Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.34-Kemarahan Devan


__ADS_3

"Maukah kamu menerimaku?" Eza menatap kekasihnya.


Sebuah tangan menghentakkan kotak cincin hingga terjatuh. Eza dan Raisa saling melihat ke arah cincin lalu kepada seseorang yang telah melakukannya.


Devan menarik kerah baju Eza dan memukul rahang pemuda itu cukup kuat hingga membuatnya terhuyung. "Aku tidak akan pernah mau menerima kau menjadi menantuku!" berkata tegas.


Devan kembali menarik kerah dan membuat Eza berdiri lalu memukul di bagian perut.


"Papa, hentikan!" teriak Raisa menangis dari kursi roda.


Clarissa yang mendengar suara suaminya dari dalam rumah berlari ke taman menghampirinya dan memeluknya.


"Devan, cukup!"


"Apa kau belum cukup membuat putriku lumpuh?" tanya Devan dengan nada tinggi.


Eza tak membalas pukulan dari calon mertuanya, ia hanya diam dan mengelap bibirnya yang berdarah.


Devan hendak meraih tubuh Eza lagi namun terhalang Clarissa yang mendekapnya erat.


"Tuan, aku siap bertanggung jawab!" Eza berkata lantang.


"Tanggung jawab kau bilang? Apa kau bisa mengembalikan putriku seperti dulu," Devan berbicara dengan nada tinggi.


"Jangan sakiti Eza, Pa!" mohon Raisa terisak.


Devan mengarahkan pandangannya pada putrinya. "Kamu masih membelanya setelah apa yang dia lakukan padamu!"


"Tuan, saya akan melakukan apapun untuk Raisa," janji Eza.


Devan kembali menatap Eza, "Kalau begitu pergi dari sini!" usirnya.


"Tuan, tolong jangan pisahkan kami!" mohon Eza mengambil posisi badan setengah berdiri dengan bertumpu pada lutut dan kaki.


"Kau harus jauhi putriku!" Devan menekankan kata-katanya. "Tidak ada kesempatan kedua untukmu lagi!" ucapnya dingin.


"Saya akan menebus semua kesalahan yang pernah saya lakukan pada Raisa," mohon Raisa.


"Sampai kapanpun aku tidak akan mengizinkan kalian!" Devan pun berlalu.

__ADS_1


"Pa..." panggil Raisa menangis hingga ia terjatuh dari kursi roda.


"Raisa!" teriak Clarissa.


Eza membantu Raisa berdiri dan kembali duduk di kursi.


"Ma...." Raisa menatap mamanya.


Clarissa meraih kepala putrinya dan memeluknya di perut. Air matanya juga ikutan menetes, "Mama akan bicara pada Papa!" janjinya.


-


Clarissa mendorong kursi roda putrinya ke dalam rumah. Devan berdiri di ruang tamu dan tampak raut wajah marahnya.


Clarissa menyuruh pelayannya mengantarkan putrinya ke dalam kamar. Setelah itu ia pergi menghampiri suaminya.


Belum berkata, Devan sudah berbicara. "Kenapa kau mengizinkan dia bertemu dengan putri kita?"


"Aku hanya kasihan saja, Van."


"Apa kau tidak kasihan dengan putri kita?" tanyanya dengan emosi.


"Aku tidak mau, dia ada di keluarga kita!" Devan berucap tegas.


"Tapi Raisa mencintainya!"


"Cinta? Putri kita menolak bertemu dengannya."


"Tapi, jauh dari lubuk hatinya dia mencintainya."


"Aku tahu apa yang harus ku lakukan untuk kebahagiaan putriku!"


"Kau egois, Van. Kau tidak pernah tahu apa yang diinginkan Raisa. Mana ada pria yang mau dengan wanita lumpuh sepertinya," ucap Clarissa lantang.


"Putriku lumpuh karena pria itu, dia penyebab semuanya," Devan menekankan kata-katanya.


"Biarkan dia menebus kesalahannya," mohon Clarissa.


"Apa kau yakin setelah mereka menikah, Raisa bahagia?"

__ADS_1


"Mereka yang menjalankannya dan belum mencobanya."


"Aku tetap tidak akan pernah memaafkannya!" Devan berlalu meninggalkan istrinya.


"Dasar keras kepala!" omelnya.


-


-


Dengan wajah babak belur, Eza pulang ke apartemen miliknya yang biasanya ia tempati, karena satu apartemennya lagi yang jarang ia tempati sudah dijualnya untuk menebus kesalahannya.


Lita melihat artisnya terluka segera bangkit dan menghampiri Eza yang baru saja masuk. "Kenapa dengan wajahmu?"


"Papa Raisa yang melakukannya," jawabnya.


"Kau pergi ke rumahnya?"


"Ya, Kak."


"Astaga, Eza kenapa kau nekat ke sana?"


"Aku ingin melamar Raisa, Kak. Tapi ini yang ku dapat," jawabnya.


"Kenapa Tuan Devan memukulmu?"


"Karena aku sudah membuat putrinya lumpuh."


"Nona Raisa lumpuh?" Lita tak percaya.


"Besok aku akan ikut secara diam-diam keluar negeri mengantar Raisa berobat," ujar Eza.


"Eza, seminggu lagi ada iklan. Aku tidak mau kau melanggar perjanjian kontrak lagi," imbuh Lita.


"Aku harus ke sana, Kak. Ku ingin berada di dekat Raisa. Dia begitu karena kebodohan yang ku lakukan!"


"Ya, memang kau bodoh. Aku juga akan melakukan hal yang sama seperti Tuan Devan," ocehnya.


"Dua hari sebelum syuting iklan, aku akan pulang," janji Eza.

__ADS_1


__ADS_2