
Seminggu setelah kedatangan Devan ke apartemen Clarissa, mereka tak pernah bertemu lagi. Hari ini wanita itu kembali datang ke Arta Fashion untuk pemotretan tas dengan warna yang berbeda.
Devan sengaja pergi ke studio agar bisa melihat Clarissa dan mempunyai kesempatan berbicara kepadanya. Dengan sabar pria itu menunggu Clarissa melakukan pekerjaannya.
Dua jam kemudian, pemotretan selesai. Devan berjalan menghampiri Clarissa yang sedang bersiap akan pulang.
"Kita perlu bicara!" Devan menatap Clarissa yang terlihat cuek.
"Jika itu urusan pekerjaan, bicara dengan Yuna saja!"
"Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan," ucap Devan.
Clarissa menatap Devan, "Lalu mau bicara apa?"
"Tentang kita!"
Clarissa tersenyum sinis. "Tidak ada kita lagi yang ada kau dan aku!"
Devan mencengkeram tangan Clarissa dan menariknya, "Ikut aku!"
"Hei, aku tak mau!" Clarissa melihat disekelilingnya.
Devan tak menghiraukannya, ia tetap memaksa dan memegang erat tangan Clarissa. Walau seluruh mata karyawan Arta Fashion memperhatikan keduanya, pria itu tidak peduli.
Devan mendorong tubuh Clarissa masuk ke dalam ruangannya dengan cepat ia mengunci pintu.
"Hei, kenapa di kunci? Kau mau apa?" Clarissa tampak ketakutan.
Devan melonggarkan dasinya dan membuka satu kancing bagian atas ia berjalan pelan mendekati Clarissa yang mundur. Devan menarik lengan bajunya hingga ke siku.
"Devan!" sentak Clarissa namun pria itu hanya diam dan terus mendekat.
"Bukankah kau dari awal menyukaiku?" Devan tersenyum menyeringai.
Clarissa berlari menerobos tubuh Devan, dengan cepat pria itu menarik pinggang Clarissa dan memeluknya.
"Lepaskan aku, Devan!" teriaknya.
__ADS_1
"Rissa, dengarkan aku!" teriak Devan lantang.
Clarissa terdiam dan gemetaran, matanya mulai berair.
Devan menangkup pipi Clarissa. "Tolong dengarkan aku!"
Clarissa mengangguk pelan.
"Aku minta maaf, aku tahu telah menyakiti perasaanmu. Tapi ku sungguh benar-benar mencintaimu!"
Clarissa mengeraskan tangisannya, "Kau jahat!"
"Huss...bisa tidak pelankan suara tangisanmu," Devan menghapus air mata Clarissa dengan jemarinya.
"Apa kau akan tetap memilihku meski aku bukan gadis kecil itu?" Clarissa menatap mata Devan.
"Aku akan tetap memilihmu meski kau bukan gadis itu," jawab Devan.
"Tapi, kenapa kau ingin menikahinya?"
"Awalnya aku berharap gadis itu yang ku temukan, tapi kau lebih dahulu merebut hatiku," ujar Devan. "Aku sudah jatuh cinta padamu sebelum menemui gadis itu," lanjutnya.
"Jangan menjauh dariku, menikahlah denganku!" pinta Devan.
Clarissa memeluk erat tubuh Devan dan menumpahkan kembali air matanya. Ia juga mengelap air yang keluar dari hidungnya di baju Devan.
"Kau jorok sekali!" Devan mendorong tubuh kekasihnya itu.
"Ini semua karenamu yang membuatku menangis," Clarissa memanyunkan bibirnya.
Devan menatap jijik pakaiannya yang basah karena air mata dan ingus Clarissa, ia pun menelepon Hilman untuk dibawakan kemeja dan dasi yang baru.
"Rapikan rambutmu dan hapus air matamu, jangan sampai Hilman salah paham dengan kita," ucap Devan kembali ke wujud aslinya.
"Biarkan saja!" ucap Clarissa ketus. "Aku mau pulang!" lanjutnya.
"Biar aku antar!" tawar Devan.
__ADS_1
"Tidak usah, pasti Yuna dan Tina masih menunggu di bawah," ucapnya dengan suara parau.
Tak lama setelah Clarissa pergi, Hilman membawakan pakaian yang di pesan Presdir. Ia pun mengganti pakaiannya dengan yang baru.
-
-
Kediaman Artama
"Oma, lusa aku akan bertemu dengan orang tuanya Clarissa!" ucap Devan sambil menikmati makan malam.
"Jadi, kau serius dengan dia?"
"Ya, aku serius dengan Clarissa."
"Oma, takut kalau Clarissa seperti ibunya," tutur Fera.
"Oma belum mendengar pengakuan dari ibunya Clarissa, kabar yang disampaikan Tante Siska benar atau tidak," ucap Devan.
"Oma hanya tahu dari Siska saja karena dia keponakan Opamu," jelas Fera.
"Aku hanya minta restu pada Oma," Devan menatap Oma Fera.
"Selama kau bahagia dengan pilihanmu, Oma merestui."
Devan tersenyum bahagia," Terima kasih, Oma!"
"Ya, Oma berharap wanita itu tulus mencintaimu dan tidak pernah menyia-nyiakan dirimu!" harap Fera.
"Aku yakin pilihanku ini tak salah," ucapnya percaya diri.
"Apa kau sudah memberi tahu Clarissa jika ingin bertemu dengan kedua orang tuanya?" tanya Fera.
"Belum, Oma. Nanti aku akan meneleponnya."
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa like/poin/komen/vote...
Terima Kasih