
Selesai membersihkan diri Devan dan Clarissa menikmati makan malam bersama keluarga istrinya. Raya dan Rey juga datang meskipun mereka memilih tidur di hotel.
"Devan, Tante sudah membuatkan makanan kesukaanmu," memberikan piring dengan isi sepotong daging panggang di dalamnya. "Dan ini makanan kesukaan Rey," meletakkan piring dengan isi ayam kecap paprika.
"Buat aku dan Rissa mana, Bu?" tanya Raya.
"Oh, untuk kalian Ibu tak sempat memasaknya." Claudia dengan santai duduk di samping suaminya tanpa memperdulikan wajah kesal putri-putrinya.
"Ibu cuma sayang dengan menantu saja," protes Clarissa.
"Iya, benar!" sahut Raya.
"Tunggu sebentar!" Claudia beranjak berdiri dan pergi ke dapur. Tak lama kemudian dia membawa dua wadah kecil. "Ini buat Clarissa," menyodorkan piring berisi balado telur. "Ini buat Raya," meletakkan sepiring kecil balado udang.
"Aku mau udang, Bu!" pinta Clarissa membuat seluruh mata yang ada di meja makan mengarahkan padanya.
"Rissa, kau alergi udang!" Raya mengingatkan saudara tirinya.
"Kemarin aku makan tidak apa-apa," jelasnya.
"Rissa, kemarin itu kau hanya makan dua ekor saja!" Devan juga mengingatkan istrinya.
"Tapi, aku mau!" rengeknya.
"Ya, sudah. Sedikit aja, ya!" Raya memberikan dua ekor udang.
Clarissa mulai menyantap nasi dengan balado udang.
__ADS_1
Seluruh keluarga menatap heran wanita hamil yang begitu sangat lahap memakannya.
"Kenapa kalian menatap ku?" Clarissa melihat sekitarnya. "Kalian tidak makan?" tanyanya lagi.
"Ini kita mau makan," jawab Ardian. "Ma, Papa mau sayur. Tolong ambilkan!" titahnya pada istrinya.
Devan, Raya dan suaminya akhirnya mulai menikmati makan malam sambil melirik Clarissa. Mereka berlima kecuali si gadis kembar sangat khawatir dengan kondisinya dan calon bayinya.
Clarissa meraih gelas air putih dan meminumnya, ia menampilkan senyumnya karena ngidamnya terpenuhi.
-
Pukul 12 malam, Devan belum juga tertidur. Ia begitu sangat gelisah hingga membuat Clarissa yang sedang pulas terbangun.
"Kenapa kau belum tidur?" Dengan suara parau dan mata sedikit terbuka.
"Tempat tidurnya sempit sekali," jawabnya.
"Jangan!" Devan menahan tangan istrinya. "Kau tetap di sini, aku akan tidur di sampingmu!" ujarnya.
"Kau bilang ranjangnya kecil, bagaimana bisa tidur?"
"Aku akan usahakan memejamkan mata."
"Ya sudah, sini!" Clarissa merentangkan tangannya.
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Biar aku memelukmu, agar kau bisa tertidur pulas," bujuk Clarissa.
Devan merebahkan tubuhnya di samping istrinya, kepala Clarissa ia letakkan di dadanya.
"Lain kali kita tidur di hotel saja," ujar Clarissa.
"Sudah di sini saja, nanti Ibu dan Paman akan berkecil hati."
"Ya, kau benar. Kita ke sini bukan tiap hari, lagian aku sangat merindukan kamarku ini," ungkap Clarissa.
"Selama itu membuat dirimu bahagia, aku akan melakukan apapun," Devan mengecup kening istrinya.
"Terima kasih, sayang!" Clarissa mengecup bibir suaminya.
"Jangan memancing ku, Rissa!" Devan menyentil hidung Clarissa.
"Aku tidak memancingmu, kau saja yang merasa!" menunjukkan wajah gemas.
"Ranjang terlalu kecil, besok aku akan membeli ranjang yang besar. Agar kita bisa leluasa."
"Aku tidak mau ranjang ku di ganti," protes Clarissa.
"Tapi kau harus mau, bagaimana aku bisa menerkammu?"
"Nanti setelah di rumah kita saja, kau belum menerkam ku sepuasnya," jawab Clarissa.
"Baiklah, kalau begitu besok pagi kita pulang!"
__ADS_1
"Ih, cepat sekali. Aku belum puas di sini!"
"Tapi aku sudah tidak sabar," goda Devan membuat Clarissa memukul pelan lengan suaminya.