicara lembut, kalau anda saja tidak memberi tahu nama," jawab Clarissa kesal.
"Aku Devan Artama!"
"Anda jangan mengaku sebagai Presdir Arta Fashion," ucap Clarissa.
"Hei, untuk apa aku membohongimu?" Devan mulai kesal.
"Aku tidak percaya!" jawab Clarissa.
"Clarissa Ayumi, maukah honor kerjamu aku potong?"
"Apa!" teriak Clarissa membuat Devan menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Jadi, anda Presdir Arta Fashion. Maafkan aku!" ucap Clarissa bersalah.
Devan kembali menempelkan ponsel di telinganya. "Bisakah kalau tidak teriak?"
"Maafkan aku, ada apa anda menelepon?" Clarissa yang sedang berada di mobil tersenyum.
"Apakah kau punya waktu untuk makan siang nanti?"
"Aku sudah memiliki janji dengan orang lain, Tuan!"
"Kau harus membatalkannya!" perintah Devan.
"Saya tidak bisa membatalkannya, Tuan."
"Kenapa?"
"Saya sudah berjanji dengannya dua hari yang lalu," jawab Clarissa.
"Batalkan saja!" perintah Devan.
"Tuan, kau baik-baik saja 'kan?" tanya Clarissa heran.
"Iya, aku baik-baik saja!" jawabnya ketus.
"Maaf, Tuan. Saya menolak permintaan anda kali ini," ucap Clarissa berusaha tenang.
"Astaga, Tuan. Kenapa anda hobi memotong honor, sih?"
"Kau ingin membatalkannya atau di potong?"
"Baiklah, aku akan membatalkannya!" jawab Clarissa
"Aku tunggu di restoran kemarin jam 12 siang tak boleh terlambat!"
"Iya, Tuan!"
Devan menutup teleponnya lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi. "Kenapa aku seperti pria yang cemburu?" gumamnya.
Sementara itu di stasiun televisi swasta nasional, sebelum melakukan syuting Clarissa mengirimkan pesan kepada Hiko kalau ia tak bisa memenuhi janjinya untuk makan siang bersama dan pria itu pun memakluminya.
Clarissa melakukan syuting di studio televisi itu selama kurang lebih dua jam karena acara tidak akan dilaksanakan secara langsung.
Tepat pukul 11 siang, Clarissa meminta sopir mengantarnya ke restoran tak jauh dari Arta Fashion.
"Kenapa mobilnya ke sana?" tanya Yuna ketika melihat mobil tidak ke arah restoran tempat janjian Hiko dan Clarissa.
"Aku membatalkan bertemu dengan Tuan Hiko," jawab Clarissa.
"Kenapa?" tanya Tina.
"Presdir memintaku bertemu di restoran yang kemarin," jawabnya.
"Kau tidak bisa membatalkan makan siang dengan Tuan Hiko, bagaimana kalau dia tak jadi berinvestasi di perusahaan Paman Ardian?" tanya Yuna.
"Presdir mengancamku dengan cara yang biasa ia lakukan," jelas Clarissa.
"Memang itu Presdir sesuka hatinya saja!" gerutu Tina.
__ADS_1
-
Clarissa telah tiba di restoran tempat yang dijanjikan. Ia berjalan ke meja yang menjadi favorit pria itu, sesampainya di sana ia melihat Devan sudah menunggunya. Padahal jarum jam lima menit lagi menunjukkan angka dua belas.
"Aku tidak terlambat, Tuan!" sapa Clarissa.
"Silahkan duduk!"
"Hah!" Clarissa masih berdiri.
"Duduk!" perintahnya. "Kau mau berdiri saja?" Devan menatap wanita yang ada didepannya itu.
Clarissa menarik kursi dan duduk. "Ada apa Tuan memaksaku bertemu?"
"Siapa yang memaksamu bertemu?"
"Astaga, Tuan. Tadi siapa yang meminta aku membatalkan bertemu dengan Hiko?" sindirnya.
"Aku tak mau mendengar nama pria itu!" jawab Devan tegas.
"Anda seperti pria yang sedang cemburu?" Clarissa tersenyum menggoda.
"Siapa yang cemburu?"
"Coba Tuan berkaca, wajah anda terlihat memerah padahal aku tidak menyentuhnya," jawab Clarissa semakin membuat Devan salah tingkah.
Devan menyipitkan matanya.
"Aku tidak akan menggoda anda lagi. Ada apa Tuan menyuruhku ke sini?" tanya Clarissa serius.
"Kita makan siang dahulu, setelah itu aku akan menanyakan sesuatu padamu," jawab Devan.
"Baiklah, kalau begitu!" ujar Clarissa.
Mereka memesan makanan tak ada pembicaraan namun sesekali Devan melirik Clarissa dan tersenyum ketika melihat wanita itu menunjukkan wajah imutnya.
"Aku ingin kau membantuku mencari seseorang," pinta Devan ketika selesai makan siang.
"Anda pikir aku ini detektif!" Clarissa tergelak.
"Aku serius Clarissa!" ucap Devan.
"Baiklah!" Clarissa menunjukkan wajah serius.
"Aku mempunyai kenangan di Danau Pelangi di Kota D," ucap Devan.
"Ya, lalu?"
"Beberapa tahun yang lalu aku pernah di culik," Devan mulai bercerita.
Clarissa menutup mulutnya tak menyangka kalau semasa kecil Presdir pernah menjadi korban penculikan.
"Aku tidak ingat nama penculiknya, tapi jika aku bertemu dengannya pasti ku mengingatnya. Kata Oma pelakunya adalah teman Papaku," Devan melanjutkan ceritanya.
"Oma Tuan juga tidak tahu siapa penculiknya?"
"Dia hanya tahu kalau penculik itu mempunyai anak perempuan," jelas Devan.
"Jika kedua orang tua Tuan tahu pelakunya, kenapa tidak di tahan?"
"Kedua orang tuaku memilih memaafkannya," jawab Devan.
"Mulia sekali kedua orang tua anda!" puji Clarissa. "Kenapa memaafkannya?" tanyanya.
"Pria itu menculik karena terjerat utang," jawab Devan.
Mendengar kata utang, Clarissa teringat tentang ayahnya yang telah tiada.
"Saat penculikan itu aku berhasil kabur dari tempat penyekapan," jelas Devan.
__ADS_1
"Lalu?"