
"Kenapa tidak mau?" tanya Devan.
"Aku tidak mengerti tentang pekerjaan itu."
"Aku bisa mengajarimu berbisnis." Devan memeluk Clarissa dari belakang.
"Apa Oma setuju jika aku membantumu?"
"Oma menyerahkan urusan perusahaan kepadaku."
"Baiklah aku mau tapi setelah kontrak ku dengan yang lain selesai," Clarissa menerima tawaran suaminya.
"Ya sudah, beristirahatlah. Besok pagi kita akan berangkat ke Cappadocia." Devan berjanji akan menyenangkan hati istrinya.
"Benarkah?" Clarissa menatap mata suaminya.
Devan pun mengangguk.
"Terima kasih," Clarissa memeluk suaminya dengan erat. Kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah Devan.
"Kau tidak minta penthouse, kan?"
"Untuk apa?"
"Agar kau tak iri dengan Lilia di layangan jatuh," jawab Devan.
"Memangnya kau ingin seperti pria di dalam drama itu," Clarissa terlihat cemberut.
"Tidak," Devan menggelengkan kepalanya.
Clarissa mendekap erat tubuh suaminya, "Jangan seperti itu, tetaplah setia padaku!"
__ADS_1
"Tidurlah," Devan mengecup kening istrinya.
Clarissa naik ke atas ranjang begitu juga dengan Devan, keduanya menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya dan tak lupa mematikan lampu.
......................
Pagi harinya selesai sarapan keduanya berangkat ke kota tujuan berikutnya mengunakan pesawat terbang.
Clarissa menggenggam erat tangan suaminya, saat mengunjungi kota yang sempat viral di media sosial. Seperti biasa Devan selalu membawa perlengkapan seperti masker dan sarung tangan. Agar terhindar dari kontak fisik.
Begitu sampai mereka mencari penginapan terdekat sebelum berangkat menuju kawasan yang terkenal dan balon udaranya itu.
"Ayo, kita naik itu!" Clarissa menarik tangan suaminya tapi Devan menolaknya. Dengan merengek-rengek, akhirnya suaminya itu mau diajak menaiki balon udara itu.
Keduanya melihat pemandangan kota dari atas balon udara, Devan tampak ketakutan membuat Clarissa tertawa geli melihat ekspresi suaminya.
Sementara itu di tanah air, Rey mengejar Raya yang cemberut karena selama makan malam tadi mamanya selalu menyindirnya.
"Tante Siska sangat membenci keluarga ku, lebih baik kita tidak perlu lagi berhubungan," ungkap Raya dengan mata berkaca-kaca.
"Kau mau menyerah begitu saja?"
"Capek Rey, bagaimana jika nanti kita menikah?"
"Aku akan berusaha memberikan pengertian pada Mama."
"Kapan Tante Siska bisa mengerti? Padahal aku dan kau juga sudah menjelaskan masa lalu itu salah paham," Raya berucap dengan berapi-api.
"Tolonglah bersabar," pinta Rey dengan lembut.
Raya akhirnya luluh dengan ucapan kekasihnya itu.
__ADS_1
...----------------...
Dua pekan di luar negeri menikmati liburan sekaligus bulan madu akhirnya Clarissa dan Devan pulang ke tanah air.
Sehari setelah sampai keduanya melanjutkan pekerjaannya kembali.
Clarissa dijemput kedua temannya dan sopir menuju lokasi syuting iklan yang ada di kota B.
Sementara itu Devan kembali menyeleksi model pengganti istrinya yang kontraknya telah berakhir.
Hilman menjelaskan beberapa nama model sesuai prestasinya dan paling berpengaruh untuk menaikkan penjualan.
"Aku serahkan pilihan kepadamu saja!" perintah Devan.
"Kenapa saya, Tuan? Bagaimana jika tak sesuai dengan keinginan anda atau Nyonya Fera?"
"Aku malas mencari dan memilih yang begituan, jadi menurutmu layak kita memakainya," ungkap Devan.
"Bagaimana jika kita libatkan Nona Clarissa dalam memilih?"
"Dia masih sibuk, beberapa pekerjaan harus ia selesaikan dalam dua bulan ini. Jadi kau saja yang memilihnya," titah Devan.
"Baiklah, Tuan. Tapi jangan salahkan saya jika tidak sesuai," ujar Hilman.
"Makanya kau harus benar-benar mencari yang sesuai dengan keinginan ku dan Arta Fashion!"
"Siap, Tuan!" Hilman berlalu dan mulai memeriksa laporan tentang calon model brand ambassador Arta Fashion di meja kerjanya.
Hampir dua jam mencari akhirnya ia memilih. "Ini saja!" melihat foto seorang wanita berusia 22 tahun.
......................
__ADS_1
Selamat Membaca 🌹