Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Pukulan Dari Rey


__ADS_3

Bugh...


Sebuah pukulan tangan dengan kuat mendarat di hidung Devan, pria itu tersungkur di meja hingga membuat gelas yang ada di atasnya jatuh dan pecah.


Beberapa pelayan mendengar suara keributan, mendekati asal suara yang berada di atas balkon rumah mewah milik Artama.


Devan mengangkat tangannya agar pelayan rumahnya tidak perlu mendekat. "Aku tidak apa-apa, kalian bisa melanjutkan pekerjaan!" perintahnya. Dengan patuh lima pelayannya meninggalkan tempat.


Rey menarik kerah baju sepupunya itu, tangannya kembali terkepal dan siap mengarah ke wajah Devan. "Ini tidak sebanding apa yang dirasakan Clarissa," ia menatap marah.


Devan hanya diam dan tak menjawab. Rey mendorong tubuh kekar tersebut hingga terjatuh ke lantai.


"Jika kau tak bisa membahagiakannya, jangan dekatinya!" ucap Rey lantang.


Devan mengelap darah yang keluar dari hidungnya dengan jempolnya.


"Kau brengsek, Van!" teriak Rey.


"Kau tidak tahu apa-apa tentangku dan dia!"


"Aku tahu semuanya!" ucap Rey. "Clarissa tidak tahu apa-apa tentang penculikan itu, dia hanya tahu ayahnya adalah pria yang baik. Jika dia tahu kau bocah yang di culik itu, mungkin Clarissa takkan mengejarmu!" lanjutnya dengan berapi-api.


Devan kembali diam dan tak mampu berkata apa-apa.

__ADS_1


Rey menarik kembali kerah baju sepupunya. "Clarissa melarang aku memukulmu, tapi entah kenapa tanganku ini tak bisa menahannya!" Sebuah pukulan kembali menghantam wajah tampan Devan.


"Rey, cukup!" teriak Oma Fera. "Apa yang kau lakukan pada cucuku?" tanyanya dengan lantang.


"Maafkan aku, Oma!" ucap Rey. Ia pun pergi meninggalkan rumah keluarga sepupunya itu.


Fera mendekati Devan yang terduduk. "Kenapa Rey sampai memukulmu?"


Devan tak menjawab pertanyaan Fera, dia memilih bangkit sambil memegang wajahnya yang penuh luka dan pergi ke kamar.


......................


Gedung Arta Fashion


Clarissa melihat wajah Devan penuh luka, ia ingin bertanya tapi lidahnya tak sanggup berucap.


Tina segera menarik tangan sahabatnya itu agar menjauh dari pria yang membuat sakit hati.


"Rissa, kau harus berusaha melupakannya!" bisik Tina.


Selama pemotretan berlangsung, Devan terus mengamati Clarissa yang sedang melakukan pekerjaannya. Menyesal tentunya iya, semua itu ia lakukan karena Oma dan janji yang ia ucapkan.


Selesai pemotretan, Clarissa buru-buru keluar studio. Ia melewati Devan yang berdiri dekat pintu studio sedang berbicara dengan karyawannya tanpa menegurnya.

__ADS_1


"Rey!" panggil Clarissa dan pria itu menoleh.


"Rissa, ada apa mencari ku?" Rey menatap heran wanita yang ada dihadapannya, tidak biasanya ia mencari dirinya.


"Apa kau yang membuat wajah Devan seperti itu?"


Rey tertawa tipis, "Salahkan saja tanganku!"


"Kenapa kau melakukan itu?"


"Karena dia pantas mendapatkan itu," jawab Rey santai.


"Aku sudah katakan jangan pernah menyentuhnya, dia tak salah. Aku yang salah berani masuk di kehidupannya," ungkap Clarissa.


"Aku harus kembali bekerja," ucap Rey melirik pria yang ada di belakang Clarissa. Ia pun berlalu.


"Rey, aku belum selesai bicara!" teriak Clarissa.


"Ini masih jam kerja, seharusnya kau tak perlu mengganggunya."


Clarissa membalikkan badannya melihat sosok yang bicara, ia sejenak terpaku. Pria yang seharusnya sebulan lagi menjadi suaminya ada di depannya.


"Kenapa kau masih peduli?" Devan memasuki kedua tangannya di saku celana.

__ADS_1


"Sepertinya aku tak perlu menjelaskannya, permisi!" jawab Clarissa ketus dan berlalu.


__ADS_2