
Sore harinya mereka kembali pulang. Tetap di bus yang sama, Kirani duduk berdua dengan Eza. Wanita itu menatap sinis Raisa.
"Nona, anda ingin minum?" tawar Lita.
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama, Nona." Lita menawarkan minuman kepada artisnya.
Eza mengambil sebotol air mineral yang diberikan manajernya.
"Kak, untukku mana?" tanya Kirani.
"Kau siapa? Ambil saja sendiri," jawab Lita ketus, ia lalu kembali ke bangku penumpang.
Kirani merenggutkan bibirnya. "Eza, Kak Lita selalu saja memusuhiku. Memangnya apa salahku?" dengan wajah manja.
"Sudahlah, jangan diperpanjang ambil saja punyaku," Eza menyodorkan botol air mineral.
"Terima kasih, sayang. Kamu sangat perhatian sekali denganku," Kirani semakin erat memeluk lengan Eza.
Raisa yang duduk dibelakang terbakar cemburu berdiri ia lalu berjalan ke arah sopir. Tak lama kemudian bus berhenti. Ia turun seorang diri tanpa ditemani siapapun.
Eza yang melihatnya, bergegas berdiri lalu berjalan ke arah sopir. "Kenapa Nona Raisa turun?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Tapi, memang dia yang memintanya. Apa dia menunggu bus yang lain?" tanyanya.
"Saya juga tidak tahu, Tuan."
Eza melihat ke kaca belakang bus, Raisa menaiki sebuah mobil mewah berwarna putih. Hatinya lega, jika wanita itu baik-baik saja. Ia lalu kembali ke bangkunya.
"Kenapa sih' kamu peduli dengannya?" tanya Kirani pelan.
"Karena dia pasangan kerjaku sekaligus atasan tempatku mengejar karir," jawabnya.
"Kalian sangat akrab, apa kamu menyukainya?"
Pertanyaan Kirani membuat Eza terdiam dan tidak bisa menjawab.
"Sayang, kenapa tidak dijawab?" Kirani menatap wajah Eza.
"Rani, diamlah. Para kru sedang beristirahat," Eza memberi alasan padahal ia menghindari pertanyaan Kirani.
"Baiklah," Kirani tersenyum manja.
...----------------...
__ADS_1
Eza bersiap akan melanjutkan pekerjaannya pagi ini, namun begitu membuka pintu apartemen Kirani sudah berada didepannya.
"Hai, Za!"
"Rani, ada apa pagi-pagi begini ke sini?" Eza menatap heran.
"Aku ingin ikut kamu bekerja," jawabnya.
"Maaf, Rani. Aku tidak bisa membawamu kali ini," ujar Eza.
"Kenapa?"
"Karena ini hanya menghadiri talk show salah satu stasiun televisi," jawab Eza.
"Tapi, aku ingin menemani kamu."
"Lain waktu saja, ya!"
"Jangan lupa memberi kabar padaku, Za!" pintanya.
"Aku akan usahain, ya!" ujar Eza tersenyum.
Lita bersama dua asisten artis yang baru saja keluar dari apartemen Eza menatap tak suka kepada Kirani.
"Masih punya wajah, sudah pergi malah kembali buat menikmati kesuksesan," sindir Lita. Ia pun berjalan menyusul Eza.
-
-
Hadir juga Raisa dan temannya di acara tersebut. Ia begitu menikmati hiburan yang disediakan sembari bercanda. Namun, senyumnya seketika memudar saat melihat Eza dan Kirani datang dengan bergandengan tangan.
"Di mana-mana selalu mereka?" geramnya dalam hati.
Kirani menyadari Raisa melihatnya semakin membuat wanita itu cemburu. Ia dengan sengaja memeluk lengan Eza dan memegang pipinya.
Keduanya duduk tak jauh dari tempat duduknya Raisa dan teman-temannya.
Eza akhirnya menyadari keberadaan Raisa di tempat itu. "Dengan siapa dia di sini?" batinnya.
Eza ingin menghampiri Raisa namun Kirani mencegatnya. "Mau ke mana sayang?"
"Aku ingin berbicara dengan Nona Raisa."
"Besok saja di kantor, malam ini anggap saja dia orang lain," ujar Kirani.
__ADS_1
Eza pun akhirnya menuruti ucapan Kirani.
Raisa semakin kesal melihat kemesraan keduanya, mengambil minuman yang ditawarkan padanya. Padahal awalnya dia menolaknya. Ia menenggaknya hanya satu gelas berukuran kecil.
Eza yang melihat Raisa minum alkohol terus pandangannya tak luput dari wanita itu.
Raisa memegang kepalanya lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. Eza mencurigai kalau Raisa sedang mabuk.
"Rani, kamu pulang sendiri saja 'ya!" Eza lalu bangkit.
"Kamu mau ke mana?"
"Jangan banyak bertanya, sudah kamu pulang sendiri saja. Uangnya ku beri tadi pagi masih ada, kan?"
"Ada, Za."
"Ya, sudah kamu pulang naik taksi saja!" Eza pun menghampiri Raisa.
Raisa melihat seorang pria mendekatinya, ia berusaha menggelengkan kepalanya agar pikirannya normal. "Kau siapa?" pandangannya tampak buram.
"Mari ku antar pulang, Nona." Eza menarik tangan Raisa.
"Hei, mau di bawa ke mana temanku?" tanya salah satu teman Raisa.
Eza membalikkan badannya.
"Eza Mandala?"
"Ya, saya ingin mengantarnya pulang. Sepertinya dia mabuk," jelas Eza.
"Ya, silahkan." Teman Raisa tahu jika Eza salah satu model produk Arta Fashion.
Eza pun akhirnya memapah tubuh Raisa yang sempoyongan, sesampainya di mobil ia sandarkan di bangku lalu memasangkan sabuk pengaman.
"Kenapa wajahmu mirip pria itu?"
"Pria mana?"
"Pria yang sudah menghancurkan perasaan ku," jawab Raisa tanpa sadar.
"Apa kau menyukainya?" tanya Eza sembari menyetir mobilnya.
"Dari awal bertemu dengannya ku mulai menyukainya," Raisa menjawab dengan mata tertutup.
"Kenapa kau menyukainya?" tanya Eza sekali lagi.
__ADS_1
Namun, Raisa tak menjawabnya karena ia sudah tertidur.
"Sekarang aku harus bawa dia ke mana?" gumamnya.