Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Dua Kejadian


__ADS_3

Devan yang mendengar kabar bahwa Clarissa kecelakaan segera ke rumah sakit bersama dengan Hilman.


Begitu juga dengan Hiko, ia juga mendapatkan kabar dari karyawannya jika terjadi kecelakaan tak jauh dari lokasi syuting.


Beruntung kecelakaan tersebut tidak terlalu parah. Sopir dan kedua teman Clarissa hanya mengalami luka di tangan dan kaki saja. Sementara itu Clarissa belum mendapatkan kabar sama sekali karena ruangan mereka berbeda.


Tiga jam pasca kecelakaan akhirnya Devan dan Hilman bisa menemui Clarissa. Kini di dalam ruangan itu ada tiga ranjang yang memang sengaja mereka minta.


"Bagaimana keadaanmu?" tampak raut khawatir di wajah Devan.


"Seperti yang kau lihat!" Clarissa sambil tiduran menunjukkan kepalanya yang dibalut perban.


"Apa masih ada yang sakit?" tanyanya lagi.


"Tidak terlalu," jawab Clarissa.


"Pria itu tadi juga datang ke sini," ucap Devan.


"Pria yang mana?" tanya Clarissa.


"Dia yang pernah muncul di media," jawab Devan.


"Semua pernah muncul," ujar Clarissa.


"Hilman coba jelaskan pada dia!" perintah Devan.


"Maksudnya Tuan Hiko, Nona!" jelas Hilman.


"Hiko siapa?" tanya Clarissa.


"Apa benturan itu menghilangkan separuh ingatanmu?" Devan memegang kepala kekasihnya.


Tina, Yuna dan Hilman mengulum senyum.


"Aku cuma ingat dengan kau saja," jawab Clarissa terkekeh.


"Kau ini!" ucap Devan. "Aku pikir kau mengalami amnesia," lanjutnya lagi.


"Jangan sampai hal itu terjadi," ujar Clarissa.


"Aku harus kembali ke kantor lagi, cepat sehat. Kejadian ini biar tim pengacara dan Hilman yang menanganinya," ucap Devan mengelus tangan kekasihnya.


"Iya," jawab Clarissa tersenyum. Setelah Devan dan Hilman keluar, ia berbicara kepada kedua temannya. "Apa benar tadi Hiko kemari?"


"Iya, tapi dia sudah pulang karena melihat Presdir ke sini," jawab Tina yang sudah bisa bergerak.


"Lalu, bagaimana dengan sopir kita?" tanya Clarissa lagi.


"Dia mulai membaik, keluarganya juga sudah datang," jawab Yuna.


"Syukurlah," ucap Clarissa.


-


-


Malam harinya Devan kembali ke rumah sakit seorang diri untuk menjenguk Clarissa, rumah sakit yang menangani sang artis tidak terlalu jauh dari kediaman Artama.


Devan menyuapkan buah jeruk ke mulut Clarissa. Di dalam ruangan rawat inap kini hanya mereka berdua.


"Apa kau sudah memberi tahu kedua orang tuamu?"


"Sudah, besok pagi mereka akan ke sini!" jawab Clarissa. "Apa aku boleh tanya sesuatu?" lanjutnya bertanya.

__ADS_1


"Ya."


"Siapa gadis yang dimaksud Oma saat di rumah sakit?" baru kali ini ia sempat bertanya pada kekasihnya.


"Jadi, itu alasanmu kemarin menolak kontrak kerja dariku?"


Clarissa mengangguk pelan.


"Dia gadis penolongku," ucap Devan.


"Gadis kecil yang kau ceritakan di restoran itu?"


"Ya."


"Kenapa.."


Suara ketukan pintu menghentikan obrolan keduanya, seorang perawat wanita masuk. "Permisi Tuan, saya ingin memeriksa kondisi kesehatan Nona Clarissa!"


"Silahkan!" ucap Devan yang lantas berdiri dan melihat perawat melakukan pemeriksaan.


"Semua normal, Nona. Mungkin dua atau tiga hari sudah boleh pulang. Kita tunggu konfirmasi selanjutnya dari Dokter," jelas perawat.


"Baik, Suster!" ucap Clarissa.


"Kalau begitu saya permisi!" pamitnya.


"Terima kasih!" ucap Devan pada perawat. Ia kembali duduk di ranjang kekasihnya.


"Van.."


"Iya."


"Kenapa cerita gadis kecil itu hampir sama denganku?" tanya Clarissa.


Belum sempat di jelaskan, ponsel Devan berdering ia pun mengangkatnya tak lama kemudian ia menutupnya kembali.


"Rissa, aku harus pergi. Salah satu toko milik Arta Fashion terbakar. Jadi ku harus ke sana melihat kondisinya," ucap Devan.


"Pergilah!" ujar Clarissa.


"Jaga kesehatanmu, ku mencintaimu!" Devan mencium kepala Clarissa.


"Hati-hati!"


Devan berjalan cepat keluar dari kamar rawat inap kekasihnya, lalu ia menelepon Hilman dan ternyata sekretarisnya itu sudah berada di sana.


Tina dan Yuna yang melihat Presdir berjalan terburu-buru, segera masuk ke dalam kamar inap.


"Sepertinya apa ada masalah?" tanya Yuna.


"Toko Arta Fashion terbakar," jawab Clarissa.


"Toko yang ada di jalan raya itu?" tanya Yuna.


"Iya, tempat Arta Fashion menjual produknya selain di gedung utama," jawab Clarissa.


"Penyebabnya apa?" Tina penasaran.


"Tidak tahu, tunggu saja kabar Devan selanjutnya," ucap Clarissa.


-


Devan sudah berada di lokasi kejadian, beruntung tidak ada korban jiwa namun 50 persen bangunan toko mengalami kerusakan.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi Hilman?"


"Menurut laporan beberapa karyawan karena korsleting listrik," jawabnya.


"Astaga," ucap Devan. "Setelah penyelidikan dilakukan pihak berwajib, toko segera dibangun. Untuk beberapa hari ini, karyawan diliburkan. Tetap beri mereka gaji penuh!" perintahnya.


"Baik, Tuan!" ucap Hilman.


Dari toko, Devan kembali ke rumah sesampainya ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Hendak melangkah ke kamar, Oma Fera memanggilnya dan ia menghampiri wanita tua yang kini berusia 75 tahun.


"Iya, Oma!"


"Bagaimana dengan toko?" tanya Oma Fera.


Devan menjelaskan kronologi kejadian toko terbakar dan penanganan apa yang telah ia lakukan untuk karyawannya. Tapi ia tetap menunggu hasil penyelidikan dari pihak berwajib.


"Itu toko sudah berdiri empat puluh tahun yang lalu," ungkap Oma Fera. "Toko di bangun Opa kamu sebagai hadiah ulang tahun Oma," lanjutnya.


"Oma, ku akan membangun kembali toko itu," janji Devan.


"Oma percaya padamu, kamu mampu menyelesaikan kasus ini," ucap Fera.


Devan mengangguk pelan dan berusaha tersenyum. Karena pikirannya saat ini terbagi dua, toko dan kekasihnya. Entah, kenapa kejadiannya hampir bersamaan.


...----------------...


Pukul 8 pagi, Claudia dan Ardian tiba di rumah sakit. Ibu Clarissa menangis saat mendengar kabar putrinya itu kecelakaan dan sempat jatuh pingsan. Kondisi kesehatannya juga menurun, makanya ia baru menjenguk Clarissa hari ini.


"Rissa!" sapa Claudia saat memasuki kamar inap putrinya, ia memeluk putrinya dengan bagian tubuh dibalut perban.


"Ibu!" ucap Clarissa dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan, Ibu baru sempat datang pagi ini!" ujar Claudia.


"Tidak apa, Bu. Kalian sehat, kan?" Clarissa menatap ibunya dan ayah sambungnya.


"Kami sehat, Nak," jawab Ardian.


Tak lama kemudian, Devan juga datang menjenguk kekasihnya itu. Kedua orang tua Clarissa menatap pria yang baru saja hadir.


"Ibu, Paman, dia Presdir Arta Fashion namanya Devan," ucap Clarissa memperkenalkan.


"Senang bertemu dengan kalian," Devan menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Sama-sama, Nak!" ucap Ardian tersenyum.


Claudia terus memandangi wajah Devan sambil berucap dalam hati, "Aku sepertinya mengenalnya jauh sebelum hari ini!"


"Bu!" panggil Clarissa.


"Terima kasih sudah perhatian dengan putri kami, Clarissa juga telah berbicara banyak tentang dirimu kepada kami," tutur Claudia.


"Bu, kenapa harus diceritakan sih'?" tanya Clarissa.


"Kami juga sudah mengetahui hubungan kalian," jawab Claudia.


"Terima kasih telah merestui hubungan kami," ucap Devan sekali lagi.


Saat semua di ruangan itu termasuk Yuna dan Tina mengobrol. Claudia malah terdiam dan melamun, ia masih berusaha mengingat pria muda yang kini menjadi kekasih putrinya. "Aku harus bertanya siapa nama kedua orang tuanya," ucapnya membatin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selamat Membaca 🌹

__ADS_1


__ADS_2