Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

Clarissa menolak dengan tegas, ia takkan mau kembali lagi ke Arta Fashion.


"Kenapa kau tidak mau?" tanya Devan. "Aku berjanji tidak akan memotong honor dan bonus," lanjutnya lagi.


Clarissa tersenyum sinis. "Tuan bisa membayar model yang lebih baik dari aku. Kenapa anda masih berharap diriku?"


"Karena raga Arta Fashion melekat di dirimu. Mereka hanya tahu kaulah yang pantas untuk produk ini," jawab Devan.


Clarissa menatap wajah Devan. "Apa anda tidak bisa memberikan alasan lainnya? Kenapa saya harus menerima kembali tawaran ini?"


"Aku akan memberikan honor lima kali lipat," ucap Devan sebagai senjata ampuh untuk menarik Clarissa kembali.


"Saya tidak mau!" Clarissa membuang wajahnya.


"Kau memang keras kepala!"


Clarissa menatap kembali wajah Devan dengan tatapan tajam. "Apa anda bilang? Saya keras kepala kalau tidak mau jangan di paksa!" tegasnya.


"Ya, kau sangat keras kepala!" Devan menekankan kata-katanya.


Clarissa mendengus kesal, ia sudah memegang handle pintu mobil.


"Jangan pergi!" panggil Devan.


Clarissa menatapnya hingga keduanya saling memandang. "Kenapa?" Clarissa menaikkan sedikit dagunya.


"Aku menyukaimu!" jawab Devan pelan.


"Apa? Saya tidak mendengar anda bilang apa?" Clarissa mendekatkan telinganya di wajah Devan.


"Pendengaranmu cukup buruk!" gerutu Devan.


Clarissa malah tertawa mendengar ocehan Devan.


"Apa ada yang lucu?" tanya Devan heran.


Clarissa kembali menatap wajah Presdir yang tampak memerah karena malu. "Bisakah mengulang kembali perkataan anda tadi?" pintanya.


"Perkataan yang mana?" Devan jadi salah tingkah.


"Perkataan yang mengatakan kalau anda menyukai saya!" ucap Clarissa.


"Aku tidak mengatakannya!" Devan menyangkal.


"Kalau begitu, saya turun saja!" ucap Clarissa.


"Aku memang menyukaimu, Clarissa!" ucap Devan dengan tegas.


Clarissa sejenak terdiam mendengar ucapan pria yang ada dihadapannya itu. Lalu ia menarik sudut bibirnya, "Benarkah?" tanyanya lembut.


Devan mengangguk pelan.


Clarissa bertepuk tangan sekali dengan keras membuat Devan terkejut. "Kenapa tidak katakan dari kemarin?"


"Apa aku sudah terlambat?" tanya Devan.


Clarissa menggelengkan kepalanya.


"Apa kau mau kembali ke Arta Fashion lagi?" tanya Devan.


"Ini bukan taktikmu untuk menggaet aku kembali, kan?" tanya Clarissa menyelidik.


Devan menggelengkan kepalanya.


"Honor tetap dinaikkan jadi lima kali lipat, kan?" tanya Clarissa.

__ADS_1


Devan mengangguk.


"Tidak akan ada pemotongan jika aku melakukan kesalahan, kan?" Clarissa bertanya lagi.


"Tidak akan ada, aku janji!" ucap Devan.


"Aku senang mendengarnya," Clarissa menangkup pipi Devan membuat pria itu tersenyum. "Kau sangat manis jika tersenyum!" puji Clarissa.


"Kapan kau akan kembali di Arta Fashion?"


"Besok pagi, aku akan datang!" jawab Clarissa.


"Baiklah, aku akan menunggumu!" ucap Devan.


"Sampai jumpa besok pagi!" Clarissa tersenyum melambaikan tangannya dengan riang, ia pun turun dari mobil.


Devan bercermin di ponselnya, ia memperhatikan wajahnya yang tidak memerah setelah disentuh Clarissa. Ia mengulum senyumnya mengingat saat mengungkapkan perasaan.


Hilman yang sedang menikmati minuman kaleng, duduk di bangku yang tak jauh dari apartemen. Ia melihat Clarissa keluar dari mobil Presdir dengan wajah berseri. "Sepertinya berita baik!" gumamnya. Ia pun berdiri saat Clarissa mendekatinya.


"Sekarang kau tidak akan disiksanya lagi," ucap Clarissa.


"Benarkah, Nona?"


"Dia sudah jinak, pergilah pulang!" Clarissa pun berlalu sambil mengayunkan tasnya.


Hilman dengan cepat menuju mobil Presdir dan duduk di kursi pengemudi. "Apa kita pulang sekarang, Tuan?"


"Ya!" jawab Devan tersenyum sambil memandangi jalanan.


"Sepertinya anda bahagia sekali?"


"Besok pagi buatkan kontrak baru untuk Clarissa!" pinta Devan tanpa menjawab pertanyaan Hilman.


"Itu artinya saya tak perlu membaca nama-nama model pengganti lagi?"


"Usahakan sebelum 10 pagi, kontrak sudah selesai kau buat!" titahnya.


"Baik, Tuan!" ucap Hilman semangat.


Sementara itu, Clarissa membuka pintu apartemennya dengan bernyanyi riang. Ia membuka sepatunya lalu menghampiri kamar kedua temannya.


"Rissa, bagaimana pertemuanmu dengan Presdir?" tanya Yuna semangat.


"Apa besok aku ada jadwal?" tanya Clarissa.


"Ada, jam 3 sore di stasiun televisi swasta," jawab Yuna.


"Besok pagi, temani ke Arta Fashion!" pintanya.


"Kau ingin kembali ke sana lagi?" tanya Tina.


Clarissa mengangguk sambil tersenyum.


"Kau bilang tidak mau kembali ke sana, apa yang telah dilakukan Presdir sampai kau berubah?" Tina bertanya lagi.


"Kalian mau tahu, kenapa aku berubah dan menerima tawaran ini?" Clarissa memberikan pertanyaan pada kedua temannya.


"Mau!" jawab keduanya serempak.


"Presdir akhirnya mengungkapkan perasaannya!" ucap Clarissa semangat dan tersenyum.


"Akhirnya Presdir luluh juga," ujar Yuna.


"Wah, selamat!" Tina memeluk sahabatnya itu begitu juga dengan Yuna.

__ADS_1


......................


Pagi ini Devan berdandan rapi, ia tersenyum melihat cermin. Hari ini ia begitu semangat karena wanita yang sukai kembali bergabung di perusahaan milik keluarganya. Ia menikmati sarapan terdahulu sebelum ke Arta Fashion.


"Sepertinya kau berbeda hari ini?" tanya Oma Fera.


"Beda, bagaimana?" Devan balik bertanya.


"Oma lihat kau begitu bahagia hari ini," jawab Fera. "Apa yang membuatmu sebahagia ini?" tanyanya penasaran.


"Tidak ada. Mungkin perasaan Oma saja," ucap Devan. Ia tak ingin memberi tahu kepada Fera kalau Clarissa telah kembali.


"Mungkin saja!"


-


Di lain tempat, Clarissa begitu semangat saat bangun pagi. Ya, hari ini ia akan kembali bekerja sama dengan pria yang ia cintai. Entah, alasan apa yang membuat ia begitu menyukai pria itu. Pertemuan yang sangat menyebalkan, kontrak yang aneh serta peraturan jadwal yang sering berubah sesuka hati pemilik produk.


"Apa penampilan aku sudah cantik?" tanyanya pada kedua temannya sambil memutarkan tubuhnya.


"Sangat cantik!" puji Tina.


"Kau memang cantik, Rissa. Mari kita sarapan!" ajak Yuna dan Clarissa ikut bergabung di meja makan.


"Rissa, apa Presdir tidak akan memotong honormu lagi?" tanya Tina.


"Tidak, malah dia akan memberikan aku honor lima kali lipat!" jawab Clarissa.


"Sebanyak itu? Belum jadi istri saja kau sudah diberikan honor segitu," Tina tak menyangka.


"Itu sih' awal dia mencoba merayuku agar kembali tapi akhirnya ia mengungkapkan perasaannya," ucap Clarissa.


"Apa kau yakin Presdir menyukaimu dengan tulus?" tanya Yuna pada Clarissa.


"Iya!" jawabnya singkat.


"Kau tidak curiga kalau dia mengungkapkan itu hanya ingin kau kembali ke Arta Fashion," ucap Yuna.


"Aku yakin kalau dia benar-benar menyukaiku!" Clarissa percaya.


"Kata Yuna ada benarnya, sebaiknya kau jangan terlalu cinta. Takutnya Presdir hanya pura-pura saja," ujar Tina.


"Kenapa kalian jadi mematahkan semangatku?" Clarissa menunduk lesu.


"Kami tidak bermaksud begitu, Kami sayang padamu. Semoga saja Presdir memang benar-benar menyukaimu!" harap Yuna.


"Kami hanya ingin kau berhati-hati saja, secara kau pernah bilang kalau Presdir menyukai seorang gadis," ucap Tina.


"Memang benar dia pernah mengatakan begitu," tutur Clarissa. "Tapi aku yakin dan lihat dari matanya kalau dia pasti tidak berbohong!" lanjutnya lagi.


"Semoga saja!" ucap Tina.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa Like dan Komen🌹


Sambil menunggu ini update kalian bisa ke karyaku yang lainnya..


-Salah Jatuh Cinta (end)


-Dijodohkan dengan Musuh (end)


-Melupakan Sang Mantan (end)


-Penculik Hati (end)

__ADS_1


Selamat Membaca 🌹♥️


Terima Kasih


__ADS_2