Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Menyuruh Hilman


__ADS_3

Clarissa telah kembali ke tanah air, namun kabar pernikahan yang gagal masih saja terdengar. Beberapa wartawan masih saja menunggu penjelasan dari sang artis di bandara.


Ya, dua minggu ini Clarissa menikmati liburannya di Belanda. Ia sengaja untuk menenangkan diri sekaligus berkumpul dengan keluarga Raya di sana.


Claudia dan suaminya beserta ketiga anaknya juga pergi ke sana. Mereka menemani Clarissa yang sedang patah hati.


Kabar kepulangan Clarissa dari luar negeri muncul di berbagai media baik elektronik, cetak dan sosial.


Clarissa sampai menyewa pengawal untuk menghindari para pencari berita.


Hal itu tak luput dari pengamatan Devan, ia menyuruh Hilman untuk terus memantau kegiatan Clarissa baik dari media sosial maupun orang-orang sekitar sang artis.


"Hari ini Nona Clarissa akan menjadi bintang tamu di acara bincang-bincang di salah satu televisi swasta, Tuan!" lapor Hilman di ruang kerja Presdir.


"Segera temui dia untuk memajukan jadwal pemotretannya," perintah Devan.


"Baik, Tuan!" Hilman pun berlalu.


-


Tepat pukul 9 malam, Hilman mendatangi apartemen Clarissa. Ia menarik nafas perlahan berharap sang artis mau menuruti keinginan Presdir.


Ia mengetuk pintu, tak lama kemudian Yuna membukanya. "Hilman, ada apa ke sini?"


"Apa saya bisa bicara dengan Nona Clarissa?"


"Aku akan bicara dengannya, tunggulah di sini!" Yuna mempersilakan Hilman duduk di ruang tamu.


Tak sampai lima menit, Yuna muncul dengan Clarissa. Kedua wanita itu duduk di depannya. Tina juga ikut bergabung dengan ketiganya sembari menyodorkan secangkir teh.

__ADS_1


"Ada perlu apa?" tanya Clarissa.


Hilman menelan ludahnya, ia bingung harus berkata dari mana. Ia mengambil tisu yang ada di atas meja dan mengelap keningnya yang berkeringat.


"Kenapa diam saja? Cepat bicara!" perintah Tina.


"Saya ke sini untuk meminta Nona Clarissa kembali ke Arta Fashion besok hari," ucap Hilman menunduk tanpa berani menatap.


"Tidak bisa!" tolak Tina dengan lantang.


"Jadwal Clarissa dua hari lagi, kalian tak bisa mengubahnya," ucap Yuna.


"Presdir yang memintanya, Nona!" ucap Hilman.


"Pria itu sesuka hatinya saja!" gerutu Clarissa.


"Tidak bisa, besok saya mau beristirahat!" ucap Clarissa.


"Nona, tolonglah. Presdir akan marah besar pada saya, jika tak berhasil membawa anda," rengek Hilman.


"Maaf, Hilman. Saya tidak bisa!" tolak Clarissa.


"Sebulan ini Presdir selalu marah-marah, belum lagi beberapa hari yang lalu Tuan Devan jatuh sakit," jelas Hilman.


"Bisa juga dia sakit," sindir Clarissa.


"Nona, nasib saya ada di tangan anda!" Hilman menunjukkan wajah sedih.


Clarissa beranjak berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan Hilman di ruang tamu.

__ADS_1


"Nona!" panggil Hilman.


"Lebih baik kau pulang saja," ucap Tina.


"Apa kalian tidak kasihan padaku?" tanya Hilman memelas.


"Tidak!" ucap Yuna dan Tina serempak.


Hilman meninggalkan apartemen dengan langkah gontai, ia menelepon Presdir untuk mengatakan kalau Clarissa menolaknya.


"Dasar payah, hal begini tak bisa kau urus!" teriak Devan dari ujung teleponnya.


Hilman sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Kalau payah, kenapa tidak dia saja yang bicara?" protesnya dalam hati.


"Hilman, kau dengar aku?"


"Iya, Tuan."


"Usahakan besok dia harus datang," ucap Devan.


"Saya menyerah, Tuan!" ujar Hilman dengan nada lemas. "Tuan, dua hari lagi Nona Clarissa juga akan datang!" lanjutnya berucap.


"Tapi itu lama sekali," gerutunya.


"Apa Tuan begitu merindukan Nona Clarissa?" tanya Hilman.


"Jaga mulutmu itu!" sentak Devan.


"Baiklah, Tuan!" ucap Hilman, panggilan pun berakhir, "Dasar bos aneh, kemarin di lepas sekarang di kejar. Merepotkan saja!" omelnya.

__ADS_1


__ADS_2