
Raisa sedang bermain bersama pelayan, ia berlari-lari sambil tertawa mengelilingi taman rumah.
Rayi dan Rayendra datang bersama kedua orang tuanya. Raisa berlari menghampiri mereka lalu menyapa keempatnya dengan senyuman.
"Hai, Raisa. Di mana Mama Rissa?" tanya Raya.
"Mama lagi di dalam, sebentar aku akan panggilkan," Raisa berlari memanggil ibunya.
Tak lama kemudian ia datang bersama Clarissa dengan berpegangan tangan.
"Apa kabar, Raya?" sapa Clarissa mencium pipi kiri dan kanan saudara tirinya. "Maaf, aku belum sempat mengunjungimu lagi," ujarnya.
"Tidak masalah," Raya tersenyum.
"Di mana Devan?" tanya Rey.
"Ada di perpustakaan," jawab Clarissa.
"Kalau begitu aku akan ke sana," Rey menyusul sepupunya itu.
"Kita di sini saja mengobrolnya!" Clarissa mengajak Raya duduk di kursi yang berada di taman depan.
Raya pun mengikuti Clarissa, sementara itu Rayi bermain bersama Raisa.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Clarissa.
"Ya, begitulah."
"Ada masalah?"
"Ada yaitu Mama Siska," jawab Raya.
"Kenapa dengan Tante Siska?"
"Aku dibuat pusing olehnya, ini tidak boleh itu juga. Apa yang ku lakukan selalu salah," keluh Raya.
"Bersabarlah, Tante Siska dari memang dahulu seperti itu," Clarissa menguatkan saudaranya itu.
__ADS_1
-
-
Nikita dan kekasihnya sedang berjalan-jalan santai di sebuah mall. Seorang balita menangis sambil menarik pakaian ibunya.
"Bu, mau itu!" tunjuknya ke arah toko es krim.
"Tidak, Nak. Kau sudah terlalu banyak minum es krim, ayo kita pulang!" bujuknya.
"Sayang, aku ke sana sebentar ya!" pamit Nikita pada kekasihnya yang sedang menunggu pesanan makanannya datang.
Setelah mendapatkan izin, ia mendekati ibu dan anak tersebut. "Hai, apa kabar?"
Ibu muda itu membalikkan tubuhnya, lalu menarik sudut bibirnya. "Baik!" jawabnya ketus.
"Dia putrimu?"
"Ya."
"Pastinya," Ibu muda itu tersenyum bangga.
"Kebetulan bertemu denganmu di sini, aku ingin menyampaikan undangan pernikahan," Nikita mengeluarkan kertas bertinta emas dari dalam tasnya.
"Jangan lupa datang!" pintanya.
"Aku dan suamiku, akan menyempatkan hadir. Selamat, ya!"
"Terima kasih," Nikita tersenyum kemudian ia berlalu.
"Dia siapa, Bu?" tanya bocah berusia 4 tahun itu dengan bicara belum terlalu jelas.
"Dia teman ibu dan ayah," jawabnya.
"Kenapa rambutnya kuning?" tanya bocah perempuan itu polos.
"Memang, seperti itu rambutnya."
__ADS_1
"Kenapa rambutku dan punya ibu tidak sama seperti dia?"
"Ya, karena tidak mau punya rambut seperti dia," jawabnya asal.
"Kenapa?"
"Kalau kita merubah rambut seperti itu, ayahmu tidak tanda lagi pada kita. Sudah, jangan banyak bicara lagi. Nanti kamu haus lagi, merengek minta es krim," jawabnya lagi. "Sekarang waktunya kita pulang, ayahmu pasti sudah pulang kerja," ajaknya.
"Ayo, kita pulang. Biar aku minta pada ayah, rambutku dibuat seperti tante tadi," celoteh bocah perempuan itu bernama Thalitha.
"Kamu cantik dengan rambut seperti ini," puji Ibu muda itu sambil berjalan meninggalkan mall.
Sementara itu, Yuna mondar-mandir di halaman rumahnya sambil memegang perutnya yang sudah membesar. Sejak dirinya dan Tina menikah, apartemen milik Clarissa ditempati oleh saudara keluarga Claudia.
Vino keluar dari rumahnya sambil membawa secangkir teh lalu ia letakkan di meja yang ada di teras. "Sayang, sudahlah jangan berjalan terus. Apa kau tidak lelah?"
"Jangan cerewet, ambilkan saja aku air putih!" perintahnya.
"Baiklah, aku akan mengambilkanmu air putih!" Vino bergegas ke dalam rumah.
Saat ia kembali, Yuna mengerang kesakitan sambil memegang perutnya. Dengan langkah cepat, Vino mendekati istrinya. "Kenapa?"
"Siapkan mobil dan bawa perlengkapan bayi yang ku susun di dalam tas besar," titah Yuna menahan rasa sakit perutnya.
Vino bergegas melakukan apa yang diperintahkan istrinya, setelah itu memapah Yuna masuk ke dalam mobil. Ia melesat ke rumah sakit.
Tiga jam berada di ruangan bersalin, akhirnya Yuna melahirkan bayi laki-laki diberi nama Yuno. Kabar kebahagiaan pun sampai di telinga Clarissa dan Tina.
Dengan perut sudah membesar dengan nafas ngos-ngosan, akhirnya ia sampai di ruangan Yuna dan putranya. Tak lupa ia membawakan kado buat mantan manajernya itu.
"Ya, ampun Rissa. Tak perlu repot-repot membawakan kado untukku," Yuna berbasa-basi. "Kalau masih ada lagi bawakan saja ke sini," ia tersenyum nyengir.
"Nanti aku akan katakan pada suamiku, jika kau ingin kado lagi," ujarnya.
"Jangan minta lagi padanya, nanti honorku dipotongnya," sindir Yuna.
"Kau tidak usah mengingatkan hal itu, sekarang dia tak berani memotong honorku. Malah uangnya aku yang pegang," tutur Clarissa membuat Yuna tertawa.
__ADS_1