
Alya dan beberapa keluarganya telah kembali ke rumah orang tuanya.
Begitu sampai rumahnya, beberapa keluarga dari pihak papanya mengajak Alya duduk bersama-sama di ruang tamu.
"Papa kamu 'kan sudah pergi, kami harap kamu segera angkat kaki dari sini!" ucap wanita merupakan adik angkat dari Joshi yang pertama.
"Tante tidak salah, ini 'kan rumah milik kedua orang tuaku," ujar Alya.
"Memang iya, tapi rumah ini sebagai jaminan karena kedua orang tua kamu memiliki utang kepada Tante sebesar lima ratus juta," ucapnya lagi.
"Aku akan membayarnya, Tante."
"Kamu mau bayar pakai apa? Gaji kamu sebagai karyawan di perusahaan itu sangat kecil, mobilmu juga telah dijual."
"Ya, aku akan mencari caranya," ucap Alya.
"Kamu mau menjual diri?" Adik perempuan angkat Joshi yang kedua ikut merendahkannya.
"Astaghfirullah, walau miskin aku tidak akan menjual diri demi sesuap nasi," ucap Alya.
"Kami akan menjual rumah ini," ujar adik angkat Joshi pertama.
"Dan sisanya kamu tidak perlu takut, kami akan memberikannya kepadamu!" timpal yang lainnya.
"Lalu aku harus tinggal di mana?" tanya Alya masih dengan mata sembab.
"Itu bukan urusan kami!" jawab adik angkat Joshi kedua.
**
Sebulan kemudian......
Selepas dari kantor Ivan mendatangi kediaman sahabatnya untuk menjemput Alya dan membawanya pulang ke rumahnya.
Begitu sampai di rumahnya, kebetulan juga Dimas baru tiba tampak terkejut dengan gadis yang berada di samping papanya.
"Siapa dia, Pa?" tanya Tria yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya di ruang keluarganya.
"Dia Alya," jawab Ivan.
"Mau apa dia kemari?" tanya Tria tak suka.
"Dia akan menginap di rumah ini beberapa hari," jawab Ivan.
__ADS_1
"Papa tidak salah?" Dimas kali ini bertanya. "Dia tinggal di sini, memangnya dia tidak memiliki rumah?" lanjutnya.
"Untuk sementara dia tinggal di sini, rumahnya akan dijual," jelas Ivan.
"Rumah kita seperti penampungan saja," Tria menggerutu.
"Apa dia tidak memiliki saudara? Kenapa harus menumpang di rumah kita sih, Pa?" tanya Dimas.
"Dimas...."
"Paman, saya janji besok akan pergi dari sini dan mencari kos-kosan kecil," Alya memotong pembicaraan.
"Tidak Alya, kamu tinggal di sini untuk beberapa hari. Paman akan mencari dan membeli rumah buat kamu," ucap Ivan.
"Wow, Papa akan membelikan rumah untuk dia. Baik sekali, apa jangan-jangan gadis ini memiliki hubungan khusus dengan Papa," Dimas menuding.
Ivan menampar pipi putranya.
Membuat Alya dan Tria terkejut begitu juga dengan Dimas yang memegang pipinya.
"Jaga ucapan kamu, Dimas!" Ivan mengarahkan jari telunjuknya dihadapan putranya.
"Papa menampar Kak Dimas hanya demi gadis miskin seperti dia!" Tria ikut kesal.
Alya tampak gemetaran.
"Alya akan tinggal di sini, jangan kalian pernah mengusiknya!" ancam Ivan kemudian berlalu.
Dimas mengeraskan rahangnya, menatap tajam gadis yang ada dihadapannya.
"Kami tidak akan membiarkan kamu hidup tenang di sini," Tria berkata dengan sinis.
Dimas bergegas ke kamarnya.
-
Malam harinya, ketika makan malam.
Seluruh keluarga telah berkumpul hanya Dimas yang belum menunjukkan batang hidungnya.
Tak lama kemudian pemuda itu muncul namun ketika melihat Alya dia memilih kembali ke kamarnya mengambil kunci mobil.
Ivan menyadari putranya hendak pergi, lantas bertanya, "Mau ke mana kamu?"
__ADS_1
"Aku mau makan di luar, Pa."
"Kenapa tidak makan bersama di rumah?" tanya Ivan lagi.
"Kak Dimas tidak mau makan jika ada dia di sini," Tria menyahut.
"Jawaban Tria sudah cukup 'kan, Pa." Dimas berkata sembari melirik Alya.
"Dimas, Papa tidak mengizinkan kamu keluar rumah!" ucap Ivan.
Dimas tak peduli dengan ucapan papanya memilih pergi.
Ivan menghela nafasnya.
"Biarkan saja dia begitu, Pa." Mawar menenangkan suaminya. "Silahkan lanjutkan makannya!" mengarahkan pandangannya kepada Alya.
Gadis itu mengangguk pelan, memasuki makanan ke dalam mulutnya dengan wajah sendu.
-
Pukul 12 malam, Dimas baru saja pulang. Pria itu memasuki rumah dengan wajah sedikit lebam.
Alya yang belum tertidur pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih namun di pertengahan jalan ia melihat Dimas dengan memegang bibirnya yang tampak berdarah.
Alya pun memberanikan diri bertanya, "Kenapa dengan wajah Mas Dimas?"
"Bukan urusan kamu!"
"Bagaimana jika saya obati?" Alya menawarkan diri.
"Tidak usah sok baik!" hardiknya.
"Maaf, Mas. Tapi luka itu harus di obati," ucap Alya.
"Jika kamu pergi dari sini, luka ini juga akan sembuh!"
"Maafkan saya, Mas."
Dimas memilih meninggalkan Alya yang masih mematung.
Alya melangkah ke kamarnya, duduk di sisi ranjang dan kembali menangis. "Kenapa hidupku seperti ini? Kenapa mereka begitu kejam dan tega padaku?"
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa mampir 🌹