
Pemotretan diambil di luar gedung Arta Fashion, sekaligus pembuatan video iklan.
"Kalian harus berlari dan berpegangan tangan. Eza memegang balon," ujar sutradara memberikan pengarahan.
Raisa yang tangannya digenggam Eza erat tersenyum. Mereka melakukan sesuai arahan sutradara.
"Cukup, sangat bagus!" teriak sutradara menghentikan syuting. "Ganti kostum!" perintahnya.
Fotografer dan sutradara melihat hasil jepretan, mereka mengakui kalau foto yang diambil sangat sempurna.
Pengambilan foto dan video kedua, Eza dan Raisa sudah berganti kostum. Selama proses pembuatan iklan, pria itu memilih diam dan ketus.
"Nona Raisa dan Eza akan saling berhadapan dan menatap menggunakan payung yang akan dipegang oleh model pria," jelas sutradara.
"Apa tidak bisa diganti gayanya?" Eza berusaha menghindari Raisa.
"Tidak bisa, karena tema kali ini hujan. Jadi, kalian harus saling berhadapan," jawab sutradara.
Eza akhirnya pun pasrah, hujan buatan pun dibuat untuk melengkapi foto dan video.
Raisa mendongakkan sedikit kepalanya menatap Eza yang menundukkan kepalanya melihatnya. Raisa menampilkan senyum terbaiknya.
"Kenapa dia begitu indah?" batin Eza tanpa sadar.
Keduanya saling berhadapan cukup lama, lalu selanjutnya Raisa berdiri di belakang Eza menggunakan payung begitu juga dengan pria yang ada di depannya. Namun, kali ini sang pria memunggungi wanitanya.
"Selesai!" teriak sutradara sambil bertepuk tangan diiringi para kru dan asisten model.
Raisa tersenyum puas namun tidak dengan Eza. Selesai syuting, pria itu berjalan cepat ke arah mobilnya.
"Nona, maaf atas kelakuan artis saya selama syuting," Lita mendekati Raisa.
"Tidak apa, saya maklum atas sikapnya tadi. Tapi, dia sungguh profesional," puji Raisa.
"Terima kasih, Nona." Lita menundukkan sedikit kepalanya.
"Sama-sama," Raisa lalu meninggalkan lokasi syuting terlebih dahulu.
Lita menghampiri Eza yang menunggunya di mobil. "Aku kecewa dengan sikapmu terhadap Nona Raisa," ujarnya.
__ADS_1
"Aku sudah profesional melakukannya," Eza membela diri.
"Kau itu sangat ketus sekali menatap Nona Raisa, ingat dirimu yang pilih dia!" ujar Lita.
"Aku pun tidak mau bekerja sebagai modelnya," Eza berkata santai.
"Susah memang bicara denganmu, masih saja menyimpan benci," gerutu Lita, ia lalu menyuruh sopir untuk jalan.
......................
Tiga minggu kemudian.....
Penjualan produk selama Eza dan Raisa menjadi bintangnya meningkatkan tajam. Hari ini Devan dan keluarganya mengundang makan malam artis dan tim yang terlibat dalam proses pembuatan foto dan video iklan di sebuah hotel ternama.
Raisa begitu antusias untuk acara malam ini, karena ia akan bertemu dengan Eza lagi setelah dua minggu tidak berjumpa.
Raisa dan Darren berjalan dibelakang kedua orang tuanya memasuki restoran yang dipesan khusus pihak Arta Fashion.
"Tuan Darren tampan, ya!" puji beberapa kru saling berbisik.
"Nona Raisa juga cantik!" puji mereka lagi.
Darren yang dingin dan memiliki sifat seperti Devan tampak terlihat cuek. Ia hanya memikirkan kursi dan peralatan makan yang ia gunakan bersih persis saat dilakukan papanya dahulu.
Keluarga Devan duduk di meja yang sama bersama sutradara dan fotografer, sementara Eza memilih meja terpisah.
"Pastikan tidak ada udang di piring istri dan putriku," pinta Devan pada pelayan.
"Baik, Tuan."
Sembari menikmati makan malam, Raisa selalu mencuri pandang. Sesekali ia melirik Eza yang asyik berbicara dengan orang-orang yang satu meja bersamanya.
Saat Eza pamit ke toilet, Raisa juga melakukan hal yang sama namun ia mengatur jarak waktunya. Biar keluarganya tidak curiga.
Raisa menunggu Eza di lorong hotel, ia tersenyum saat pria itu melihatnya.
Eza berjalan mendekati Raisa, "Kau sengaja mengikuti ku?"
"Ya."
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Mau bicara denganmu," jawab Raisa tersenyum. "Dua bulan kita bertemu namun tak pernah berbicara," lanjutnya.
"Aku terpaksa menerima tawaran ini, karena ku tidak mau membayar ganti rugi. Jadi, tolong jangan membuatku marah!" Eza menatap tajam Raisa.
"Aku sudah minta maaf, kenapa kau masih marah padaku?"
"Karena kau hubungan aku dengan kekasihku berakhir," jawab Eza.
"Kau bisa minta balikan lagi padanya," ucap Raisa polos.
"Kau pikir semudah itu, dia menolaknya."
"Berarti kekasihmu itu tidak mencintaimu lagi," tebak Raisa.
"Kami saling mencintai, tapi setelah ada kau semua hancur!" Eza menekankan kata-katanya.
"Jika memang dia mencintaimu, pasti akan memaafkanmu karena aku juga sudah minta maaf," jelas Raisa kemudian ia berlalu.
Eza memikirkan kata-kata yang diucapkan Raisa. Sehari setelah kejadian itu ia mendatangi rumah Kirani dan menunjukkan video permintaan maaf Raisa dan teman-temannya tapi kekasihnya tetap bersikukuh ingin putus.
Kirani beralasan jika video yang dibuat Raisa dan temannya hanya pura-pura untuk menutupi perselingkuhan Eza.
Raisa kembali duduk bergabung dengan keluarga dan lainnya, begitu juga dengan Eza. Kali ini pria itu terus memandangi wanita penyebab hancurnya hubungannya. Ia tersenyum tipis saat melihat Raisa tertawa.
"Jangan terus dipandangi nanti cinta," sindir Lita menyenggol lengan Eza.
"Apa yang Kakak ucapkan itu ada benarnya juga."
"Ucapan mana?" Lita mengerutkan keningnya.
"Kakak pernah bilang kalau Kirani mencintaiku dia akan percaya dan memaafkan aku," ujar Eza.
"Iya, seharusnya begitu. Bukan main pergi saja," tutur Lita.
"Berarti aku harus bisa memaafkan Raisa?" tanyanya berbisik.
"Harus!" jawab Lita tegas.
__ADS_1