Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Nikita Vs Intan


__ADS_3

Dentuman musik menggelegar, Intan dan beberapa temannya begitu menikmatinya sambil berjoget penuh riang dan tawa. Sebuah tangan menarik rambutnya hingga dirinya tersungkur.


"Itu belum seberapa wanita murahan!" Nikita bersuara lantang. Membuat beberapa orang melihat ke arah keduanya.


Intan hanya menatap dan tersenyum tipis.


"Kau menantang ku lagi!" Ia menarik rambut Intan dan menggeret paksa.


Beberapa teman Intan menolongnya dengan memegang tangan Nikita, agar melepaskan genggamannya.


"Lepaskan dia, Nikita!" sentak teman Intan.


"Kalian ingin membela wanita murahan ini, hah!" bentaknya.


Intan berdiri setelah tangan Nikita lepas, sambil memegang rambutnya ia tetap tersenyum.


Nikita mendorong tubuh teman Intan yang menghalangi pandangannya. Dengan membabi buta ia menampar model Arta Fashion, membuat wanita itu mengeluarkan darah segar di sudut bibirnya.


Jepretan kamera merekam semua kelakuan buruk sang artis. Nikita yang menyadarinya, mengambil ponsel yang berani mengambil foto dan video dirinya lalu mencampakkannya.


"Dasar wanita gila!" bentak pemilik ponsel kesal.


"Aku bisa menuntutmu karena mengambil foto tanpa seizin ku!" ancam Nikita menunjuk wajah perekam.


"Aku juga menuntutmu balik!" wanita perekam tak mau kalah.


Intan yang sudah di jauhkan dari Nikita mengirimkan pesan kepada manajernya.


Sementara itu Nikita di paksa keluar oleh penjaga keamanan diskotik. "Nona, jangan cari keributan di sini!" sentaknya.


"Hei, beraninya kalian membentak ku!" menatap marah.

__ADS_1


"Anda sudah mengganggu tamu kami yang lainnya!"


Nikita mendengus kesal ia pun berlalu.


...----------------...


Esok harinya, Intan memasuki gedung Arta Fashion menggunakan kacamata hitam, memakai masker dan topi. Ia masuk ke dalam ruangan rapat tak lama kemudian Devan datang dengan wajah menyimpan marah.


Ia mencampakkan sebuah koran di meja tepat dihadapan sang model. "Sungguh memalukan!" dengan nada dingin. Membuat Intan, manajernya, Intan dan dua orang karyawan Arta Fashion ketakutan.


"Saya bisa jelaskan, Tuan!" ujar Intan.


"Kau memang harus jelaskan, kenapa bisa bermasalah dengan wanita itu?" dengan suara lantang.


"Dia yang mulai menjambakku, Tuan."


"Pasti ada alasan dia melakukan itu," ujar Devan mengebrak meja. "Kemarin ia datang ke sini dan hampir membuat istriku terjatuh!" lanjutnya.


"Aku tidak peduli masalah kalian, tapi ini menyangkut nama baik perusahaan. Apa lagi kau berada di diskotik, entah kenapa istriku masih memberikan kesempatan kepadamu!" Devan terus marah-marah.


"Maafkan saya, Tuan!" Intan merasa bersalah.


"Apa kau sudah membuat laporan?" tanya Devan.


"Sudah, Tuan!" jawab Intan.


"Siapkan konferensi pers dan dampingi dia dalam kasus ini!" perintah Devan kepada sekretarisnya untuk memberikan pengacara pada artisnya.


"Siap, Tuan!" ujar Hilman.


"Aku tidak mau kejadian ini terulang kembali!" Devan pun berlalu meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Devan kembali ruang kerjanya memijit pelipisnya. Ia menghubungi istrinya melalui panggilan video.


"Hai, sayang. Kenapa wajahmu murung sekali?" tanya Clarissa dari kejauhan.


"Artis pilihanmu itu membuat masalah!"


"Aku sudah tahu dan melihat video yang beredar itu. Menurutku Intan cukup sabar menghadapi wanita gila seperti Nikita," jawab Clarissa.


"Tapi, berita itu menggegerkan seluruh gedung!"


"Hal itu sudah biasa, video cukup jelas. Intan tak memberikan perlawanan, itu cukup kuat menjerat Nikita dalam jeruji besi," jelas Clarissa.


"Semoga saja kasus ini tidak membuat penjualan semakin menurun," harap Devan.


"Aku yakin dengan berita ini, penjualan akan semakin meroket karena masyarakat penasaran dengan produk yang ia iklankan, pastinya mereka akan membela Intan." Ujar Clarissa percaya diri.


"Bagaimana sebaliknya?"


"Sayang, istrimu ini pernah mengalami situasi seperti itu. Walau tidak mengalami kekerasan seperti yang dialami Intan. Ini adalah bisnis dan hiburan, jadi kasus yang dialami Intan menguntungkan bagi kita."


"Terserah kau saja, sayang!"


"Terpenting saat ini, kita tetap mengawal Intan agar mendapatkan keadilan," ujarnya.


"Ya, aku sudah menyuruh Hilman melakukan itu!"


"Syukurlah," Clarissa tersenyum.


"Ya sudah, aku mau kembali bekerja. Jangan lupa makan dan minum vitamin, I love you!"


"I love you, sayang!" Clarissa memajukan bibirnya kemudian menyelesaikan panggilan teleponnya.

__ADS_1


__ADS_2