Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.33- Maukah Kamu Menikah Denganku?


__ADS_3

Eza mengikuti mobil rombongan keluarga Raisa. Begitu sampai, ia berjalan cepat menghampiri mobil Devan.


"Nyonya, izinkan saya untuk berbicara dengan Raisa," pintanya pada Clarissa yang baru saja keluar dari mobil.


"Lebih baik kamu pulang dulu, Za."


"Saya tidak akan pulang sebelum berbicara dengan Raisa," ujarnya.


"Biarkan saja dia," sahut Devan ketus.


Eza mendekati kursi roda Raisa, "Tolong dengarkan penjelasan ku. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa."


"Usir dia dari sini!" Devan memberi perintah kepada pengawalnya.


Pengawal memegang tangan Eza untuk menjauh.


"Pastikan dia tidak berkeliaran di sini!" titah Devan lagi pada pengawalnya lalu melirik kekasih putrinya.


"Baik, Tuan." Dua orang pengawal menjawab serentak.


Setelah Devan dan keluarganya masuk ke dalam rumah, Eza pun dilepaskan. Dengan hati kecewa ia meninggalkan kediaman Artama.


...----------------...


Esok harinya saat sarapan, Raisa membaca berita di media online tentang kekasihnya. Eza dikabarkan bangkrut karena melanggar kontrak kerja, satu unit apartemen dan dua jam tangan mewahnya terjual untuk menutupi utang. "Apa yang terjadi dengannya?" batinnya.


"Raisa, ayo dimakan!" ajak Devan lembut.


"Iya, Pa." Raisa meletakkan ponselnya lalu sarapan.


Devan bisa menebak apa yang telah dibaca putrinya itu sehingga wajahnya seperti menyimpan beban. "Berita itu sering terjadi di dunia hiburan, dia sungguh tidak profesional!"

__ADS_1


"Aku yakin pasti terjadi sesuatu sehingga ia melanggar kontrak kerja," tutur Raisa.


"Kenapa kamu begitu yakin? Apa dia terlibat skandal sehingga dia melanggar kontrak?" Devan menatap putrinya.


"Bukankah kamu sendiri yang tidak ingin bertemu dengannya, kenapa masih kepikiran tentang kasus yang menimpanya?" Clarissa menyindir putrinya.


"Penasaran saja apa yang membuat dia melanggar kontrak dan bisa bangkrut," jawab Raisa.


"Penasaran atau kamu masih mencintainya?" Clarissa kembali menyindir.


Raisa terdiam.


"Jangan bahas dia lagi di sini," Devan menyudahi perdebatan kecil di meja makan. "Lusa, kita akan berangkat ke luar negeri untuk pengobatan yang akan kamu jalani," ujar Devan menatap putrinya.


"Iya, Pa."


-


Devan berangkat ke kantor, sementara Clarissa mengajak putrinya untuk berkeliling taman sekitar rumahnya.


Akhirnya, Clarissa mengizinkan pria itu bertemu dengan Raisa walaupun putrinya itu menolaknya. Kebetulan tidak ada suaminya, inilah saatnya untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara keduanya.


Dengan wajah senang, "Terima Kasih!" ucap Eza pada Clarissa karena telah diberikan izin untuk berbicara.


"Tante tinggal ke dalam, ya!" Clarissa tersenyum.


"Sekali lagi terima kasih, Tante!" ucap Eza entah sudah berapa kali.


"Untuk apa lagi ke sini?" tanya Raisa ketus setelah mamanya tak ada didekatnya.


Eza berjongkok dihadapan Raisa yang duduk di kursi roda, "Aku minta maaf padamu!"

__ADS_1


"Terlambat!"


"Maaf aku tidak memberitahumu tentang pertemuan kami, karena saat itu dia butuh bantuan ku," jelasnya.


"Oh, jadi kau ingin bermain rahasia denganku?"


"Bukan begitu, Raisa. Ku takut kamu jadi salah paham," jika ku berkata jujur."


"Harusnya berkata jujur dan ajak aku bertemu dengannya bukan datang sendirian. Apa kau masih mencintainya?"


"Aku tidak mencintainya sejak hubungan kami berakhir, apalagi ku tahu kalau dia berselingkuh dibelakangku," jawab Eza.


"Seandainya dia tidak berselingkuh apa kau masih bersama dengannya?"


"Aku tetap memilihmu!"


"Sekarang aku cacat, Za. Apa yang kau harapkan dariku?" teriaknya.


Eza meraih tubuh Raisa dan mendekapnya. "Aku akan bersamamu apapun terjadi!"


Raisa mendorong Eza, "Aku benci kamu. Benci!" sengaja menekankan kata-kata berurai air mata.


"Jangan membenciku, Raisa!" Eza dengan mata berkaca-kaca meraih kedua telapak tangan kekasihnya itu dan menciumnya.


"Pergilah, sebelum Papaku mengusirmu!"


"Aku tidak peduli jika Papamu mengusirku bahkan memaki dan memukulku, aku cuma ingin kau tahu kalau ku mencintaimu." Kepala Eza tertunduk di pangkuan Raisa.


"Eza, jangan seperti ini." Berusaha mendorong bahu kekasihnya.


Eza mendongakkan kepalanya, ia merogoh kantongnya dan mengambil kotak kecil berisi cincin. "Raisa Artama maukah kamu menikah denganku?"

__ADS_1


Raisa menutup mulutnya tak percaya.


"Malam itu aku hendak melamarmu, tapi semuanya hancur karena kesalahanku. Maukah kamu menerimaku?"


__ADS_2