
Mendapatkan telepon dari Clarissa kemarin sore membuat Claudia pagi ini pergi menemui putrinya di Kota A. Wanita paruh baya yang berusia 50 tahun itu datang seorang diri.
Sesampainya di apartemen ia langsung memeluk Clarissa. "Maafkan Ibu, Nak!" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu tak perlu minta maaf, aku yang salah mengejarnya," ujar Clarissa.
"Seandainya Ibu berkata jujur dari awal kepadamu, mungkin ini tidak akan terjadi," tuturnya.
"Semua sudah terjadi, sekarang aku hanya butuh Ibu!" Clarissa tidur dipangkuan Claudia.
"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?" Claudia mengelus rambut putrinya.
"Aku masih terikat kontrak dengan Arta Fashion dan tak mungkin memutuskannya kecuali mereka yang minta untuk mundur."
"Apa perlu Ibu bicara pada Devan?"
"Tidak, Bu. Percuma itu tidak akan merubah semuanya, seminggu lagi aku harus terbang ke Jepang," jawab Clarissa.
"Dalam rangka apa ke sana?"
"Ada pekerjaan, kemungkinan setelah dari sana aku akan pergi ke Belanda."
"Nak, lakukanlah menurutmu mampu membuatmu bahagia. Karena kesalahan kami, kamu harus mendapatkan kesedihan seperti ini," ujar Claudia.
"Aku berharap bisa bahagia bersamanya, namun takdir berkata lain," tutur Clarissa tersenyum.
"Terkadang apa yang kita inginkan belum tentu terbaik untuk diri ini, malah sebaliknya yang tidak kita inginkan itu yang terbaik. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan, Nak!"
"Semoga saja, Bu!"
-
Rey tahu dari Raya jika sepupunya itu membatalkan pernikahannya. Kemarin malam, wanita itu meneleponnya dan mengomelinya, ia kecewa pada Devan karena menyakiti perasaan Clarissa.
Rey tidak memberi tahu hal ini, karena tak ingin Mama Siska semakin merendahkan keluarga Clarissa.
__ADS_1
Malam ini Rey akan menemui Clarissa, ia penasaran apa alasannya hingga memutuskan tidak melanjutkan hubungan yang serius.
Kini keduanya berada di taman dekat apartemen Clarissa.
"Ada hal apa kau menemuiku?"
"Aku ingin tahu alasan Devan membatalkan rencana pernikahan kalian," jawab Rey.
"Kenapa tidak kau tanyakan saja padanya?"
"Tentunya sangat sulit bertanya padanya."
"Mungkin kami tidak berjodoh," Clarissa menarik sudut bibirnya.
"Pastikan ada alasannya, mana tahu aku bisa bantu."
"Sepertinya kau tak perlu membantuku!"
"Rissa, kau tidak menganggap ku teman?"
"Jika aku bercerita tentunya akan membuatku bersedih," jawab Clarissa.
"Jangan sakiti dia!" larang Clarissa.
"Kenapa? Dia bukan siapa-siapa dirimu lagi, jadi aku bebas menghajarnya."
"Ya, aku bukan siapa-siapanya lagi. Tapi kau tak perlu menyentuhnya," ujar Clarissa.
"Maka cepat katakan alasan dia membatalkannya," desak Rey.
"Dia tahu bahwa ayah kandungku yang telah menculiknya beberapa tahun yang lalu."
"Apa sebelumnya kau tahu jika pelakunya adalah ayah kandungmu?"
"Aku baru tahu dari dirinya, Oma Fera dan Ibunya Nikita yang memberi tahu dirinya."
__ADS_1
"Apa Ibumu tahu soal pembatalan ini?"
"Ya."
"Tentang penculikan itu apa Ibumu tahu?"
"Ya, kami tak menyangka anak laki-laki yang di culik ayahku itu Devan."
"Aku harus bicara pada Devan," ucap Rey.
"Tidak usah, Rey. Takkan mengubahnya, apa lagi di sini keluargaku yang salah," ujar Clarissa tanpa menatap Rey.
"Tapi kau tidak bersalah, Rissa. Kau tak tahu tentang kejadian itu, jadi dia tak bisa memperlakukan dirimu seperti ini," geram Rey.
"Sudahlah, Rey. Cukup kau tahu tentang ini, aku tak mau membahasnya lagi," ujar Clarissa.
"Bagaimana kalau wartawan tahu tentang ini?"
"Aku tidak peduli lagi."
"Apa kau masih terikat kontrak dengannya?"
"Ya, besok aku harus ke Arta Fashion untuk melakukan pemotretan."
"Apa kau sudah siap bertemu dengannya?"
"Aku harus bersikap profesional, apa lagi ini menyangkut tentang pekerjaan."
"Ya, aku tahu. Kalau begitu, ayo kita pulang. Kau harus banyak beristirahat," ajak Rey.
"Tapi ingat, kau jangan sampai menyentuhnya!" ancam Clarissa.
"Dia sudah menyakitimu masih saja di bela," protes Rey.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, poin dan vote.....
Terima Kasih...