Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Jangan Mengambil Kesempatan


__ADS_3

Intan menatap punggung Clarissa dengan kesal. "Kau lihat saja, aku bisa merebut suamimu!"


"Intan, kau cukup keras kepala juga. Jangan berani dekati Presdir, kalau tak ingin karirmu hancur!" Manajer Intan mengingatkan.


"Presdir sangat tampan dan kaya, aku tidak bisa melepaskannya," Intan tersenyum jahat.


"Aku tidak ingin terlibat dalam masalah dirimu dengan Nona Clarissa. Jika itu terjadi aku akan mundur dari manajermu!"


"Apa kau lupa masih memiliki utang kepadaku?" Intan menatap sinis.


"Jika sudah lunas, aku akan pergi darimu!" ancam manajernya.


"Sombong sekali dirimu!" Intan tersenyum sinis.


-


Clarissa terus mengoceh saat memasuki ruangan kerja. Devan terkekeh melihat ekspresi istrinya yang cemburu.


"Apa ada yang lucu?" Clarissa menatap wajah suaminya.


"Ada," jawab Devan tertawa kecil.


Clarissa memegang wajahnya, "Apa sih' yang lucu?"


"Kau!" jawab Devan.


"Aku?" Clarissa mengarahkan jari telunjuknya ke wajahnya.


"Iya, istriku. Kau sangat lucu mengomel seperti tadi," ungkap Devan dengan tersenyum.


"Jangan mengejekku!" Clarissa memanyunkan bibirnya.


"Kau pasti habis berdebat dengannya 'kan?" tebak Devan, ia berjalan menghampiri istrinya.


"Iya, rasanya aku ingin mencabik-cabik wajahnya!" Clarissa membuka semua jemari tangannya seakan ingin menerkam.


"Jangan lakukan itu!" Devan memegang kedua tangan istrinya.

__ADS_1


"Kenapa? Kau tak suka aku membalasnya?"


"Aku tidak ingin tanganmu kotor menyentuh tubuhnya," Devan mencium jemari istrinya. "Kalau kau menyentuhnya, terpaksa aku harus membawamu ke dokter kulit," lanjutnya menjelaskan.


"Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu. Tapi jika dia mendekatimu, kau harus segera menjauh darinya," pinta Clarissa.


"Siap, istriku!" Devan mencubit pipi Clarissa.


"Kembalilah duduk di tempatmu!" Clarissa mendorong pelan tubuh suaminya agar menjauh dari meja kerjanya.


"Tersenyumlah, jangan cemberut lagi!" pinta Devan dengan suara lembut.


Clarissa mengangguk pelan dengan senyum tipis.


-


-


Roland dengan sengaja datang ke apartemen milik Clarissa. Ia ingin bertemu dengan Tina, karena Clarissa terlalu aktif di dunia hiburan lagi. Yuna sementara pulang ke rumah orang tuanya.


"Pergilah!" usir Tina.


"Tina, aku sudah minta maaf pada Clarissa!"


"Baguslah!" Masih berusaha menutup pintu.


"Aku ingin bicara padamu!" mohon Roland.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, aku mau tidur!" tolak Tina.


Roland mendorong pintu dengan kuat hingga Tina terjatuh. Pria itu segera membantu Tina berdiri.


"Aku bisa berdiri sendiri!" gerutunya. Tina berdiri sambil memegang bokongnya.


"Maaf, aku tidak sengaja!" Roland merasa bersalah. "Mana yang sakit?" Ia melihat bagian belakang tubuh Tina.


Dengan cepat ia mendorong tubuh Roland. "Jangan mengambil kesempatan!" omelnya.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud begitu!"


"Aku tidak mau bicara padamu, pergi sana!" usirnya. "Yuna tidak ada di sini, jangan sampai ada fitnah diantara kita berdua," lanjutnya lagi.


"Aku ingin kita berdamai!" Roland menunjukkan jari kelingkingnya di depan wajah Tina.


"Aku tak mau!" Tina menurunkan jari Roland.


"Kenapa tidak mau? Aku akan berusaha menjadi pria yang baik," ujar Roland.


"Aku ingin kau berubah bukan karena aku tapi karena dirimu sendiri!" Tina meletakkan jari telunjuknya di dada Roland.


"Tapi karena kau membenciku, aku jadi ingin berubah," ungkapnya.


"Sepertinya aku harus membencimu lebih lama," Tina menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Ya, tidak seperti itu juga. Kau membenciku sebentar saja sudah membuatku tersiksa," Roland dengan wajah sedihnya.


"Oh, ya!" Tina menarik sudut bibirnya. "Aku tidak percaya kau tersiksa karena rasa benciku," tersenyum sinis.


Roland menarik tengkuk Tina dan membenamkan ciuman di bibirnya. Membuat Tina mendelikkan matanya karena terkejut.


Tina mendorong tubuh Roland dengan kuat. "Beraninya kau mencium bibirku!" menatap tajam.


Bukannya merasa bersalah, Roland malah tergelak. "Lihatlah pipimu berwarna merah!"


Tina memegang wajahnya, ia berjalan mengambil sapu lalu ia layangkan ke udara. "Cepat pergi atau aku akan memukulmu!" mengeraskan rahangnya.


"Baiklah, aku akan pergi!" Roland berjalan ke arah pintu lalu ia membalikkan badannya. "Apa nanti malam kau ingin menonton film horor?" tanyanya.


"Tidak!"


"Jika kau mau aku siap menemanimu pergi ke bioskop dan restoran seafood di samping Mall Cahaya cukup enak, apa kau sudah mencoba makan di sana?"


"Sudah pergi sana!" Tina bersuara sedikit lantang.


"Jika kau mau, telepon aku!" Roland tersenyum lalu ia menarik gagang pintu dan berlalu.

__ADS_1


__ADS_2