Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Kembali Bergabung


__ADS_3

Seisi gedung Arta Fashion mendadak heboh karena kehadiran Clarissa Ayumi. Model yang sudah membuat beberapa karyawan menjadi stres karena menolak kontrak kerja sama. Mereka harus mencari model pengganti yang sesuai dengan kriteria Presdir namun tak ada satu nama pun yang cocok.


Seluruh karyawan merasakan angin segar dengan hadirnya Clarissa kembali, mereka tak perlu repot menghadapi tingkah aneh Presdir. Tentunya, dengan kembalinya sang artis bonus mereka bertambah.


"Presdir sudah menunggu anda," Hilman menyambut Clarissa dengan senyuman di depan pintu masuk gedung.


Mereka berempat berjalan beriringan menuju ruangan khusus tamu Presdir. Karena Devan hanya menerima tamu di ruangan khusus bukan di ruang kerjanya.


Rey yang mendengar kabar Clarissa kembali menjadi senang, setidaknya ia masih melihat wajah wanita itu meski hatinya tak bisa ia miliki.


Kini kelimanya sudah berada di ruangan yang sama. Hilman menyerahkan kontrak kerja kepada Clarissa. "Silahkan dibaca, Nona!"


Clarissa segera menandatanganinya tanpa membacanya, ia menyerahkannya kembali kepada Hilman membuat kedua temannya saling pandang.


"Anda tidak membacanya dahulu, Nona?" tanya Hilman lagi.


"Tidak, aku percaya dengan Presdir. Dia akan memberikan sesuai yang ia katakan," jawab Clarissa tersenyum menatap Devan.


"Baiklah kalau begitu, Nona!" ucap Hilman. "Kita bisa mulai melakukan pemotretan dua hari lagi, pagi ini kami akan mengenalkan edisi terbaru," lanjutnya.


"Baiklah," ujar Clarissa.


"Saya yang akan..." ucap Hilman namun di potong.


"Aku yang akan menemaninya," Devan menawarkan diri.


"Presdir yang akan menemani anda ke bagian produksi," tutur Hilman.


"Dengan senang hati," ucap Clarissa semangat.


Ditemani Devan, Clarissa dan Yuna berkeliling ke ruangan produksi. Melihat proses pembuatan hingga bahan kain yang digunakan, sebelumnya ia melakukan hal yang sama namun ditemani Hilman atau karyawan lainnya, Presdir tak pernah ikutan.


Selesai berkeliling, Clarissa dan kedua temannya pamit untuk melanjutkan pekerjaannya di tempat lain.


Sedangkan Devan kembali ke ruang kerjanya. Ia membuka ponselnya dan melihat foto kalung yang sengaja ia ambil beberapa hari yang lalu.


"Aku harus melupakan gadis kecil itu dan mulai serius dengan Clarissa," gumamnya. "Seandainya aku bertemu dengannya, ku cuma ingin berterima kasih!" batinnya.


-


Hilman menyempatkan diri makan siang bersama kekasihnya. Sesampainya di sana ia meminta maaf kepada wanita yang ia kenal dua tahun yang lalu karena membuat kencan kemarin berantakan dan menyampaikan kabar gembira.


"Aku sudah bisa tidur dengan nyenyak nanti malam," ucapnya dengan semangat.


"Apa mereka sudah jadian?"


"Aku tidak tahu, tapi ku melihat wajah Presdir begitu bahagia dan senang," jawab Hilman.


"Baguslah, itu artinya waktu berkencan kita tak ada gangguan."


"Ya, kau benar. Semoga saja tidak ada masalah baru yang membuat Presdir bersedih," ucap Hilman menunduk.


"Semoga saja, karena aku tak mau kau selalu meninggalkan ku seorang diri."

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud meninggalkanmu tapi ini tentang pekerjaan," ungkap Hilman.


"Iya, aku tahu. Semoga Presdir selalu bahagia, kalau begitu kapan kau akan melamarku?"


"Hah!"


"Kenapa terkejut? Aku butuh kepastian darimu!"


"Tapi, Presdir.."


"Kau menunggu Presdir menikah baru melamarku?"


"Bukan begitu, tapi apa kau mau kalau kita lagi berduaan Presdir meneleponku dan di suruh menemaninya?" Hilman menatap kekasihnya itu.


"Kau harus menyuruh Presdir menikah," ucapnya.


"Ya, kau benar. Ku harus bisa merayu Presdir untuk menikah, tapi dengan siapa dia menikah?"


"Aku mana tahu, kau kan sekretarisnya. Pasti tahu dengan siapa dia lagi dekat," jawabnya.


"Aku akan mencobanya nanti," ucap Hilman tersenyum.


...****************...


Pemotretan kembali dilakukan di gedung Arta Fashion. Clarissa kali ini ditemani Raya, saudara tirinya. Kebetulan ia berada di kota ini karena ada urusan pekerjaan dengan Hiko Andreas.


Raya begitu penasaran dengan Arta Fashion, makanya ia menyempatkan diri menemani Clarissa melakukan pemotretan. Hal itu membuat sang model senang, akhirnya ia dan Raya semakin dekat. Walau anak tirinya ibunya itu, masih terlihat ketus dan angkuh.


Mereka berempat memasuki area gedung dan langsung menuju ke studio, tak lama kemudian Devan datang menghampirinya. Clarissa melemparkan senyumnya kepadanya.


"Pagi juga!" Clarissa tersenyum manis.


"Jadi, dia pemilik Arta Fashion?" bisik Raya di telinga Clarissa.


"Iya," jawab Clarissa.


"Kenalkan nama ku Raya!" Ia menyodorkan tangannya, namun hanya ditatap saja oleh Devan.


"Hmm, Presdir dia ini saudara saya. Raya anaknya Paman Ardian," jelas Clarissa.


"Sudah tahu, aku akan kembali lagi!" Devan berlalu begitu saja tanpa menyambut uluran tangan Raya.


Hal itu membuat kedua teman Clarissa tersenyum mengejek.


"Kenapa kalian tersenyum?" protes Raya melihat ke arah Yuna dan Tina.


"Presdir takkan mau, bersalaman dengan wanita sombong!" ucap Tina berbohong.


"Apa kau bilang?" Raya menatap kesal.


"Raya, bukan begitu. Presdir memang tidak bisa bersalaman dengan orang lain. Dia alergi kuman," jelas Clarissa.


"Jadi kau menuduhku membawa penyakit?" Raya tak senang.

__ADS_1


"Bukan begitu, tapi memang dia penyuka kebersihan. Jika bersentuhan dengan orang lain, reaksi tubuhnya akan berubah," Clarissa menjelaskan lagi.


"Kenapa kau tahu?" Raya penasaran.


"Aku tak sengaja pernah memegang pipinya, wajahnya langsung berubah. Seluruh karyawan di sini juga sudah tahu," jelas Clarissa lagi.


"Oh, begitu." Raya baru paham.


"Jadi aku harap kau memakluminya," ucap Clarissa.


"Ya," jawab Raya mengangguk.


Clarissa sedang bersiap-siap, wajahnya dan rambutnya lagi di rias. Kini ia sudah berada di depan kamera dan mulai bergaya.


Raya duduk sambil melihat dari kejauhan aktivitas saudaranya itu. Rey juga hadir melihat jalannya pemotretan, ia berdiri di depan Raya.


"Apa kau bisa minggir?" tanya Raya.


"Berdirilah, Nona!" jawab Rey.


"Tuan, kau menghalangi pandanganku!" protes Raya.


Rey menoleh ke belakang, "Kau sepertinya bukan karyawan sini!"


"Ku bukan karyawan di sini, aku saudara Clarissa!" ucap Raya berdiri.


"Ternyata, Clarissa punya saudara juga."


"Kau siapa?" tanya Raya.


"Kau tidak perlu tahu!" Rey berlalu meninggalkan studio foto.


"Dasar pria menyebalkan!" batin Raya geram.


Devan duduk di kursi khusus memperhatikan jalannya pemotretan, ia terus menatap wanita yang sedang melakukan pekerjaannya.


Selesai pemotretan, Hilman menghampiri Clarissa. "Nona, anda diminta Presdir menemuinya di restoran biasa!"


"Aku akan ke sana!" ucap Clarissa.


Clarissa pergi ke restoran di antar sopir sementara itu kedua temannya dan Raya menunggu sopir kembali ke Arta Fashion.


"Clarissa memangnya ke mana?" tanya Raya.


"Dia ada urusan," jawab Yuna.


"Urusan apa?" Raya bertanya lagi.


"Jangan banyak bertanya, terserah dia mau apa!" omel Tina.


"Kenapa kau yang sewot?" Raya menatap sinis Tina.


"Kau saja yang terlalu ikut campur urusan orang lain," jawab Tina.

__ADS_1


"Kalian, jangan ribut!" sentak Yuna. "Ini kantor orang lain, kalian mau Clarissa dipecat!" ucapnya lagi dan keduanya memilih diam.


Tak lama kemudian sopir Clarissa datang, ia mengantar Raya kembali ke hotel lalu mengantar Tina dan Yuna ke apartemen.


__ADS_2