Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Pernikahan Raya dan Rey


__ADS_3

Pernikahan pun terjadi, meski tanpa restu dari Siska selaku ibu dari Rey. Pesta resepsi diadakan cukup meriah namun raut wajah bahagia tak tampak pada wanita paruh baya itu.


Raya dan Rey tersenyum menyapa para tamu undangan yang memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai pengantin.


Clarissa dan suaminya juga turut hadir. Karena Raya adalah keluarganya tentunya Claudia juga ada di pesta pernikahan itu.


Oma Fera juga hadir untuk mengucapkan selamat bahagia.


"Oma, Rissa di sini saja!" pintanya pada nenek suaminya.


"Kenapa? Kita harus bertemu dengan kedua pengantin memberikan selamat," jelas Oma Fera.


"Tante Siska sangat menakutkan di sana," mata Clarissa menunjuk arah pelaminan.


"Jika dia berani macam-macam pada cucu menantuku, Oma akan memarahinya!" janji Fera.


"Iya, ayo kita ke sana setelah itu kita pulang. Aku tidak terbiasa berlama-lama di sini," ujar Devan.


Clarissa memberanikan diri naik ke pelaminan memberikan selamat kedua pengantin yang berbahagia.


Siska tersenyum saat menjabat tangan Oma Fera, namun ketika berjabat tangan dengan Clarissa wajahnya berubah ketus. Wanita muda itu tetap biasa menanggapinya karena ada dua orang yang siap membelanya.


Tak menunggu acara sampai selesai, Devan dan suaminya bergegas pulang begitu juga dengan Oma Fera.

__ADS_1


-


Intan datang dengan manajernya, ia memeluk Siska dengan wajah sedih. "Tante, seharusnya aku yang duduk di sebelah Rey!" melirik Raya.


"Tante tak bisa berbuat apa-apa, Rey yang memilih dia. Tapi memang lebih baik kamu daripadanya," Siska menatap sekilas menantunya.


"Jaga bicara Mama, bagaimana jika Tuan Ardian mendengarnya?" bisik Papa Rey.


"Biarkan saja, Pa." Siska tetap cuek dengan peringatan suaminya.


"Kalau begitu aku pamit pulang, Tante!"


"Iya, Intan. Hati-hati," Siska tersenyum ramah.


Intan memberikan selamat kepada kedua pengantin lalu memeluk Raya. "Hari ini kau bisa menang, tapi jangan harap kau bisa bahagia!" berbisik.


Intan tersenyum kecut, "Selamat ya buat kalian berdua!" pura-pura senang.


"Terima kasih," jawab Rey ketus.


Intan pun berlalu di susul manajernya di belakang yang juga memberikan selamat kepada Raya dan Rey.


"Sepertinya dia tak pernah lelah mengejarmu!" sindir Raya pada suaminya.

__ADS_1


"Biarkan saja, nantikan dia bakalan menyerah juga," ujar Rey santai.


Setelah turun dari panggung Intan, berpapasan jalan dengan Roland dan kekasihnya. Ia pun berhenti menyapa keduanya. "Hai, kau semakin tampan saja!" godanya pada pria yang sebaya dengan Clarissa.


"Apa kau tidak laku, Nona Intan. Hingga dirimu harus menggoda beberapa pria?" Tina menyindir.


Intan tersenyum mengejek. "Aku cantik dan terkenal, siapa yang berani menolak diriku!" berbangga.


"Kalau begitu cari pria yang belum memiliki pasangan, jika benar-benar dirimu cantik dan terkenal!" Tina menarik tangan Roland meninggalkan Intan yang mulai kesal.


Intan menatap kesal punggung Tina dan kekasihnya yang berjalan cepat.


"Yang dikatakan dia itu ada benarnya!" celetuk manajer Intan.


"Sekarang kau jadi membelanya?" menatap tak suka.


"Bukan membela, memang kenyataannya begitu!" jawab manajer Intan kemudian berlalu.


Sementara itu, wajah Tina yang awalnya ceria namun ketika bertemu Intan berubah ketus dan cuek.


"Hei, kita harusnya di sini senang. Bukan menjadi murung begini," celetuk Roland.


"Ini semua karena wanita itu, entah kenapa harus bertemu dengannya!" masih dengan wajah manyun.

__ADS_1


"Mungkin dia tamu undangan dari keluarga mempelai pria," tebak Roland.


"Mungkin, tapi kalau bertemu dengannya buat orang kesal saja!" gerutunya.


__ADS_2