Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.11-Eza Vs Devan


__ADS_3

Begitu sampai, Eza masih menggendong tubuh Raisa ke dalam rumah. Oma Claudia yang melihat cucunya digendong bergegas menghampiri.


"Kenapa kamu?" Claudia tampak khawatir.


"Raisa hanya terkilir saja, Oma!" jawabnya.


"Apa orang tua kamu tahu?" tanya Claudia lagi.


"Jangan beritahu mereka, Oma. Nanti Papa khawatir," larang Raisa. "Ini hanya perlu dipijit saja," lanjutnya.


"Nona, Oma, saya pamit ke hotel," ujar Eza.


"Terima kasih, Za." Raisa menatap pria sembari tangannya memegang kakinya.


"Terima kasih telah membantu cucu saya," ujar Claudia.


"Sama-sama, Nona, Oma. Permisi!" Eza pun pamit pulang.


-


Hotel Lala Kota B


"Bagaimana kondisi Nona Raisa?" tanya Lita.


"Baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Eza santai. "Aku mau istirahat, jangan diganggu!" lanjutnya lagi.


"Ya."


......................


Matahari baru saja terbit tapi para kru sudah sibuk untuk melakukan syuting hari ini.


Eza terbangun ketika suara gedoran pintu dan ponselnya yang saling bersahutan.


Dengan wajah kesal, Lita menatap Eza. "Lama sekali!"


"Maaf, Kak. Syuting juga belum mulai," ujarnya santai.


"Cepat sedikit!" titah Lita. "Nona Raisa sudah menunggumu," lanjutnya.


-


Jarum menunjukkan pukul 8 pagi, Eza belum juga datang. Para kru mulai khawatir, jika syuting akan ditunda lagi.


Tak lama kemudian, Eza datang berjalan santai tanpa peduli terhadap kesalahan yang ia lakukan.


"Anda lama sekali!" omel sutradara.


"Kita mulai sekarang saja, tak perlu berdebat lagi," Raisa mencoba tidak memperpanjang masalah.


"Baiklah, Nona. Ayo, kita mulai sekarang!" titah sutradara.


Empat jam kemudian syuting dan pemotretan berakhir. Seluruh kru dan karyawan sibuk menyusun peralatan syuting dan foto untuk dibawa kembali ke Kota A.


"Nona, mohon maaf. Saya tidak bisa mengantar anda kembali ke Kota A karena ada urusan di kota ini," ujar asisten Raisa.


"Tidak apa-apa, biar saya sendiri saja."


"Bagaimana jika digantikan oleh teman saya?" tawarnya.


"Tidak usah, saya bisa sendiri."


"Terima kasih, Nona. Sekali lagi, maaf!" Asisten pun berpamitan.


Lita yang mendengar percakapan antara Raisa dengan karyawannya menghampirinya. "Bagaimana kalau Nona pulang bersama Eza saja?"


"Tidak usah, Kak. Saya bisa mengendarai mobil sendiri," tolaknya.


"Nona perjalanan kita cukup jauh," ujar Lita.


"Nanti saya pelan-pelan dan berhati-hati," Raisa berucap.


"Baiklah kalau begitu, Nona." Lita pun pergi meninggalkan Raisa.


Setelah mengobrol di Raisa, Lita menghampiri Eza yang sudah menunggunya di mobil.


"Kakak dari mana saja? Ayo, kita pulang sekarang!" ajaknya.

__ADS_1


"Kau pulang dengan Nona Raisa saja!" usul Lita.


"Kenapa harus bersama dia?"


"Dia menyetir sendiri, apa kau tidak kasihan?"


"Kemana sopirnya?"


"Lagi ada urusan," jawab Lita.


"Sudahlah biarkan saja, lagian juga dia bisa menyetir," ujar Eza.


Lita menarik tangan Eza agar keluar dari mobilnya. "Cepat antar Nona Raisa pulang, ini kesempatan bagus untukmu dekat dengannya."


"Tapi, aku tidak mau dekat dengannya. Ku tidak menyukainya," tutur Eza.


"Baiklah, jika kau tidak menyukainya tapi aku minta tolong bantu temani dia," pinta Lita.


"Iya, ya, aku akan menemani dia sampai ke Kota A," Eza turun dari mobilnya dan mendatangi wakil Presdir Arta Fashion.


Raisa yang hendak masuk ke dalam mobilnya, melihat Eza menghampirinya. "Ada apa, Za?"


"Mari ku temani Nona pulang," ajak Eza.


"Bukankah mobilmu di sana?"


Eza tak menjawab, malah merampas kunci yang dipegang Raisa, "Cepat masuk!"


Raisa menuruti permintaan pria itu.


"Selama perjalanan, ku tidak mau kau tidur!" Eza mengingatkan.


"Kenapa?"


"Aku bukan sopirmu, kalau bukan karena Kak Lita yang memaksaku. Ku tak mau menjadi sopir cadangan seperti ini," jelas Eza.


"Kalau begitu, silahkan kamu keluar!" usir Raisa.


"Kau mau ditolong malah menolak!"


"Aku bisa sendiri, cepat keluar!"


Eza keluar dari mobil Raisa, saat turun ia melihat mobil Lita sudah pergi. Ia lalu mengetuk pintu mobil Raisa.


"Ada apa?" Raisa menurunkan kaca jendelanya.


"Aku bisa menumpang mobilmu," mohonnya.


"Tidak bisa!" tolak Raisa.


"Nanti kau boleh tidur saat ku menyetir," ujar Eza.


"Ya, sudah. Masuk!"


Eza pun masuk ke mobil lalu melesat.


Di tengah perjalanan, Raisa memilih tidur karena sangat mengantuk. Ia tidak peduli dengan omelan yang akan di terimanya dari mulut Eza.


Sesampainya di kota tujuan, Eza membangunkan Raisa. "Hei, kita sudah sampai di perbatasan. Kau mau aku antar ke rumah atau ke kantor?"


"Rumah saja, kepalaku sangat pusing sekali!" jawab Raisa.


"Ya, sudah!" Mobil pun melaju ke kediaman Devan Artama.


Begitu sampai, Eza lebih dahulu turun lalu ia membuka pintu buat Raisa.


Wanita itu turun, pandangannya sedikit gelap tanpa sadar tubuhnya hampir terjatuh beruntung Eza dengan cepat menangkapnya.


"Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Eza.


Wajah Raisa tampak pucat, ia tak mampu menjawab pertanyaan pria itu.


"Kenapa kau menyentuh putriku?"


Suara lantang dan kuat mengejutkan Eza membuatnya segera melihatnya. "Hm, Presdir. Nona Raisa sepertinya sakit," ucapnya ketakutan.


"Biar aku yang membawanya," Devan mengambil alih memapah putrinya. "Kau ikut aku ke rumah!" perintahnya.

__ADS_1


"Baik, Presdir!" Eza mengikuti langkah Devan ke dalam rumah.


Setelah Raisa di bawa ke kamar dan dipanggilkan dokter. Devan menemui Eza yang menunggunya di ruang tamu.


"Kenapa kau bisa satu mobil dengan putriku?"


"Sopir Nona Raisa izin tak bisa mengantarnya pulang karena ada urusan di Kota B."


"Lalu kenapa bisa sakit begitu, apa kau sudah membuatnya seperti itu?" cecar Devan.


"Bukan, Tuan Presdir. Nona Raisa sudah mengeluh sakit kepala," jawabnya.


"Awas saja kalau sakitnya putriku ada hubungannya dengan kau. Aku tidak akan segan mencari keberadaanmu!" ancam Devan.


"Iya, Tuan. Sakitnya Nona Raisa tidak ada hubungannya dengan saya," ujar Eza.


"Ya, sudah. Pergi sana!" usirnya.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan!" Eza berdiri.


"Tunggu, Za. Kamu mau ke mana?" tanya Clarissa menghampiri dua pria tersebut.


"Saya mau pamit pulang, Tante!" jawabnya.


"Mari kita makan malam bersama," ajak Clarissa.


"Sayang, kenapa mengajak dia makan bersama kita sih?" Devan tak suka.


"Sayang, Eza sudah menolong putri kita. Bagaimana jika Raisa sendirian membawa mobil dari sana dalam keadaan sakit seperti itu?" Clarissa menatap suaminya.


Devan tampak berpikir.


"Tante, biarkan saya pulang saja. Suamimu sangat kejam sekali," batin Eza.


"Ayo, Za. Kita makan malam bersama," ajak Clarissa.


"Maaf, Tante. Saya tidak bisa," tolak Eza ramah.


Clarissa mendekati Eza menarik tangan pemuda itu membuat Devan cemburu.


"Kau ini, kenapa memegang tangannya?" Devan menarik tangan Clarissa yang menyentuh tangan Eza.


"Maaf, sayang!" jawab Clarissa.


"Jangan diam saja di situ!" hardik Devan pada Eza.


"I..iya, Tuan." Eza terbata.


"Jangan bentak dia, sayang. Kasihan!" Clarissa mengelus dada suaminya.


"Aku kesal dengannya, malah memegang tanganmu," gerutu Devan.


"Presdir, istrimu yang pegang tanganku. Bukan aku!" batin Eza.


Eza mengikuti langkah kedua orang tua Raisa dari belakang.


Raisa memaksa makan bersama walau tubuhnya masih lemah, kini kelimanya menikmati makan malam bersama.


Devan terus memperhatikan Eza yang terlihat gugup dan grogi. "Apa makanannya tidak enak?"


"Enak, Tuan." Jawab Eza dengan cepat.


"Kenapa cuma dilihatin saja?" tanyanya lagi.


"Sayang, jangan seperti itu!" Clarissa mengelus punggung tangan suaminya.


"Dia seperti tidak berselera saja," omel Devan.


"Pa, jangan seperti itu pada tamu," celetuk Raisa.


"Papa tidak mengundangnya makan bersama kita, Mama kamu saja yang memaksanya," Devan ngedumel.


"Maafin Paman, Za!" ujar Clarissa.


"Hei, sejak kapan dia jadi keponakan ku?" protes Devan.


"Pa, jangan marah-marah saja. Ingat kesehatan," nasehat Darren.

__ADS_1


Mendengar nasehat putra keduanya, Devan berhenti mengoceh.


__ADS_2