Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Ayah Clarissa


__ADS_3

Devan hendak menyentuh tas yang ada di dekatnya itu, tiba-tiba ponsel di dalamnya berbunyi. Dengan cepat sebuah tangan menyambarnya.


Devan terperanjat kaget, melihat kedatangan Clarissa. Ia berusaha tenang untuk menghindari kecurigaan kekasihnya itu. "Siapa?" tanyanya saat wanita yang ada dihadapannya itu menutup teleponnya.


"Yuna," jawab Clarissa. "Mereka sudah berada di percetakan," lanjutnya.


"Kita pergi sekarang?"


"Ya."


Setengah jam kemudian, keduanya sampai ke tempat percetakan undangan. Clarissa hendak turun namun di tahan Devan.


"Ada apa?" Clarissa mengernyitkan dahinya.


"Apa kau tidak pernah mengunjungi makam ayahmu?"


Clarissa terdiam sejenak lalu tersenyum, "Jika ada pekerjaan atau kebetulan lewat Kota D, aku selalu mengunjunginya."


"Kenapa kau tidak pernah membawaku ke sana?"


"Kau masih terlalu sibuk, sebentar lagi kita akan menikah tentunya pekerjaan kita sangat menyita waktu," jawab Clarissa. "Ayo, turun!" ajaknya.


Devan dan Clarissa turun bersamaan ke dalam kantor percetakan.


-


Selesai memilih design undangan pernikahan yang diinginkan, Devan mengantar kekasihnya itu ke salah satu stasiun televisi.


Di perjalanan Clarissa meminta singgah ke sebuah minimarket untuk membeli minuman. Ia pun terburu-buru membuka isi tasnya hingga dompetnya terjatuh tanpa ia sadari.

__ADS_1


Devan yang menunggu di dalam mobil melihat dompet Clarissa ketinggalan di bangku. Ia pun membukanya, untuk pertama kalinya ia membuka foto keluarga lengkap kekasihnya itu.


Dengan cepat Devan memotret foto tersebut dengan ponselnya. Setelah itu ia memasuki kembali foto ke dalam dompet.


Clarissa kembali ke mobil, "Apa kau melihat dompetku?"


"Ini!" Devan menyodorkannya.


"Syukurlah!" Clarissa meraihnya lalu kembali ke minimarket.


Devan membuka ponselnya dan mengamati wajah ayah kandung Clarissa. Ia teringat perkataan Tante Siska jika Martha mengenal teman papanya dan beberapa hari yang lalu ibu Nikita itu datang ke Arta Fashion dan mengatakannya.


Devan berusaha mengingat pelaku penculikan yang ia alami beberapa tahun lalu. Kepalanya mulai terasa pusing, ia memijitnya perlahan.


Clarissa baru saja masuk ke dalam mobil, melihat Devan terlihat pucat. "Kau tidak apa-apa?"


"Devan, apa kau baik-baik saja?" Clarissa memegang tangan kekasihnya itu.


"Kepalaku sedikit pusing," jawabnya.


"Biar aku saja yang bawa mobilnya," tawar Clarissa dan disetujui oleh Devan.


-


Kediaman Artama


"Mari ku bantu," Clarissa memapah tubuh Devan memasuki rumah. Beberapa pelayan yang melihat majikannya di papah seorang wanita bergegas berlari membantunya memapah menuju kamar.


Fera yang melihat Devan di antar Clarissa segera menghampirinya. "Kenapa dengan cucuku?"

__ADS_1


"Tadi Devan mengeluh pusing," jawab Clarissa.


"Ya sudah, kau boleh pulang!" ucap Fera.


"Kalau begitu, saya permisi Oma!" pamit Clarissa.


"Ya," ucap Fera singkat.


Clarissa di jemput sopir pribadinya menuju tempat selanjutnya. Sore ini ia akan mengisi acara di salah satu stasiun televisi.


Sementara itu, Fera duduk di dekat ranjang cucunya. "Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kau merasa pusing? Apa ada sesuatu yang membuatmu mengingatnya?" cecar wanita tua itu.


Devan bangkit duduk mengambil ponselnya dan membukanya lalu menunjukkan foto di dalamnya.


Fera meraihnya dan melihatnya, ia membelalakkan matanya lebar. "Dia!" ucapnya terkejut.


"Apa Oma mengenalnya?"


"Dia orang yang telah menculikmu."


"Apa benar yang Oma katakan?" Devan tak menyakininya.


"Benar," jawabnya.


"Jadi, ayah kandung Clarissa pelakunya?" tanya Devan sekali lagi.


Oma Fera mengangguk tanda mengiyakan.


Devan menggelengkan kepalanya tak percaya, "Ini pasti tidak benar!"

__ADS_1


__ADS_2