Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Beri Kesempatan Lagi Untukku


__ADS_3

"Tuan, yakin mau pulang?" Hilman bertanya.


"Ya."


"Sepertinya itu mobil Tuan Harlan," Hilman mengarahkan matanya ke mobil yang baru saja terparkir.


Devan pun juga melihat lalu berkata, "Mau apa dia di sini?"


"Saya tidak tahu, Tuan."


"Aku akan turun, ku ingin pastikan untuk apa dia ke sini," Devan turun ketika Harlan berjalan meninggalkan mobilnya.


Ia tetap mengikuti langkah kaki pria yang tingginya hampir sama dengannya memiliki wajah blasteran Eropa dan Asia.


Harlan berhenti tepat ketika Clarissa hendak berjalan ke luar dari hotel di pinggir pantai tempat lokasi syuting iklannya.


Keduanya saling bertegur sapa dan tersenyum. Pria itu menawarkan Clarissa untuk pulang bersama. Namun, belum sempat menjawab Devan muncul diantara keduanya.


"Devan!" Clarissa tampak terkejut melihat kehadirannya.


"Kenapa kau di sini?" tanya Harlan heran.


"Aku ke sini untuk menjemput Clarissa," ia menarik tangan wanita itu.


"Van, aku sudah berjanji dengannya lebih dulu!" ucap Harlan.


Devan menghentikan langkahnya lalu menatap Clarissa. "Apa yang dikatakannya benar?"


Clarissa mengangguk pelan membuat Devan melepaskan genggamannya.


Harlan mendekati keduanya lalu berucap, "Aku sudah katakan padamu siap mengejarnya."

__ADS_1


Devan mengepalkan tangannya rasanya ingin menghajar temannya itu.


"Ayo, aku antar pulang!" ajak Harlan melihat Clarissa dan wanita itu mengiyakan. Keduanya lalu berjalan ke arah mobil.


Devan melepaskan pukulannya ke udara karena ia kalah dari Harlan.


Hilman yang berdiri di dekat mobil melihat Clarissa berjalan dengan Harlan. "Kenapa tidak dengan Presdir?" tanyanya dalam hati.


Devan berjalan ke mobilnya dengan wajah ditekuk dan tampak kesal.


"Tuan, kenapa Nona berjalan dengan Tuan Harlan?"


"Jangan banyak bertanya, cepat jalan!" perintahnya dengan lantang.


"Baik, Tuan!" ucap Hilman gugup.


......................


Devan terpaksa menerima keinginan Harlan. Sepanjang rapat keduanya bukan fokus mendengar penjelasan karyawannya tentang produk dan konsep iklan yang akan dibuat, mereka malah sibuk memperhatikan Clarissa.


Selesai rapat, Hilman memanggil Clarissa untuk bertemu dengan Presdir.


"Aku akan menemuinya," Clarissa berjalan mengikuti langkah Hilman ke ruangan kerja Presdir dan membuka pintu untuk dirinya.


"Silahkan, Nona!" Hilman mempersilakan Clarissa lalu menutup kembali pintu.


Kini keduanya berada di ruangan yang sama. Devan melemparkan senyumnya kepada Clarissa.


"Ada apa?" tanyanya ketus.


"Apa kau sudah menerima hadiah dariku?"

__ADS_1


"Sudah, terima kasih!" jawabnya membuang wajahnya.


"Rissa, ku tahu kau masih marah padaku. Aku sudah mendengar penjelasan dari Ibumu dan Rey," pria itu berjalan mendekati Clarissa yang berdiri.


"Lalu setelah kau tahu?" Clarissa menatap wajah Devan.


"Aku minta maaf," ucapnya lirih. "Rissa, aku ingin mengulang kembali," lanjutnya.


Clarissa tersenyum sinis, "Semua sudah terlambat!"


"Terlambat? Apa kau sudah memiliki pengganti ku?" cecar Devan.


"Bukan urusanmu, aku punya penggantimu atau tidak."


"Rissa," Devan mengeluarkan cincin dari kantong celananya. "Aku selalu membawa ini, aku janji akan melindungi dirimu," ungkapnya.


"Aku tidak bisa, Van. Oma tidak merestui hubungan kita, apa lagi ayahku yang menculik dirimu."


"Orang tuaku sudah memaafkannya, aku juga sudah menjelaskan pada Oma. Aku tidak peduli dengan omongan orang lain tentang dirimu. Aku mencintaimu, Clarissa!"


"Aku belum bisa, Van. Maaf!" Clarissa hendak berlalu.


"Rissa, beri kesempatan lagi untukku!" pinta Devan.


"Sepertinya kau harus berkerja keras mengejarku!" Clarissa meninggalkan ruangan Devan.


...ΩΩΩΩΩΩ...


Mohon Tinggalkan Like...


Komentar Baik Kalian Penyemangat Aku...

__ADS_1


__ADS_2