Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Selesai


__ADS_3

Setelah Dion pergi, Intan memeluk kedua lututnya. Ia menangis sesenggukan. Rambutnya berantakan dan barang yang ada di ruangannya tidak pada tempatnya.


Ayu pun masuk melihat sekelilingnya dan mencari keberadaan Intan setelah ketemu ia pun menghampirinya. "Kau tidak apa-apa?"


Intan lantas memeluk Ayu, dia menangis terisak dipelukan manajernya itu.


"Apa yang terjadi?" Ayu berpura-pura tidak tahu.


"Dion datang ke sini, aku harus mengundurkan dari dunia ini," jelas Intan.


"Maksudmu apa?"


"Aku akan pindah dari kota ini setelah semua kontrak selesai," jawab Intan.


"Kau ingin meninggalkan aku di sini?" tanya Ayu melepaskan pelukannya.


Intan mengangguk, "Utangmu sudah lunas, kau boleh pergi tinggalkan aku!"


"Sebenarnya apa masalahmu? Dion itu pria yang baik, dia sangat mencintaimu. Kenapa kau tidak memberikan kesempatan kepadanya?"


"Aku tidak bisa, aku harus benar-benar menjauhinya. Karena Mamanya sudah memberikan uang kepadaku dan jumlahnya cukup besar," Intan meluapkan rahasia yang selama ini ia simpan.


"Aku tidak mengerti maksudmu apa?"


"Aku disuruh menjauhi Dion dengan imbalan dua ratus juta. Aku menyanggupinya," ungkapnya.


"Kau jual perasaanmu demi uang!" Ayu tak habis pikir dengan jalan pikiran artisnya itu.


"Saat itu aku butuh uang, adikku sakit. Aku tidak memiliki tabungan lagi, jalan satu-satunya Mamanya Dion menawarkan uang itu," tutur Intan.


"Jadi, kau sengaja mendekati suami dan kekasih orang agar dijauhi oleh Dion?"


Intan mengangguk.


"Astaga, Intan. Kau sekarang sudah punya uang banyak, kembalikan saja pemberian mamanya Dion!"


"Aku pernah mencoba mengembalikannya, Mama Dion mengancam akan menyebarkan berita kalau aku adalah artis matre. Selain itu dia ingin aku mengembalikan uangnya lima kali lipat."


"Itu tidak sedikit," ujar Ayu.


"Memang iya, aku bingung dengan perasaanku!" Intan kembali menangis dan memeluk manajernya.


-


-


Setelah dirasa Intan sudah tenang dan tidur, barang-barang juga sudah tersusun rapi. Ayu pergi menemui Dion.


"Apa yang terjadi dengan Intan?" tampak raut wajah khawatir.


"Dia baik-baik saja, cuma setelah kau keluar. Barang-barang berantakan dan dia menangis," jawab Ayu.


"Tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya, kan?"


"Tidak."


"Sekarang dia di mana?"


"Tadi aku ke sini dia lagi tidur, tapi ada Cika yang menemaninya," jelas Ayu.


"Syukurlah," Dion bisa bernafas lega. "Kau bilang ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan," ia mulai penasaran.


"Sebenarnya Intan terpaksa menjauhimu," ujar Ayu.


"Terpaksa? Apa ada seseorang yang mengancamnya?"


"Ada, tebakanmu benar sekali."


"Siapa orangnya?"


"Mamamu!"

__ADS_1


"Mama? Pasti kau salah, mana mungkin Mama mengancam Intan," Dion tak percaya.


"Jadi, kau pikir Intan berbohong?"


"Kenapa Mama sampai mengancamnya?"


"Aku tidak tahu alasan mamamu, tapi Intan menjelaskan kalau ia diberi uang dua ratus juta untuk menjauhimu," jawab Ayu.


"Jadi, Intan menerimanya?"


"Ya."


Ada perasaan kecewa, ketika mengetahui wanita yang ingin ia perjuangkan malah memilih uang dari pada dirinya.


"Itu dia lakukan karena Intan butuh uang untuk pengobatan adiknya," tutur Ayu lagi.


...----------------...


Keesokan paginya setelah selesai syuting, Dion pulang ke rumah orang tuanya yang ada di Kota C. Sesampainya di sana ia mencari mamanya yang kebetulan berada di balkon rumah.


"Dion, anak Mama sudah pulang!" wanita paruh baya itu memeluknya.


"Aku ingin bicara dengan Mama," ujar Dion.


"Mau bicara apa, Nak!"


"Apa benar, Mama memberikan uang kepada Intan dua ratus juta empat tahun lalu?"


"Dia sudah menceritakannya padamu?" Mama Dion terlihat santai.


"Kenapa Mama melakukan ini? Apa salahnya dengan hubungan kami?"


"Mama ingin mengetes rasa sayangnya padamu, ternyata dia memilih uang," jawabnya.


"Ma, tapi tidak seperti ini. Buktinya dia kembalikan lagi uang Mama, kan?"


"Tidak, karena dia menolak menggantinya lima kali lipat."


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik Mama Dion. Wanita itu tertawa kecil, "Ternyata kau sangat mencintainya."


"Ma, dari dulu sudah aku katakan kalau kami saling mencintai," ujar Dion.


"Ya, Mama sadar. Kalau sudah salah memisahkan kalian, kejarlah dia kembali." Mama Dion memberikan perintah.


"Mama merestui kami?"


"Ya, semoga saja Intan mau kembali," harap Mama sambil mengulum senyumnya.


Dion memeluk mamanya dan mengecup pipi kiri dan kanan. "Terima kasih, Ma!" ia beranjak berdiri.


"Kau baru saja sampai, temani Mama makan siang," ajak.


Dion tersenyum dan keduanya menikmati makan siang bersama.


-


-


Malam harinya, Dion kembali ke kota A. Ia segera pergi ke apartemen Intan. Menurut keterangan Ayu kalau mantan kekasihnya itu sedang berada di sana.


Sesampainya di sana, ia berjalan ke unit apartemen Intan sambil menggenggam setangkai bunga mawar. Ia mengetuk pintu, seorang wanita yang baru saja bangun tidur membukakan pintu untuknya.


Dion lantas memberikan bunganya, "Untukmu!"


"Mau apa kemari lagi?"


"Mama ingin bertemu denganmu," ujar Dion.


Intan menarik sudut bibirnya.


"Aku serius, Intan!"

__ADS_1


"Kalian ingin mempermalukan aku lagi?"


"Mama ingin aku membawamu sebagai seorang menantu," jawab Dion.


"Lebih baik kau pergi, aku tidak ingin bercanda hari ini," Intan hendak menutup pintu namun dihalangi tangan Dion.


"Intan, aku serius. Apa perlu kita menghubungi mamaku?" Dion bersiap menekan tombol di ponselnya.


"Jangan!"


"Biar kau percaya!"


"Aku malu jika bertemu dengannya," ujar Intan.


"Boleh aku masuk, capek terus berdiri!" Dion menyelonong begitu saja sebelum mendapatkan izin dari pemilik unit apartemen.


"Aku belum mengizinkan dirimu masuk," protesnya.


"Sebentar lagi aku akan bebas masuk ke sini," ucap Dion percaya diri.


"Memangnya, aku mau denganmu?" Intan melipat tangannya di dada.


"Aku yakin hatimu, mau?" Dion tersenyum.


"Sok tahu!" memanyunkan bibirnya.


"Jangan banyak bicara, buatkan makanan. Aku sudah lapar!" Dion mendorong tubuh Intan ke dapur. "Buat yang enak!" lanjutnya memerintah.


Intan memasak, Dion duduk di sofa tamu sampai ia tertidur.


Selesai memasak, Intan menghampiri Dion. "Dia malah tidur!"


Intan mencoba membangunkan Dion dengan memukul pelan pipinya dan ternyata pria itu terbangun.


"Kau sudah selesai memasaknya?" sambil mengucek matanya.


"Sudah aku hidangkan di meja," jawab Intan.


"Ayo kita makan!" Dion menarik tangan Intan dan membawanya ke ruang makan.


Dion menarik kursi untuk Intan dan dirinya. Ia mulai menikmati makanan.


"Bagaimana, enak?" Intan begitu penasaran.


"Cukup enak," Dion menjawab mengangkat dua jempol tangannya.


"Syukurlah," Intan tersenyum lega.


"Kau belajar dari siapa?"


"Ponsel!" jawab Intan dengan cepat.


Dion sejenak terdiam menatap wanita yang ada dihadapannya.


"Apa ada yang salah?" Intan menatap heran.


"Tidak, cuma kau semakin cantik saja!" pujinya membuat wajah Intan memerah tersipu malu.


Dion hanya mengulum senyumnya melihat ekspresi wajah Intan.


"Kapan kita bertemu dengan mamamu?"


"Lusa, hubungi juga orang tuamu!"


"Orang tuaku mau diajak juga?"


"Ya, tidak. Cuma setelah dari rumah orang tuaku, aku dan mama akan datang melamarmu," jawab Dion.


"Benarkah?" wajah Intan bahagia.


"Ya," jawab Dion tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2