
Tujuh belas tahun kemudian....
Rambut dikucir, memakai kacamata hitam seorang gadis turun dari mobil. Ia tampak begitu cantik dan menawan. Di samping kirinya, pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan berwibawa.
Ya, hari ini Raisa bekerja di kantor warisan dari kakek buyutnya. Seluruh karyawan menundukkan sedikit kepalanya memberi hormat.
"Kamu satu ruangan dengan Papa," ujar Devan. Sesampainya keduanya di ruang kerja.
"Kenapa satu ruangan sih, Pa?" protesnya.
"Biar Papa bisa mengawasi kinerjamu," jawab Devan.
"Ih, mana bisa bebas Raisa kalau satu ruangan dengan Papa," keluhnya.
"Kalau begitu, kamu di rumah saja menemani Mama," ucap Devan.
Raisa memanyunkan bibirnya.
"Hari ini ada pemotretan, kita akan ke studio!" ajak Devan.
"Ya, Pa."
Raisa dan Devan berjalan ke studio, pagi ini merupakan hari terakhir Celine menjadi brand ambassador Arta Fashion.
Ini kali pertama, Raisa bekerja di kantor dan melihat proses pemotretan. Hampir 30 menit mereka berada di studio foto.
"Apa kita akan mencari model baru lagi, Pa?" tanya Raisa sambil berjalan ke ruangan kerja.
"Ya, kontrak hanya berlaku satu sampai dua tahun," jawab Devan.
"Kalau waktu Mama kenapa bisa sampai tiga tahun?"
__ADS_1
"Karena Mama kamu, wanita yang spesial," Devan tersenyum bangga.
"Papa curang dengan Mama bisa lama, tapi model lainnya hanya sebentar," ujar Raisa.
"Model yang lain bukan pilihan Papa, ada campur tangan Mama kamu dan Paman Hilman," jelas Devan.
"Jadi, Mama yang pilih Papa?"
"Ya."
"Apa Papa begitu mencintai Mama?" Raisa membuka pintu ruangan.
"Sangat mencintainya."
"Siapa yang lebih dahulu mengatakan cinta?" Raisa penasaran.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Raisa tersenyum nyengir. "Hanya sekedar bertanya saja, Pa."
"Tidak ada, Pa." Raisa menggelengkan kepalanya.
"Minggu depan kita akan mencari model baru lagi, Papa harap kamu ikut dalam pemilihannya," ujarnya.
"Bagaimana kalau tahun ini kita cari model utamanya pria?"
"Dari awal Oma Fera yang pimpin, brand ambassador adalah seorang wanita dan pria hanya sebagai pendukung saja," jelas Devan.
"Kita buat yang berbeda, Pa. Seperti gebrakan baru di Arta Fashion," tutur Raisa.
"Nanti kita bicarakan lagi dengan Mama kamu, apa dia setuju atau tidak," ujar Devan.
__ADS_1
"Baiklah, Pa."
"Seandainya kita memilih model pria, Papa harap kamu tidak jatuh cinta padanya," Devan memperingatkan.
"Kenapa, Pa?"
"Mama kamu adalah mantan seorang model dan artis. Papa tidak mau wartawan menyerbu rumah kita karena kedekatanmu dengan selebritis," jelas Devan.
"Iya, Pa. Tapi Raisa tak bisa berjanji," Ia tersenyum nyengir.
"Apa kamu mau Papa kirim ke luar negeri?"
"Iya, Raisa berusaha berjanji," ujarnya.
-
-
Devan dan putrinya tiba di rumah pukul 6 sore.
Clarissa sedang mempersiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya.
Ada beberapa pelayan yang diganti termasuk Yuki, asisten pribadi Oma Fera. Karena usianya sudah senja, waktunya ia beristirahat di rumah. Namun, hubungan diantara mereka masih terjalin dengan baik.
Selesai membersihkan diri, Raisa menghampiri ibunya yang sibuk menyajikan hidangan di meja makan.
"Ma, boleh tanya sesuatu?" bisiknya.
"Tumben sekali kamu bertanya sambil berbisik seperti ini," Clarissa menatap heran putrinya.
"Ini rahasia antara wanita saja," Raisa tersenyum malu-malu.
__ADS_1
"Nanti saja bertanyanya, Papa dan adik kamu mau makan," Clarissa kembali melanjutkan aktivitasnya, mondar-mandir di dapur dan ke ruang makan.
"Iya, Ma." Raisa pun membantu ibunya mengangkat lauk pauk.