
Devan melepas jasnya lalu membuangnya ke sembarangan tempat. Ia mengacak rambutnya. "Aaargghh... Clarissa kau sudah mempermalukan ku!"
Devan menelepon Hilman untuk dibawakan jas yang baru, tak sampai sepuluh menit sekretarisnya itu datang.
"Tuan, ini jas yang anda minta!" Hilman menyodorkan tas kantong kertas.
"Letak di atas meja!" ucap Devan yang sedang memeriksa berkas.
"Baik Tuan!"
"Bawa jas itu dan cuci!" perintah Devan.
Hilman melihat jas yang dimaksud ke arah sofa tamu, ia pun mengambilnya dan membawanya.
-
-
Gedung Clara Kosmetik
Seorang wanita muda berjalan memasuki gedung dengan angkuh, ia termasuk model ternama. Namun, memiliki citra negatif ia pernah berseteru dengan beberapa artis lainnya termasuk dengan Clarissa.
Ia melabrak Clarissa di tempat karaoke di salah satu Mall di kota B, karena wanita itu menjadi model pengganti di iklan sampo. Nikita tak senang jika dirinya dikalahkan.
Alasan ia digantikan karena Nikita melakukan penipuan jual beli mobil. Ia dilaporkan temannya sendiri.
"Aku tidak bisa membujuk Devan," ucap Clara.
"Kenapa?" tanya Nikita.
"Karena ia tak ingin mengganti Clarissa," jawab Clara.
"Apa sih' yang dia lihat dari wanita itu?" Nikita melipatkan kedua tangannya.
Clara meletakkan gelas teh di meja kerjanya, "Karena dia cantik dan berprestasi!"
"Aku juga cantik!" ucap Nikita tak mau kalah.
"Ya, kau memang cantik tapi terlalu banyak pembenci," ujar Clara.
"Mereka saja yang terlalu membenciku," ucap Nikita.
"Media sudah mencatat bahwa Nikita Bryan terlalu banyak sensasi jadi Devan tidak mungkin sembarangan merekrut artisnya," jelas Clara.
"Apa kau tidak bisa membantuku sekali lagi?" mohonnya.
"Maaf, aku tidak bisa!" ucap Clara dengan mimik wajah menyesal.
...----------------...
Gedung Arta Fashion
Pagi ini rapat antara Arta Fashion, Clara Kosmetik dan Clarissa sebagai model iklannya. Mereka akan membahas konsep foto yang akan diambil.
Iklan akan diterbitkan di majalah Cantik dan akun media sosial milik Arta Fashion dan Clara Kosmetik serta dibuatkan poster.
Kali ini Clarissa menyimak rapat dengan seksama. Ia tetap fokus dengan penjelasan salah satu karyawan dari Clara Kosmetik. Devan sesekali melirik wanita itu dan mengulum senyumnya.
Bagi Clarissa bisa bekerja sama dengan Clara Kosmetik juga kebahagiaan secara brand kecantikan itu cukup mendapatkan respon positif dari masyarakat.
"Nona, pengambilan foto akan dilakukan lusa!" ucap sekretaris Clara Kosmetik.
__ADS_1
Clarissa mengangguk dan tersenyum tanda mengiyakan.
Setelah rapat dengan jajaran pimpinan Arta Fashion dan Clara Kosmetik, Clarissa pergi dengan terburu-buru diikuti temannya. Ia tak menegur Devan, tak biasanya wanita itu seperti itu.
"Mau ke mana dia?" tanya Devan pada Hilman saat keluar dari ruang rapat.
"Saya tidak tahu, Tuan. Anda 'kan kekasihnya masa tidak tahu," jawab Hilman yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Devan. "Maaf, Tuan!" Hilman segera menundukkan sedikit kepalanya.
-
-
Restoran Mall Cahaya
"Hai, maaf menunggu!" ucap Clarissa.
"Tidak apa. Kalian apa kabar?" tanya Vino teman Clarissa sekolah tingkat pertama. Ia melanjutkan sekolahnya di luar negeri dan bekerja di sana.
"Kami baik, Vino. Sudah lama kita tidak bertemu hampir 9 tahun, ya?" tanya Tina.
"Ya," pria itu memperhatikan keduanya. "Di mana Yuna?" tanya Vino.
"Dia tak ikut," jawab Clarissa.
"Kenapa?" tanya Vino.
Tina dan Clarissa menaikkan kedua bahunya.
"Mungkin dia masih marah padaku," tebak Vino.
"Kami tidak tahu, Vino. Tetapi pastinya kau sudah di sini dan lebih bisa dekat dengannya," tutur Tina.
"Ya, kalian benar. Oh ya, aku ada sesuatu untuk kalian!"
Tina membukanya dan tersenyum. "Wah, ini cantik sekali!"
Clarissa melihat kalung pemberian Vino sejenak diam dan tersenyum tipis.
"Kenapa? Kau tak suka?" tanya Vino pada Clarissa.
"Aku suka," jawab Clarissa tersenyum.
"Apa kau ingat dengan kalungmu itu?" tanya Vino.
Clarissa menganggukan kepalanya pelan.
"Seharusnya aku tak memberikan kalian ini," ucap Vino. "Karena aku bingung memilihkan oleh-oleh untuk kalian," lanjutnya.
"Tidak apa," ujar Clarissa.
"Aku mau ke toilet, kalian pesanlah makanan!" ucap Tina.
...----------------...
Clarissa kini sudah berada di studio Arta Fashion. Ia akan bersiap melakukan pemotretan. Ada dua produk yang harus ia iklankan yaitu pakaian dan kosmetik.
Fotografer mulai memberikan pengarahan kepada Clarissa. Pemotretan kali ini tidak dihadiri Devan, karena ia masih fokus menandatangani beberapa berkas. Hanya Clara yang datang melihat proses pembuatan iklan.
Akhirnya, pemotretan selesai dilakukan. Proses pembuatan membutuhkan waktu tiga jam.
Clara mendekati Clarissa yang sedang membereskan beberapa barang miliknya. "Rissa, ternyata anda sangat berbakat. Aku senang bisa bekerja sama denganmu!" pujinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Nona Clara. Sudah mempercayai saya sebagai bintang iklan produk anda!" ucap Clarissa tersenyum.
"Aku berharap produk milikku diminati masyarakat," harap Clara.
"Semoga saja, suatu kebanggaan bagi saya juga kalau produk Nona laris manis," ucap Clarissa.
"Kalau begitu, saya permisi," pamit Clara . Ia juga berpamitan pada Hilman sebagai sekretaris pribadi Devan.
Clarissa menggoyang pelan dagunya dan tersenyum.
Setelah Clara pergi, Hilma mendekati Clarissa. "Nona, anda di tunggu Tuan Devan di ruangannya!"
Mendengar nama Devan membuat Clarissa tersenyum. "Baiklah saya akan ke sana!"
Selesai menyusun barang-barangnya, kedua temannya membawanya ke mobil. Sedangkan Clarissa pergi menemui Devan.
"Apa kau begitu merindukan ku?" tanya Clarissa saat memasuki ruangan Presdir.
"Duduklah!" jawab Devan.
"Duduk di mana?" tanya Clarissa menggoda.
"Jangan jadi wanita murahan," jawab Devan tanpa menatap.
"Baiklah," Clarissa duduk di depan meja kerja Devan. "Ada apa kau memanggilku?" tanyanya.
Devan menunjukkan foto di ponselnya. "Siapa dia?" tanyanya.
Clarissa melihat foto tersebut lalu tersenyum.
"Kenapa tersenyum?"
"Aku adalah seorang artis, dekat dengan siapapun pasti akan jadi pemberitaan," jawab Clarissa santai.
"Jadi ini alasanmu pergi buru-buru setelah rapat?"
"Ternyata kau begitu perhatian 'ya denganku?" Clarissa menatap Devan membuat pria itu salah tingkah.
"Jangan percaya diri, aku hanya tidak ingin ada berita yang bisa merugikan perusahaan," jawab Devan berbohong.
"Anda tenang saja, aku dan pria itu hanya sekedar sahabat," tutur Clarissa.
"Oh, begitu!" ucap Devan singkat.
"Tidak ada lagi yang dibicarakan?" tanya Clarissa.
Devan berdiri lalu mendekati Clarissa. "Sepertinya aku harus memotong kembali honormu," ucapnya.
"Kenapa harus di potong?" Clarissa memutar posisi duduknya.
"Kau harus mengganti jas ku," jawab Devan.
Mendengarnya itu Clarissa membalikkan posisi duduknya dan menutup wajahnya dengan rambutnya.
"Harga jas baru yang ku beli itu sangat mahal," ujar Devan. "Dan kau juga harus membayar ganti rugi rasa malu ku!" lanjutnya.
"Memang aku melakukan apa hingga membuatmu malu?"
"Kau lupa dengan bibirmu yang sengaja kau tempelkan di jas ku," jawab Devan.
Clarissa langsung bangkit dan berdiri menghadap Devan. "Maafkan, aku!"
__ADS_1
"Terlambat!" Devan tersenyum menyeringai.