
Matahari belum terbit, Eza melajukan kendaraannya ke rumah Devan Artama. Begitu sampai, sinar sudah menyinari bumi. Eza berkali-kali menekan tombol rumah.
Tak lama seorang pelayan wanita muncul. "Cari siapa, Tuan?"
"Nona Raisa," jawabnya.
"Nona Raisa dan keluarganya sejam yang lalu berangkat ke bandara."
Eza melihat jam tangan, "Kalau boleh tahu keberangkatan pukul berapa?"
"Delapan, Tuan."
"Terima kasih," ujar Eza tersenyum.
"Sama-sama, Tuan."
Eza bergegas ke mobilnya dan meluncur ke bandara, ia terus melihat arlojinya. Ia berharap dapat bertemu dengan Raisa. Ia tak peduli jika Presdir memarahi dirinya.
Jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi. Namun, ditengah perjalanan ia harus terjebak macet. Eza mulai gelisah, sudah hampir 30 menit mobilnya ia kendarai berjalan lambat.
Berkali-kali ia melirik arlojinya, tepat pukul 8 pagi Eza tiba di bandara. Ia berlari kecil seketika langkahnya terhenti melihat Devan berjalan mengenggam tangan istrinya yang sesekali menghapus air mata.
Eza hanya memandangi kedua pasangan paruh baya itu dari kejauhan. "Aku terlambat!" batinnya.
Dengan langkah gontai, ia melangkah meninggalkan bandara. "Ini semua salahku, harusnya aku tidak membawa Kirani," gumamnya saat berada di dalam mobil.
-
Lita sudah berada di apartemen Eza, ia berkali-kali menghubungi artisnya namun tak ada jawaban.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Eza muncul dengan wajah ditekuk.
"Kau dari mana saja? Kita ada meeting lagi," ujar Lita.
"Bisakah ditunda," jawabnya lesu.
"Kita sudah dua kali menundanya, Za. Kau sebenarnya kenapa?"
"Raisa pergi ke luar negeri, aku tidak bisa bertemu dengannya lagi," Eza menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Bagus dong Nona Raisa pergi, bukankah itu memang keinginanmu?"
"Aku harus bagaimana, Kak?"
"Aku tidak tahu," Lita menaiki kedua bahunya.
"Kak, tolong aku. Bagaimana caranya bisa bertemu dengannya lagi?" rengeknya.
"Adakah usulan lainnya?"
"Ada, kau bicara saja langsung pada Presdir. Menarik Nona Raisa kembali ke sini."
"Bagaimana bisa bicara dengannya? Melihatku saja, rasanya dia ingin memukulku," ujar Eza.
"Tapi, Presdir memang pantas memukulmu karena sudah mempermainkan hati putrinya," ungkap Lita.
"Kakak bukannya membelaku," protes Eza.
"Aku pernah bilang padamu, jangan sampai menyesal. Sekarang lihatlah, dia pergi. Ku berharap semoga Nona Raisa menemukan pria yang sangat mencintainya, bukan sepertimu yang sebenarnya suka tapi tidak mengakuinya."
__ADS_1
"Iya, sekarang aku sadar bahwa ku memang menyukainya," ujar Eza.
"Kamu sudah mengkhianati hubungan kita, Za." Kirani yang sedari tadi berdiri dan mendengar percakapan sang artis dengan manajernya.
Lita tersenyum sinis, melihat kedatangan Kirani.
"Maafkan aku, Rani!" Eza berdiri menghadap kekasihnya itu.
"Kamu tega, Za. Ku pikir dirimu pria yang setia, ternyata sebaliknya," Mata Kirani mulai berkaca-kaca.
"Harusnya kau sadar dengan kata-katamu itu," sahut Lita.
"Maksud Kakak apa?" tanya Kirani.
"Kau meninggalkan Eza saat masih merintis, sekarang dia sudah semakin terkenal kau datang dan mendekatinya. Jika kau memang mencintai Eza seharusnya memperjuangkannya. Bukan memilih pria lain dan akhirnya disakiti lalu kembali lagi," ungkap Lita menuangkan kekesalannya.
Eza memilih diam, sementara Kirani sudah merasa kalah.
"Yang tidak setia kau atau Eza?" tanya Lita menatap Kirani.
"Za, kamu bilang sangat mencintaiku." Kirani menatap sendu.
"Itu dulu sebelum kau meninggalkannya!" sahut Lita.
"Za, katakan padaku. Apa kau mencintai wanita itu?" Kirani bertanya lantang.
Eza masih diam.
"Eza, katakan!" teriak Kirani.
__ADS_1
"Iya, aku jatuh cinta padanya!" Eza berkata lantang.