
Raisa dan suaminya mengantar Mama Clarissa dan Papa Devan ke bandara. Padahal ia berharap kedua orang tuanya itu mengajaknya.
"Selama Papa dan Mama pergi liburan, jangan sampai terlambat ke kantor. Pastikan suamimu itu tepat waktu mengantarmu!" Devan berkata pada putrinya.
"Iya, Pa." Jawab Raisa. "Setelah itu kami yang gantian liburannya," lanjutnya berucap.
"Tidak bisa," ucap Papa Devan.
"Papa pelit!" Raisa mendengus kesal.
Devan mencubit hidung putrinya, "Kamu bilang Papa pelit, kalau begitu kami akan memperpanjang liburan di sana."
"Eh, jangan dong. Raisa kesepian kalau tidak ada Papa di kantor," ujarnya.
Devan tersenyum hangat memeluk putrinya.
"Kami berangkat dulu, ya sayang!" Clarissa gantian memeluk putrinya.
Eza hanya mencium punggung tangan kedua mertuanya. Karena Devan melarangnya untuk memeluk.
...----------------...
Raisa diantar kerja oleh suaminya seperti biasanya. Wanita yang kemarin memeluk Eza menghampirinya.
"Pagi, Nona Raisa!" sapanya tersenyum.
"Ya, pagi. Ada apa?" tanya Raisa ketus.
"Maafkan perlakuan saya beberapa yang lalu," ujarnya.
"Ya, kamu tahu sendiri. Bila saya tak menyukai seseorang, kontrak tidak akan diperpanjang," jelas Raisa.
"Saya tidak tahu kalau Eza adalah suami Nona Raisa," ungkapnya.
"Ya sudah, lain kali jangan diulangi!" Raisa tersenyum lalu berjalan ke ruangannya.
-
-
Eza mendatangi ruangan kerja istrinya kebetulan tidak ada mertuanya jadi sebebasnya dia memasuki gedung Arta Fashion.
"Sore istriku," Ketika Eza membuka pintu.
"Sayang, kenapa ke sini? Bagaimana kalau Paman Hilman memberi tahu kepada Papa?"
"Tidak mungkin, Paman Hilman mengadu," Eza mendekati kursi kerja istrinya.
"Semoga saja," harapnya. "Kau tahu sendiri kalau Paman Hilman itu orang kepercayaannya Papa. Jadi, jangan macam-macam padanya," lanjutnya.
"Iya, sayang. Lagian kita sudah menikah, macam-macam dengan istri sendiri tidak apa, kan?"
"Ya, sih."
"Sekarang sudah lima sore, kau tidak pulang?"
"Sebentar lagi, masih ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan. Jika Papa pulang, aku belum menyelesaikan ini. Dia nanti takkan memberikan izin cuti," jawab Raisa.
"Ya, kau benar. Aku juga yang akan dimarahinya, kalau begitu ku tunggu di sana, ya!" Eza menunjuk ke arah sofa.
-
-
Sementara itu Devan menggandeng tangan istrinya menikmati pemandangan kota.
"Apa kau senang?" Devan menatap wajah istrinya yang selalu terlihat cantik baginya.
"Senang sekali, Van. Terima kasih, ya!" Clarissa tersenyum.
"Jika kau senang dan suka, aku jadi bahagia."
"Kalau Darren dan Raisa ikut kita pasti seru juga," ujar Clarissa.
__ADS_1
"Kalau mereka ikut, kita tidak bermesraan seperti ini. Bukankah mereka juga sudah memiliki pasangan?"
"Darren belum punya pasangan, Van. Lagian anak kita yang itu sifatnya hampir mirip denganmu," jelas Clarissa.
"Seperti aku?"
"Ya, sangat mirip. Kayaknya dia cenderung sulit mendapatkan pasangan," jawab Clarissa.
"Aku tidak, buktinya dapat kau!" Devan merangkul bahu istrinya.
"Itu karena aku yang mengejarmu. Tapi, kau memang sangat berbeda, Van!"
"Ya, jelaslah. Aku berbeda dari beberapa mantan kekasihmu," celetuk Devan.
"Kenapa bahas mantan, sih?" Clarissa memanyunkan bibirnya.
"Aku cuma mau bandingkan diriku dengan mereka," Devan membanggakan diri.
Menjelang malam hari, Devan dan Clarissa kembali ke hotel. Seseorang memanggil mereka dengan sebutan Mama dan Papa.
"Sayang, sepertinya aku mendengar suara Darren," ujar Clarissa.
"Ya, aku juga. Tidak mungkin dia ke sini, kan?" Devan bertanya pada istrinya.
"Mama, Papa," Kini Darren telah berada di belakangnya.
Devan dan Clarissa kembalikan badannya, keduanya terkejut putra bungsunya sudah ada di depan mata.
"Akhirnya, aku bertemu dengan kalian," Darren memeluk erat Clarissa lalu bergantian mendekap Devan.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Devan.
"Kata Kak Raisa kalian ke negara ini, jadi aku tanya saja sama pengawal Papa di kota dan hotel mana kalian menginap," jawabnya.
"Kenapa mereka memberi tahu keberadaan kita?" geram Devan.
"Pa, jangan marahi mereka. Aku yang memaksanya," jelas Darren. "Apa benar, kalau Mama dan Papa ke sini mau memberikan aku seorang adik?" tanyanya.
Clarissa menepuk jidatnya, "Astaga ini bocah. Mama dan Papa sudah tua, mana mungkin bisa memberikan kamu adik lagi. Harusnya kalian itu yang memberikan kami cucu."
"Kamu ke sini, bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Devan.
"Aku minta izin libur, Pa." Jawabnya santai.
"Apa? Kamu libur karena untuk menyusul kami ke sini?" Devan rasanya ingin marah pada putranya itu.
"Tidaklah mungkin aku libur, Pa. Peraturan sekolah ketat, Papa sendiri yang mengatakan kalau kamu harus disiplin," jelas Darren.
"Ya, benar," sahut Devan.
"Aku kemari karena memang libur seminggu, jadi ku menyusul kalian. Aku benar-benar kangen," ujar Darren.
"Mama juga, sayang!" Clarissa memeluk putranya.
"Selama di sini, kamu jangan mengganggu Mama dan Papa. Jika berani membuat kami marah, siap-siap Papa akan usir," jelas Devan.
"Siap, Pa." Darren tersenyum menatap papanya. "Aku mau ke kamar dulu, Pa." Ia berjalan melewati kedua orang tuanya menuju kamar yang sudah dipesan.
"Mereka itu tidak bisa jauh dari kita," Clarissa tersenyum.
"Jangan sampai dia mengganggu bulan madu kita," ujar Devan.
Clarissa mengulum senyum melihat cemburunya suaminya kepada anak-anaknya.
-
Baru hendak memejamkan mata, Devan dan Clarissa dikejutkan dengan suara bel berbunyi.
"Pasti anak itu!" Devan tampak kesal bergegas turun dari ranjang.
Setelah mengintip dari lubang pintu, ia pun membukanya.
"Hai, Pa." Darren tersenyum.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Devan.
"Pa, aku kehabisan uang. Bisakah kirimkan lagi?" pintanya.
"Kamu tuh bukannya hemat, malah boros begini," omel Devan berjalan masuk ke kamar disusul Darren yang ikut juga.
Devan mengambil ponselnya lalu mengirimkan sejumlah uang kepada putranya.
Darren tersenyum melihat nominal uang yang dikirim papanya.
"Setelah lulus, Papa harap kamu memegang perusahaan," ucap Devan.
"Kak Raisa memangnya ke mana?"
"Raisa adalah seorang istri jadi tak bisa sepenuhnya berada di kantor. Jadi, kamu satu-satunya harapan Papa," jawab Devan.
"Baiklah, Pa."
"Gunakan uang ini sebaik-baiknya, memangnya malam ini kamu mau ke mana?"
"Mau jalan-jalan saja, Pa."
"Ingat, jangan ke tempat dugem," nasehat Devan.
"Darren tidak akan ke sana, banyak orang-orang saling bersentuhan dan sangat aneh," ujarnya.
"Baguslah, kalau memang kamu sudah tahu. Pergilah sana, jangan pulang terlalu malam," Devan menasehati putranya lagi.
"Iya, Papaku. Aku pergi dulu, selamat malam dan selamat tidur," Darren meninggalkan kamar orang tuanya.
Devan kembali ke ranjang.
"Mau apa Darren kemari?" tanya Clarissa.
"Minta uang."
"Kau memberinya?"
"Iya."
"Ini negara orang, bagaimana kalau dia ke tempat aneh-aneh?" Clarissa khawatir.
"Dia takkan ke sana, kau tenang saja. Putraku tidak seperti itu, bukankah kau bilang kalau Darren mirip aku?" Devan menatap istrinya.
"Memang, sih. Tapi aku sangat khawatir padanya," jawab Clarissa.
"Sudahlah, dia telah dewasa. Percayalah padanya, lebih baik kita tidur saja," Devan mengecup kening istrinya dan memejamkan matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alhamdulillah Kisah Ini Selesai...
Terima Kasih Atas Dukungan Kalian Yang Setia Membaca Dari Awal. Memberikan Like, Komen, Poin dan Vote..
Sekali Lagi, Terima Kasih...
💓🌹
Sampai Jumpa...
Jangan Lupa Mampir di Karyaku Yang Lainnya..
-Penculik Hati
-Salah Jatuh Cinta
-Dijodohkan Dengan Musuh
-Melupakan Sang Mantan
-Calon Istriku Musuhku
-Marsha, Milik Bara
__ADS_1
Terima Kasih Banyak 💓💓💓💓💓💓💓