Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.14-Pura-pura Menjadi Kekasih


__ADS_3

Raisa melihat jam di tangannya, namun Eza belum juga muncul padahal sudah lewat 30 menit. "Apa kalian tahu di mana dia?" tanyanya pada salah satu karyawannya.


"Tidak, Nona!" jawabnya.


Raisa 2 kali menghubungi manajer Eza tapi tak ada jawaban.


"Bagaimana ini Nona, apa kita tunda saja?" tanya fotografer.


"Tunggu sejam lagi, jika belum ada kabar kita tunda esok hari," jawabnya. "Aku akan memberikan sanksi kepadanya," batinnya.


"Baiklah, Nona." Fotografer pamit beristirahat sambil menunggu.


Satu jam menunggu akhirnya Lita menelepon. "Maaf, Nona. Eza mengalami kecelakaan," ujarnya.


"Apa? Sekarang dia di mana? Apa dia baik-baik saja?" cecar Raisa.


"Sekarang dia di rawat di rumah sakit terdekat dari Arta Fashion, Nona."


"Saya akan ke sana," Raisa menutup teleponnya.


Ia lalu memerintahkan seluruh kru dan pemain karyawan menunda pemotretan sampai batas waktu yang belum ditentukan.


Saat akan keluar gedung, Raisa berpapasan dengan Rayi.


"Hei, mau ke mana?"


"Kebetulan sekali, kau di sini. Ayo, temani aku ke rumah sakit," ajaknya.


"Kau sakit?"


"Bukan aku tapi model Arta Fashion," jawabnya.


"Oh, calon kekasihmu itu!" celetuk Rayi.

__ADS_1


"Bisa tidak kalau bicara hati-hati. Bagaimana jika orang lain tahu apalagi papa," omel Raisa.


"Iya, maaf. Ayo, ku antar!" Rayi membuka pintu untuk Raisa kemudian mobil melesat ke rumah sakit.


-


-


Sesampainya di sana, Raisa berlari kecil mencari kamar inap Eza dan Rayi terpaksa melangkah kakinya lebar mengikuti gadis itu


"Eza, kamu tidak apa-apa, kan?" Raisa menyentuh wajah modelnya tanpa sadar.


"Nona, anda seperti ibu saya saja. Selalu khawatir," Eza menyadarkan Raisa.


"Eh, maaf!" ia tersenyum nyengir karena terlanjur malu.


"Nona, mohon maaf tidak memberitahu lebih awal," ujar Lita.


"Tidak masalah," Raisa mencoba tersenyum.


Lita dan Eza membalas sapaan Rayi dengan tersenyum.


Rayi mendekati Eza, lalu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan saya Rayi kekasihnya Raisa!"


Wanita yang namanya disebut dengan cepat menatap Rayi, ia mendengus kesal.


"Iya, Tuan. Maaf yang tadi," ujar Eza.


"Ya, tidak apa-apa," Rayi tersenyum.


"Kapan kau akan kembali lagi melakukan pemotretan?" Raisa balik berbicara dengan nada ketus.


"Lusa saya sudah bisa kembali lagi, Nona!" jawab Eza karena tangannya dan lutut yang sedikit lecet akibat di senggol sebuah mobil saat akan menyebrang.

__ADS_1


"Baguslah," Raisa tersenyum memaksa.


"Baiklah, kalau begitu Tuan Eza. Kami pamit pulang, cepat sehat agar kekasih saya ini tidak mengkhawatirkan anda," ujar Rayi. Ia lalu menatap Raisa, "Ayo kita pulang!" ajaknya tersenyum.


Raisa pura-pura tersenyum manis, "Ayo!"


Begitu keduanya keluar dari ruangan rawat inap, Lita bertanya pada Eza. "Pria itu apa benar kekasih Nona Raisa?"


"Sepertinya, iya!"


"Kau kalah cepat dengannya," sindir Lita tersenyum.


Eza memilih tak membalas ucapan manajernya.


Sementara itu, Raisa memukul lengan Rayi ketika jarak mereka dengan ruangan Eza di rawat cukup jauh.


"Hei, kenapa kau memukulku?"


"Kenapa kau mengaku kalau kita ini sepasang kekasih?" geram Raisa.


"Aku ingin melihat respon pria yang kau sukai itu!"


"Tapi, tidak seharusnya begitu. Dia pasti akan menjauhiku," ujar Raisa cemberut.


"Kalau memang dia mencintaimu, pasti ia akan berusaha merebut hatimu. Sepertinya memang kau yang tergila-gila padanya. Pantas saja Paman Devan melarang kau jatuh cinta," tutur Rayi.


"Pasti Papa menyuruhmu untuk memata-matai ku, kan?" tuding Raisa.


"Iya, karena Paman Devan lebih percaya padaku," jawabnya tersenyum.


"Sepertinya aku yang harus menjauh darimu," ujar Raisa mempercepat langkahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Raisa lebih cocok dengan Rayi atau Eza?


Kalian tim yang mana?


__ADS_2