Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.19-Berita Eza Tersebar


__ADS_3

Devan sengaja menyodorkan ponselnya kepada putrinya saat di ruang kerja kantor. Dia tak mau memberitahunya ketika di rumah, yang ada istrinya akan membela lelaki itu dan putrinya.


"Apa ini, Pa?"


"Baca!" perintahnya lembut.


Raisa membaca dan tampak terkejut.


"Kamu lihat, Nak. Pria yang selalu kamu bela, memeluk calon istri orang lain," ujarnya.


"Pa, ini hanya gosip murahan dan salah paham saja."


"Kamu masih membelanya? Nama perusahaan kita jadi taruhannya, karena dia masih bernaung di sini!"


"Raisa akan bicara padanya," ujarnya.


"Ya, kamu memang harus bicara padanya. Jika kamu tidak mau biar Papa saja."


Raisa berdiri dari kursinya, "Biar Raisa saja, Pa!"


-


Hari ini tidak ada pemotretan, namun Eza tetap datang untuk menemui Raisa. Karena sejam yang lalu Hilman menghubungi manajernya.


"Silahkan duduk, Tuan Eza!" Raisa mempersilakan.


Eza pun duduk, di dalam ruangan khusus tamu Presdir hanya mereka berdua.


"Jelaskan padaku berita tentang hari ini!" Raisa menyilangkan kakinya dengan wajah tanpa senyuman.


"Berita yang mana, Nona?"


"Silahkan buka ponselmu!" perintahnya tanpa menatap.


Eza membuka ponselnya dan mengeraskan rahangnya.

__ADS_1


"Bisakah jelaskan sekarang?" pinta Raisa.


"Oh, wanita ini mantan kekasih saya," jawab Eza santai.


"Jadi, itu alasannya menolak ajakan ku." Batin Raisa.


"Nama wanita itu Kirani, saya sangat mencintainya. Namun, beberapa bulan yang lalu dia datang dan mengatakan kalau ingin menikah. Tapi, kemarin dia menangis lalu memelukku," jelas Eza dengan sengaja.


"Bukankah kamu tahu kalau dirimu adalah seorang artis? Dan wanita itu juga calon istri orang lain," Raisa berusaha tetap tenang walau hatinya sakit.


"Saya tahu pekerjaan yang saya jalani penuh konsekuensi, kehidupan pribadi di sorot media, ke mana-mana dikejar para penggemar. Bukankah ini sangat menguntungkan perusahaan?" Eza tersenyum menatap Raisa.


"Kamu tahu, kami memiliki brand ambassador artis yang tidak memiliki sensasi," ujar Raisa.


"Berita itu bukan saya yang buat, jadi kenapa Nona menuduh saya membuat sensasi?"


"Kamu tahu, dia adalah calon istri orang lain. Kenapa memeluknya?" tanya Raisa.


"Dia membatalkan pernikahannya, jadi bukan calon istri orang lain. Kami saling mencintai, memangnya kenapa berpelukan?" Eza balik bertanya.


"Jika Nona ingin berpelukan dengan kekasih anda, silahkan!" Eza tersenyum.


"Kenapa kamu jadi membahas tentang kekasihku?"


"Ya, karena Nona menyinggung tentang pelukan yang saya dan Kirani lakukan," jawab Eza.


Raisa berdiri dan merubah ekspresi wajahnya agar terlihat tidak terjadi masalah apapun. Ia berusaha bersikap tenang walau rasanya ia ingin menimpuk wajah pria yang ada dihadapannya itu dengan bantal sofa.


"Jadi, saya boleh pulang?" Eza berdiri dari tempat duduknya.


"Ya, dan katakan pada media yang sebenarnya. Agar seluruh penggemarmu tahu," jawab Raisa.


"Penggemar saya sudah tahu, kami memiliki hubungan. Mereka setuju saja, malah mereka sedih saat saya mengumumkan berpisah dengannya beberapa bulan yang lalu," ujar Eza.


Raisa tak bisa berkata-kata apa-apa lagi.

__ADS_1


"Apa saya sudah boleh pulang, Nona?" tanya Eza.


"Ya, silahkan!" jawab Raisa.


Eza pun pergi meninggalkan Raisa di ruangan. Seketika tubuh wanita itu lemah, ia terduduk di sofa sembari memijit pelipisnya.


"Benar yang dikatakan Mama, aku harus siap patah hati karena mencintai seseorang yang tidak pernah mencintaiku," batinnya.


-


Eza mengendarai mobilnya seorang diri, ia teringat ucapan yang dilontarkannya menyinggung hati Raisa. Semua ia katakan agar wanita itu menjauhinya, semua demi kebaikan karirnya.


Sesampainya di apartemen, Kirani sudah menunggunya dengan senyuman hangat. "Kamu dari mana saja dan kamu bilang tidak ada pekerjaan hari ini?"


"Aku dari Arta Fashion, berita pelukan kita di kafe tersebar," jawab Eza.


"Wah, bagus dong. Itu artinya kamu akan terkenal dengan berita ini," ujar Kirani bangga.


"Tapi bagi Arta Fashion sangat memalukan, beruntung mereka tidak memutuskan kontrak," jelas Eza. "Kamu kenapa di sini?" menatap mantan kekasihnya itu.


"Aku kangen sama kamu dan ingin berduaan denganmu. Oh, ya ini ada makanan yang ku masak khusus untukmu!" Kirani menyodorkan dua wadah makanan.


Eza mengambil wadah tersebut, "Terima Kasih."


Kirani tersenyum senang.


"Tapi, maaf Kirani aku tidak ingin ke mana-mana. Bisakah kamu meninggalkan aku sendirian, ku ingin beristirahat," ujar Eza.


"Za, kamu sakit?"


"Tidak, Rani."


"Kamu tidak biasanya seperti ini?"


"Rani, ku mohon tolong tinggalkan aku sendiri," jawab Eza.

__ADS_1


"Baiklah, Za." Kirani pun pergi dari apartemen Eza dengan lesu.


__ADS_2